
"Hmm ... Apa aku saja yang merasa kamu terlihat berbeda." Noah mulai membuat Lisa was-was. Jari-jarinya mengepal. Bibirnya tersenyum kaku. Ia gugup.
"Ber ... beda apanya?" tanya Lisa pura-pura bodoh.
"Entahlah."
"Kamu pasti bercanda. Kita sudah lama tidak bertemu setelah aku koma. Mungkin karena itu." Senjata Lisa jika sudah terpojokkan adalah soal keadaan Yora yang sempat koma.
"Maaf. Aku tidak bisa menjengukmu. Tante Anne tidak memperbolehkan aku untuk menjenguk." Rupanya senjata Lisa ampuh. Pembicaraan soal perbedaan Yora dulu dan sekarang mulai pudar. Lisa mengangguk puas.
Berarti pria ini memang lebih peka soal perbedaan Yora dan dirinya. Bisa di maklumi karena pria ini mencintai Yora.
"Kamu ... kenal dengan Aksa?" tanya Lisa lambat. Pria ini tergelak.
"Tentu saja. Bukannya dia sepupuku."
Sepupu? Bukan hanya teman? Waduh. Ini bisa gawat.
"Tenyata kamu benar-benar kehilangan beberapa memory. Aku termasuk orang beruntung karena masih bisa di ingat olehmu." Noah begitu bersyukur. Kecurigaannya mulai pudar. Ini sedikit melegakan.
Setelah kepulangan Noah, Lisa langsung bercerita ke Maya.
"Aku sempat bertemu dengannya di mall Maya." Lisa menoleh ke kanan dan kiri. Dia takut kedengaran nyonya Anne.
"Mall?"
"Ya. Dia teman dari temanku sekolah."
"Trus tadi?" Maya mendekat karena tegang.
"Dia ... tidak mengenaliku. Namun dia sempat curiga."
"Lalu, kamu bagaimana?"
"Seperti biasa. Aku mengandalkan keadaan koma Yora. Dia sedikit mengerti kalau kemungkinan aku kehilangan memori karena itu."
"Syukurlah." Maya menghela napas lega. "Jangan beritahu nyonya Anne." Maya ikut melihat ke sekitar. "Cukup bicara denganku saja."
"Iya." Lisa mengangguk.
__ADS_1
***
Di apartemen.
"Aku tidak menyangka, kalau kamu menjadi pasangan gadis itu." Tiara tiduran dengan berbantal kaki Aksa. Sepulang kerja tadi, Aksa memang tidak langsung pulang. Ia masih mengunjungi perempuan ini.
"Kita hanya menjalani sandiwara." Tangan Aksa mengusap rambut Tiara dengan lembut. "Lagi pula dia bocah. Bukan tipeku."
"Jadi ... kalau dia adalah wanita sepertiku, kamu akan bersedia membuka hatimu?" pancing Tiara.
"Jangan membolak-balikkan kalimatku, sayang ..."
"Aku hanya berandai-andai." Tiara mendongak. Menatap Aksa dari bawah. Rahang pria ini terlihat tegas.
"Cukup berpikir bahwa aku masih denganmu, Tia. Jangan pikirkan hal lain." Aksa menowel dagu wanita ini gemas. Senyum Tiara merekah. "Sebentar lagi pesta perusahaan. Kamu akan datang?"
"Aku di undang?" tanya Tia balik.
"Tentu saja. Kamu tamu kehormatan perusahaan."
"Bukan tamu kehormatan mu?" sindir Tia tidak suka.
***
Pesta perusahaan Candika di laksanakan hari ini. Acara ini sekaligus mengenalkanYira sebagai calon menantu keluarga Candika. Lisa tentu saja harus datang karena undangan resmi dari keluarga Aksa. Ia datang dengan Maya dan Nyonya Anne.
"Halo Kak ..." Allen muncul dan menyambut Lisa. Maya tersenyum. Nyonya Anne sudah bergabung dengan tamu lain. Seperti biasa, gadis itu memulai memeluk lebih dulu.
"Halo," sambut Lisa.
"Kenapa bukan Kak Aksa yang menjemput?" tanya Allen yang tahu keluarga Anne datang dengan mobil sendiri.
"Tidak apa-apa. Dia terlihat sibuk. Jadi aku harus bisa datang tanpa merepotkan dia," jawab Lisa.
