
Aksa langsung menangkap tubuh Lisa yang menabraknya.
"Kenapa kembali? Kamu masih ingin di sini?" tanya Aksa senang. Lisa mencoba melepaskan tangan Aksa dari tubuhnya.
"Cepat sembunyikan aku, Aksa," kata Lisa dengan raut wajah tegang.
"Sembunyi? Ada apa?" tanya Aksa kebingungan. Lisa panik seraya menoleh ke belakang. Dia sedang mencemaskan sesuatu. Terdengar suara langkah beberapa orang di lorong. Aksa mengikuti gerakan gadis ini. Ia menoleh ke arah yang sama. Namun Lisa segera mendorong tubuh Aksa dan berlari ke dalam ruangan.
"Siapa?" tanya Aksa masih tidak mengerti.
"Kamu mau keluar, Aksa?" tanya sebuah suara di depan pintu. Aksa menoleh ke asal suara. Ternyata itu kakek. Pria ini mulai paham kenapa Lisa kembali masuk ke ruangannya. Gadis itu pasti panik melihat kakek di lorong. Apalagi ada Arka di belakang kakek. Bocah itu masih berseragam juga.
"Oh, tidak Kek. Masuklah." Aksa mempersilakan kakek berserta Pak Aknam masuk ke ruangannya. Kemudian ia menoleh ke segala penjuru ruangan. Mencari gadis itu yang tiba-tiba hilang.
Kemana Lisa?
"Kenapa kamu berdiri saja? Duduklah. Kakek mau bicara," kata Kakek meminta Aksa mendekat pada cucunya.
"Ah, iya Kek." Aksa menggelengkan kepala sejenak. Membuang kecemasan pada gadis itu. Kemudian duduk di sofa. Gabung dengan mereka berdua. "Kenapa Kakek tiba-tiba datang ke sini? Ada hal penting kah?" tanya Aksa. Kedatangan kakek memang mendadak.
"Kakek mau mengenalkan Arka pada orang-orang perusahaan. Mungkin mereka hanya tahu tentang Arka di pesta ulang tahun perusahaan. Namun mereka belum mengenal sama sekali tentang dia."
Aksa diam. Dia sempat berpikir kalau kakek tidak akan mengenalkan bocah itu pada orang-orang perusahaan. Apa ada sesuatu di belakangnya yang tidak ia ketahui?
__ADS_1
"Ya. Itu bagus buat Arka." Aksa tidak punya pilihan kalimat untuk menanggapi. Pikirannya masih kacau dengan keberadaan Lisa. Kemana gadis itu berada? Namun saat ada sebuah tanda dari belakang sofa di dekatnya, ia menyadari ada gadis itu di sana. Lisa tengah bersembunyi di balik sofa.
Arka menangkap kegelisahan Aksa. Dia melihat ke sekeliling. Tidak ada yang aneh. Arka menaikkan alisnya. Namun saat ia mencoba bersandar pada badan sofa, Arka terkejut. Ada Lisa di belakang sofa di sampingnya. Bola mata mereka bertemu. Mata gadis itu mengerjap. Sepertinya kebingungan akan bereaksi apa.
Arka memilih berpaling. Kembali melihat ke depan. Bola matanya ikut mengerjap karena terkejut. Pemuda ini mencoba menenangkan diri. Kakek masih bicara dengan Aksa.
Kemudian Arka menghela napas. Dia mencoba kembali melihat ke samping. Gadis itu masih di sana. Di balik sofa yang berada di sampingnya.
Sedang apa kamu di sini Lisa? Apa kamu ...
Aksa menggeser tubuhnya ingin menutupi keberadaan Lisa dari kakek. Pemuda ini mendengus melihat Aksa tampak berusaha bersikap wajar di antara kepanikannya. Itu lucu dan menyebalkan untuk Arka.
Lisa menoleh ke arahnya. Bola mata bulat itu masih sama. Hanya saja situasinya yang berbeda. Mereka tidak sedang dalam kasmaran. Jadi Lisa berpaling ke arah lain.
"Tentu. Kakek bisa meletakkan Arka di dekatku," kata Aksa membalas kalimat Arka. Dia mengatakan itu dengan adanya tantangan dari Arka.
"Bagaimana dengan kamu dan Yora, Aksa?" tanya kakek mengejutkan. Arka melirik.
"Yora?" tanya Aksa entah kenapa perlu beberapa detik untuk menjawab. Mungkin karena otaknya penuh dengan Lisa.
"Kamu masih bermain-main di luar sana?" selidik kakek dengan menggeram. Semua orang tahu apa yang di maksud pemilik perusahaan Candika ini. Ya. Itu soal Aksa yang playboy.
"Tidak," jawabnya tegas dan cepat.
__ADS_1
"Tidak? Benarkah?" tanya Kakek tidak percaya. Beliau sampai menggerakkan kepalanya dengan cepat ke arah cucunya itu. Bukan hanya kakek. Mungkin dua orang kepercayaan kakek juga tidak percaya.
"Kakek akan tahu sendiri nantinya." Aksa merasa tidak perlu menjelaskan.
Arka mendengus samar tanpa sadar. Aksa melirik. Melihat situasi sekarang_ dimana ada Lisa sedang bersembunyi di dalam ruangan ini, kemungkinan pria itu tengah berduaan tadinya. Arka langsung paham kalau kemungkinan ada hubungan spesial di antara keduanya.
"Bagus jika kamu berubah. Karena kamu tidak berubah sekalipun, calon istrimu tetap Yora," kata Kakek meng-ultimatum. Arka melirik ke arah gadis yang sedang terdiam di belakang sofa.
Apa kamu berencana masuk ke dalam lingkaran perjodohan itu, Lis? Karena jika itu yang kamu rencanakan, kamu akan membutuhkan kekuatan hati yang lebih besar lagi. Seperti cerita kita. Kalau pun begitu, aku mengharap yang terbaik untukmu.
"Apa kakek sangat mencintai nenek?" tanya Aksa tiba-tiba. Kakek melihat ke arah cucunya.
"Hhh ... Apa yang kamu tanyakan? Kamu tahu kakek sangat mencintai nenekmu," kata Kakek.
Mendengar itu, Aksa justru berwajah senang. Seakan sebentar lagi dia meraih kemenangan. Arka tidak mengerti itu.
“Sebaiknya aku membuat jadwal untuk mengunjungi kuburan nenek dengan kakek. Karena kakek juga mulai sehat,” kata Aksa punya rencana tiba-tiba.
“Ya ya ... Kakek memang lama tidak mengunjungi. Karena badan kakek kian melemah.” Kepala beliau manggut-manggut sambil memegang tongkat.
...____
...
__ADS_1