
"Aku akan jemput kamu, siang ini. Sekitar jam pulang sekolah kamu. Ada rekan bisnis yang harus di temui." Begitu pesan Aksa yang di kirim sekarang.
Lisa menggeram membuat Sera yang ada di sampingnya heran. Dia sedikit bingung. Jika ada rekan bisnis, kenapa dia harus menjemputnya. Apa hubungannya.
"Kenapa?" tanya Sera yang melihat raut wajah kesal Lisa.
"Enggak." Lisa tersenyum. Menyembunyikan kekesalannya. Dia langsung menghapus pesan barusan.
"Eh, aku lupa tanya. Kemarin lihat basket di GOR, kan?" tanya Sera.
"Kapan?" tanya Lisa yang tadi tubuhnya bersandar pada meja di depannya, kini tegak. "Weekend kemarin?" terka Lisa seraya mengingat-ingat.
"Ya. Sabo bilang, kamu di sapa, tapi enggak jawab. Enggak noleh sama sekali. Kenapa? Lagi cosplay cewek sombong, gitu?" tegur Sera protes.
Lisa lupa. Waktu nonton basket itu, ia memang di sapa Sabo. Tentu saja ia tidak menyahut saat cowok itu getol menyapa. Itu karena dia sedang bersama Aksa dan Allen. Padahal dianya sudah cuek, tapi itu cowok maksa. Sabo tidak paham situasi. Lisa maklum.
"Sorry yang waktu itu. Aku ada masalah dikit. Jadi ya gitu, deh." Lisa membuat alasan yang tidak jelas membuat Sera jadi enggan buat lanjut tanya.
"Awas ya, kalau lain kali ketemu Sabo lagi dan gitu." Telunjuk Sera ikut bergerak mengancam Lisa.
"Iya. Enggak bakal. Sabo sensi amat. Lagian cuma waktu itu doang. Biasanya kan enggak pernah tuh, aku gitu ke dia." Lisa membela diri.
Sera menaikkan ujung bibirnya untuk merespon pembelaan Lisa.
“Dia lewat,” bisik Sera. Lisa menoleh ke arah dagu Sera yang bergerak. Ternyata ada Arka lewat samping jendela. Cowok itu tersenyum dengan manis.
__ADS_1
Meski sempat marah soal dirinya yang keluar dari kamar Aksa, si ARka balik lagi bersikap seperti biasa. Cowok ini mudah memaafkan ternyata. Lisa jadi merasa terbebani.
**
Setengah berlari, Lisa menuju mobil AKsa dan masuk.
"Hh, Hh." Napas Lisa terdengar tersengal-sengal di kursi samping. Aksa memperhatikan gadis ini dari dengan seksama. Lisa menutup tudung jumper-nya dan menurunkan tubuhnya.
"Apa barusan?" tanya Aksa yang heran. Pria ini berniat turun dan menjemput Lisa dengan normal. Namun, saat dia baru saja berpikir untuk membuka pintu dan keluar, gadis itu sudah berlari ke arahnya. Lalu masuk ke dalam mobil secepat kilat.
"Jangan tanya-tanya dulu. Cepat bawa mobil ini pergi dari sini," kata Lisa masih mencoba bersembunyi. Aksa melihat ke depan. Beberapa teman Lisa bermunculan.
"Kamu mencoba lari dari ARka?" tanya Aksa yang mulai mengerti.
"Cepat pergi. Kalau enggak, aku turun saja." Lisa mengucapkan dengan geregetan. Aksa tergelak.
"Kayaknya barusan, Lisa deh." Nero sempat melihat sekelebat gadis itu. Arka tidak menjawab. Sera yang ikut melihat ke arah mobil yang berlalu itu melihat ke Arka. Melihat cowok ini agak lama.
"Kenapa liatin ARka seperti itu?" tegur Sabo yang sadar, Sera menatap Arka agak lama.
"Mau ada perlu sebentar," jawab Sera.
"Enggak. Aku enggak setuju kamu ke Arka," cegah Sabo sambil menahan tangan Sera.
"Aku mau bicara soal Lisa, kok. Jangan mikir macam-macam," sanggah Sera yang tahu kekhawatiran Sabo. Cowok ini perlahan melepaskan tangan Sera. "Barusan Lisa pergi sama siapa, Ka?" tanya Sera dengan suara berbisik pelan.
__ADS_1
Arka menoleh.
"Entahlah. Mungkin temannya," sahut Arka enggan.
"Aku kayak kenal. Karena mobil itu pernah terlihat dimana gitu," kata Sera. Mungkin dia masih ingat soal pertemuan Aksa dengannya di lapangan basket waktu itu.
Arka tidak tertarik. Dia hanya mendengarkan.
"Kamu enggak cemas dia pergi seperti itu?" tanya Sera lagi. Arka tersenyum. Tidak banyak yang di katakannya. "Sepertinya kamu sangat percaya pada Lisa. Bagus. Aku jadi enggak enak nih tanya. Soalnya dia sendiri enggak bilang ke aku mau kemana. Kayak rahasia banget, gitu." Sera bercerita.
"Dia memang penuh rahasia," ujar Arka dengan ekspresi sendu.
**
"Kita mau kemana?" tanya Lisa yang tidak paham mau diajak kemana.
"Ke sana," kata Aksa menunjuk dengan dagunya. Mobil berhenti tepat di depan salon kecantikan. Kepalanya menoleh ke Aksa yang melepas safety belt-nya. Lalu pria itu membuka pintu dan keluar dari mobil.
"Ngapain?" tanya Lisa ingin tahu. Ia masih tetap di dalam. Melihat Aksa yang memutar di depan mobil.
"Turun. Lalu kamu akan tahu mau ngapain kita di sini," ujar Aksa yang sudah muncul di samping pintunya yang terbuka. Lisa keluar dan melihat ke sekeliling. Aksa memberi kode pada Lisa untuk mengikutinya. Lisa patuh.
"Aku ada jamuan dengan orang penting. Dan kamu harus menemani aku," kata Aksa seraya membuka pintu salon. Mempersilakan Lisa untuk masuk lebih dulu.
"Kenapa enggak ngajak Tiara?" tanya Lisa menggerutu. Seseorang yang sedang berdiri di dekat meja menoleh.
"Aksa?"
__ADS_1
_____