
Kesekian kalinya Lisa deg-degan berada di area yang banyak anak sekolahnya. Dan saat Aris malah melempar pertanyaan soal kemana si Lisa ke Giri, itulah waktu yang paling membuatnya resah, gelisah, dan tidak tenang.
"Daripada Sera, mending tanya aja Giri. Bukannya dia adiknya Lisa." Aris mengatakan hal dengan akurat. Itu membuat Lisa berdecih karena keakuratannya dari balik masker.
Semua menoleh pada Giri yang sejak tadi tidak peduli Lisa ada atau tidak.
"Ngapain pada nyariin Lisa, sih? Aku jeles nih ... " Arka yang paham posisi Lisa langsung nyeletuk. Dia memangkas kesempatan Giri bicara soal Lisa.
"Eh, bener. Yang jadi cowoknya kan Arka. Kenapa pada nyariin Lisa ya ..." Nero langsung berkomentar. Dialah biang awal pada nyariin. Semua langsung menyudutkan Nero.
"Karena yang jadi emaknya kita ya, Lisa itu. Jadi kangen dong kalau dia enggak ada saat semuanya pada ngumpul begini. Secara Arka kan cowoknya Lisa. Masa iya itu anak enggak muncul." Nero membela diri.
Saat semuanya bicara soal gadis bernama Lisa, Allen yang sejak tadi berusaha mendengarkan mulai penasaran dengan gadis yang di pertanyakan kehadirannya oleh semua.
Lisa masih tetap waspada. Sementara itu Giri yang tidak punya kesempatan buat bicara, melirik ke arah Allen dan Lisa. Merasa aneh karena dua cewek ini diam saja.
"Lisa sudah kirim pesan ke aku enggak bisa datang ke pertandingan awal ini. Mungkin lain kali dia akan datang buat nonton." Arka mulai menciptakan kebohongan demi kebaikan kekasihnya. Bola mata Lisa melirik Arka dengan binar-binar rasa terima kasih.
"Mungkin saja dia menyelesaikan kerja sambilannya malam ini," kata Giri menambahi.
"Ya. Dia kerja sambilan sepertinya." Arka langsung setuju.
"Tuh anak kenapa rajin bener," kata Aris.
"Karena Lisa enggak mau nyusahin keluarganya," sahut Sera menimpali. Giri senyum.
"Ya. Dia nggak mau nyusahin aku," imbuh Giri asal.
"Bukannya kamu yang sering nyusahin Lisa, Gi?" seloroh Sabo.
__ADS_1
"Eh, begitu ya ... Hehehe ..." Giri cengengesan. Lisa menipiskan bibir seraya melipat bibir. Tanpa sadar, Giri melihat ke arahnya juga. Seakan tahu kalau di balik masker, bibir Lisa mencebik. Lisa langsung melihat ke yang lain lagi.
Peka banget, tuh bocah.
Setelah keributan tadi, semua pada pergi dari sana.Tinggalah mereka berdua. Allen dan Lisa.
"Lisa itu ceweknya kak Arka ya?" celetuk Allen yang sejak tadi terdiam sebagai pendengar. Lisa kaget. Arka tergelak.
"Kenapa kak Arka ketawa?"
"Kamu nguping, ya?" tebak Arka.
"Tadi ngomongnya keras kok. Nggak nguping pun pasti kedengaran," cicit Allen tidak setuju di tuduh menguping. Sebenarnya Arka bukan tergelak karena Allen, tapi itu karena Lisa yang tersentak kaget karena pertanyaan gadis itu.
"Ya. Dia cewekku. Kenapa?"
"Sejak tadi pada ribut tanya keberadaannya. Pasti orangnya asyik ya?" Allen mulai penasaran dengan orang di balik nama tersebut. Padahal gadis itu berada tepat di sampingnya.
