
"Yora ...," panggil Noah lirih. Gadis itu masih diam di sana. Tidak menoleh karena dia tertegun melihat Aksa. Lisa ingin lari dari situasi ini, tapi Aksa tetap menahannya.
"Tetap di sini, Lisa," pinta Aksa. Lisa melihat Yora. Dia tidak tega. Namun akhirnya dia berhenti bergerak dan melihat Noah yang perlahan mendekat Yora.
"Yora ...," panggil Noah lagi. Kali ini Yora menengok karena mendengar panggilan itu.
"K-kak N-noah ..." Yora menyebut nama Noah dengan tersendat. Noah mengangguk mengerti kesedihan gadis ini. Ia menarik tubuh Yora perlahan dan memeluknya. Gadis itu pun menangis dalam pelukan Noah.
Sepertinya aku sudah membuat kesalahan. Berada disini meskipun karena dipaksa, sudah membuat seseorang terluka.
Kepala Lisa menunduk. Aksa memutar tubuh Lisa agar memunggungi orang-orang. Karena sepertinya bola mata gadis ini ikut memerah.
Arka melihat itu.
Kamu pasti merasa bersalah. Karena ini pertama kalinya kamu membuat orang menangis karena salah. Semoga semuanya baik-baik saja, Lis.
Arka berjalan keluar. Dia tidak berfungsi apa-apa lagi di sini. Aksa melihat adik tirinya itu berjalan keluar tanpa pamit. Lalu dia melihat ke samping. Ke arah Lisa yang masih termangu karena Yora menangis.
...***...
__ADS_1
Tangisan Yora mereda. Gadis itu masih bersama Noah. Namun kali ini tidak lagi dalam pelukan Pria itu. Yora duduk di atas sofa. Diam dengan sesekali menyeka ingus.
Lisa juga tidak kemana-mana. Dia diam di sofa. Menunduk sembari menghela napas.
"Lalu kelanjutan kalian bagaimana?" tanya Noah. Meksipun ia tidak punya wewenang untuk bertanya, tapi ia nekat untuk menanyakan hal itu.
"Aku?" tanya Aksa.
"Ya kamu dan Yora." Noah kesal pada pria ini. "Bagaimanapun kamu menolak Yora, kakek tetap ingin kalian berdua bertunangan. Lagipula ... Yora tidak akan sudi melepas mu untuk Lisa." Noah melirik Lisa.
"Itu tidak mungkin Lisa. Aksa sudah menyeret mu masuk dalam lingkaran asmara kalian bertiga. Aksa, Yora dan kamu," kata Noah memperjelas. Lisa berdecih. Sementara itu Yora memandangi Lisa terus menerus.
"Apa kamu menyukai Aksa?" tanya Yora. Lisa mendongak. Tidak menduga akan ditanya perkara itu oleh Yora. Aksa menengok ke arah Lisa yang duduk di sampingnya.
"Aku tidak ingin di tanya soal itu, Yora. Aku tidak akan menjawab." Lisa kebingungan sendiri dengan perasaannya. Dia tidak ingin pertanyaan semacam itu lagi. Ia bimbang.
"Kamu harus jawab. Karena jika ternyata kamu hanya mengincar harta Kak Aksa, aku tidak akan membiarkan kamu memilikinya," desis Yora berusaha tampil garang. Namun semua orang tahu, gadis ini sedang gemetaran saat mengatakan itu.
__ADS_1
Lisa yang tadinya merasa bimbang untuk menjawab, melihat ke arah Yora dengan senyum miring yang menjengkelkan.
"Hei. Aku pikir kamu gadis pintar, tapi ternyata naif juga,” cibir Lisa. Noah mendelik mendengar itu. Namun dia membiarkan Lisa bicara karena Yora ternyata memilih mendengarkan. Aksa melihat Lisa. Mencoba mendengarkan apa yang akan di katakan gadis itu. Sepertinya Lisa marah karena di anggap mengincar harta Aksa. Padahal dia dan Aksa belum ada hubungan apa-apa.
“Aku memang bimbang antara suka atau tidak, tapi apa kamu pikir saat aku bilang aku mencintainya, Aksa akan benar-benar mencintaiku dengan tulus? Ingat Yora, Aksa itu playboy. Dia bisa bicara manis sekarang. Namun bisa saja dia bicara lain lagi di luar. Apa kamu pikir saat Aksa bilang memilih aku, dia akan benar-benar memilih aku yang jelas-jelas bukan seleranya? Tidak. Mungkin saja dia hanya ingin lepas dari perjodohan konyol yang mengekangnya. Aku hanya di jadikan alasan untuk itu.” Lisa melirik Aksa tajam.
Aksa yang tadinya merasa tertohok dengan kalimat Lisa dan ingin menyangkal, akhirnya kini tersenyum juga. Ia terima kalimat itu dengan dengusan lucu.
Mendengar ocehan Lisa, Yora menatap Aksa. Ingin tahu apa benar semua ini hanya upaya untuk menggagalkan perjodohan ini? Di tatap oleh Yora, Aksa hanya mengangkat bahunya. Dia tidak peduli dengan ocehan Lisa.
“A-aku tidak tahu. Namun aku akan melepas perjodohan ini. Aku tidak ingin mencintai jika tidak ada balasannya,” kata Yora sudah bertekad. Meskipun begitu bibirnya bergetar saat mengatakannya. Bola mata pria ini berbinar. Namun Aksa tidak sendiri. Pria di sebelah Yora sepertinya sedang bersorak-sorai mendengar pernyataan ini.
“Benar. Cintailah pria yang mencintai kamu,” kata Aksa seraya melirik ke arah Noah. Pria itu terkejut. Apalagi saat Yora mengikuti arah bola mata Aksa. Yaitu menatap dirinya.
..._______...
__ADS_1