"Duhh ... segitunya. Perhatian banget," goda Allen. Lisa terkejut tanggapan adik Aksa ini. Bibirnya pun tersenyum terpaksa.
"Eh, itu kak Noah," kata Allen yang melihat pria itu melintas. Noah?! Lisa terkejut melihat kemunculan pria itu. "Kak Noah!" Pria itu menoleh dan tersenyum. Kemudian melangkah menuju tempat mereka berdiri. Lisa makin panik. Maya yang tahu, juga gelisah.
"Kalian berkumpul di sini. Halo Yora," sapa Noah lembut. Lisa mengangguk. Pria ini sepertinya pria baik. Berbeda dengan pria yang masih berbincang di sana.
__ADS_1
Suasana pesta sangat meriah. Aksa berkali kali meneguk minuman di tempatnya berdiri. Dia belum bertemu sama sekali dengan gadis itu. Dia sengaja. Saat tidak sengaja melihat ke sekitar, ia menemukan Allen bersama gadis itu.
"Yora datang. Kamu harus menemuinya." Adiwangsa memberi tahu. Aksa menghela napas pelan. Dia pun melangkah mendekat ke arah gadis itu.
Lisa mendongak, saat mendapati pria ini mendekat. Allen ikut menoleh.
"Kakak terlambat. Kenapa baru sekarang menemui kak Yora?" sembur Allen. Dia tahu Aksa sengaja menghindar.
"Tidak masalah. Karena bisa saja aku sibuk dengan tamu yang lain dan lupa untuk kesini. Jadi terlambat lebih baik daripada tidak," sahut Aksa. Lisa menipiskan bibir.
"Jadi kalian berdua belum bertemu sama sekali sejak tadi?" tanya Noah.
"Ya. Kak Aksa baru sekarang menemui Kak Yora." Allen mengatakan dengan mata tajam ke arah kakaknya.
"Daripada tidak, Allen." Lisa mengulang kalimat Aksa untuk mengejeknya. Allen mengangguk seraya tertawa. Maya meminta ijin untuk ke toilet.
Seorang wanita bertubuh sintal datang. Penampilannya sangat mencolok mata. Semua mata memandangnya takjub. Baik pria maupun wanita.
Wow ... cup D itu sangat menggiurkan, jerit Lisa dalam hati. Aksa yang mendengar suara ramai orang-orang, dia ikut menoleh. Bibirnya tersenyum. Itu Tiara.
Tak sengaja Lisa melihat lelaki itu tersenyum manis. Kening Lisa berkerut. Mata Lisa langsung menyelidik. Ke arah mana senyuman itu di lemparkan. Mata Lisa membulat dan mengangguk paham. Ternyata Aksa sedang tersenyum kepada perempuan sintal dan molek yang baru datang itu.
Bukan perempuan yang di lihat Lisa saat di mall itu. Dia lebih anggun. Lebih cantik. Lebih bohay. Lebih sempurna bagi fisik seorang perempuan. Berani juga perempuan ini datang ke pesta perusahaan. Kalau nyalinya sebesar ini, pasti Aksa juga sangat tergila-gila padanya. Pasti dia mendapat undangan resmi dari Aksa sendiri. Berarti wanita ini sangat istimewa bagi Aksa.
Dasar playboy. Playboy ini juga tergila-gila pada seseorang? Lisa menyadari pikirannya barusan. Pfftt ... Lucu sekali.
"Aksa, kenapa kau sengaja mengundang dia kesini?" desis Noah sangat tidak setuju. Melihat perempuan itu datang, Noah langsung mendekati Aksa. Berdiri tepat di depan pria brengsek ini. Dia pasti sangat mencemaskan Yora. Dia tidak ingin Yora sakit hati melihat lelaki yang di cintainya mengundang perempuan yang di ketahui sangat dekat dengan Aksa.
"Supaya dia tahu aku sangat menentang pertunangan ini," bisik Aksa santai.
Tangan Noah sudah mengepal geram ingin menghajar Aksa. Lisa mendelik.
Kalau Noah menghajar Aksa saat ini, semua orang tahu perasaan Noah. Dan semua mempertanyakan bagaimana pertunangan ini sebenarnya. Noah akan menghancurkan pesta pertunangan yang sangat di inginkan Nyonya Anne ini. Dan juga, uangku akan menghilang.
Jangaaaaannnnn!
_______
TUNANGAN PALSU
__ADS_1