"Wahhh ... jadi tambah penasaran sama gadis itu." Sepertinya Allen takjub dengan sosok Lisa yang di gambarkan Arka. Lisa mengalihkan pandangan ke arah lain seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Arka kembali tersenyum. "Kapan-kapan kenalin aku dengan pacar kak Arka, ya. Kalau sekarang aku sudah mengenal kak Yora yang jadi tunangan kak Aksa. Selanjutnya pacar kak Arka itu. Trus kalian double date. Jadi klop deh."
Allen senang dengan rencananya ini. Namun berbeda dengan Lisa yang menjadi Yora. Karena apa, tidak mungkin Yora dan Lisa muncul dalam satu waktu. Karena sekarang Lisa adalah Yora. Yora adalah Lisa.
"Semoga keinginanmu terkabul. Jadi aku bisa membawa Lisa ke hadapanmu." Arka menepuk lengan Allen.
"Kenapa Kak Yora diam saja sih? Kan aku jadi kayak bareng patung." Sekali lagi, Allen memang punya mulut yang suka berterus terang.
"Jaga bicara kalau ngomong sama Kak Yora, Allen," sergah Arka.
"Iya. Sori ya Kak Yora. Habisnya kak Yora kayak mengabaikan aku karena diam terus," rajuk Allen.
"Enggak apa-apa. Aku yang minta maaf karena membuat suasana enggak asyik."
__ADS_1
"Jangan terlalu di dengarkan kalau Allen lagi ngomong ngawur. Sebenarnya dia baik." Arka berusaha menenangkan.
"Aku mengerti," sahut Lisa santai.
"Kalian ini baru kenal saat makan malam di rumah itu, kan? Kok kelihatan sudah kenal lama?" tanya Allen yang heran bicara mereka berdua sangat lancar. Terlihat natural.
"Memang. Memang salah kalau aku bisa lancar bicara dengan dia?" Arka ambil alih bicara.
"Enggak juga. Hanya merasa aneh aja. Padahal kak Yora kalau ngomong sama kak Aksa itu ketus dan kaku, tapi saat bicara dengan kak Arka barusan, terdengar lembut," tutur Allen.
Insting gadis ini tajam juga. Mirip Giri.
"Mungkin itu karena Aksa tidak benar-benar ingin menjadi tunangan Yora." Arka berpendapat dan bermaksud menyembunyikan fakta soal Yora palsu di depannya.
***
Pertandingan Arka berjalan. Mereka berdua hendak kembali ke tribun, tapi sebuah telepon dari ponsel Allen mencegah mereka.
"Ya! Ada apa Kak Aksa?!" Karena suara gedung olahraga yang sangat ramai, Allen perlu sedikit berteriak saat menjawab telepon.
Lisa yang berdiri di samping Allen menoleh cepat. Nama Aksa bagai sebuah horor baginya.
"Kak Yora?! Ya! Dia sedang bersamaku! Ya, nonton basket!" kata Allen seraya melihat ke arah Lisa. "Oke!" Allen menutup ponsel.
"Aksa ada di sini?" tanya Lisa cemas. Mereka perlu bicara dengan mendekat ke telinga agar tidak kalah dengan riuhnya penonton di gedung olahraga ini.
"Enggak. Dia sedang berada di pagelaran busana milik wanita itu. Tiara." Mendengar informasi ini, Lisa lega. Dia tidak harus bertemu dengan pria itu saat ia ingin memberi dukungan pada Arka.
"Kenapa tanya tentang aku barusan?" selidik Lisa.
"Sepertinya kak Aksa ingin mengajak kakak kesana tadi. Memangnya kak Aksa enggak nelfon Kak Yora?"
"Enggak. Enggak ada kabar kalau dia mau mengajak aku kesana. Jadi aku rasa dia memang enggak mau mengajakku kesana," jawab Lisa. Menurutnya tidak mungkin Aksa mau membawanya ke acara perempuan itu. Karena suasana akan memanas. Yora, tunangan resmi yang di akui keluarga Aksa. Sementara Tiara, kekasih yang tidak pernah di perkenalkan secara khusus pada keluarga.
__ADS_1
_______
TUNANGAN PALSU