Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 89 Nyonya bos


__ADS_3

"Kenapa bersembunyi?" tegur Aksa saat mereka sudah menjauh. Lisa sudah duduk dengan benar di kursinya.


 


"Tentu saja aku harus bersembunyi. Bagaimana bisa aku bertemu dengan Yora saat bersamamu. Karena suasananya akan aneh. Lagipula ... seharusnya aku dan kamu sudah tidak terikat lagi. Kita tidak seharusnya bertemu seperti ini, Aksa," kata Lisa dengan wajah serius.


 


Mungkin menurut Lisa, hubungannya harus berakhir dengan Aksa dan kehidupannya setelah kontrak menjadi tunangan palsu selesai.


 


"Bertemu atau tidak denganmu itu urusanku. Jangan memerintah ku tentang itu," ujar Aksa juga serius. Lisa menipiskan bibir sambil bersedekap.


 


"Antar aku pulang."


 


"Tidak ingin jalan-jalan dulu lalu pulang?" tanya Aksa memberi tawaran. Kini nada bicaranya kembali seperti biasa. Tidak seserius tadi.


 


"Kamu bukannya sedang kerja? Kenapa keluyuran?" tegur Lisa. Dia tahu ini masih jam kerja. Karena pulang kerja itu masih petang nanti.


 


"Bos bisa melakukan apa saja. Tidak ada yang berani memerintah ku," kata Aksa pongah. Lisa mencibir.


 


"Enak sekali jadi bos," cibir Lisa iri.


 


"Mau, jadi nyonya bos?" tanya Aksa dengan wajah isengnya.


 


"Kenapa nyonya bos? Harusnya kan jadi bosnya juga dong." Lisa merasa aneh dengan pertanyaan Aksa.


 


"Jika menjadi bos kamu akan pusing memikirkan masalah perusahaan dan segala macam permasalahan yang melingkupinya. Jika jadi nyonya bos, kamu tinggal bersantai dengan semua kekayaan tuan bos mu itu. Kamu bisa hidup dengan tenang dan bahagia."


 


"Mmm ... begitu ya." Lisa justru bertampang bodoh karena merasa tidak paham apa yang di katakan Aksa. Dia manggut-manggut saja. Melihat ini Aksa tergelak. "Kamu sedang mempermainkan aku?" tanya Lisa saat mendengar Aksa menertawakannya.


 


"Bukan. Aku hanya tertawa karena kamu lucu," ungkap Aksa senang. "Jadi jalan-jalan dulu?" tawar Aksa lagi.


 


"Arka pasti mencariku." Secara mendadak Lisa ingat cowok itu.


 


"Di sini ada Aksa, bukan Arka. Jadi walaupun dia mencarimu, Arka tidak akan bisa menemukanmu karena kamu sedang bersamaku," kata Aksa puas.


 


Lisa menatap Aksa tajam.


 


"Kamu semakin aneh saja," ujar Lisa mengibaskan tangannya lalu menoleh ke luar jendela. "Aku lelah. Antarkan aku pulang saja," pinta Lisa yang sepertinya tidak bisa di rayu lagi. "Aku harus bersiap-siap untuk menyambut bapak yang pulang hari ini," kata Lisa tanpa sadar membocorkan rahasia.


 


Itu membuat Aksa punya ide. Akhirnya Aksa mengalah dan membelokkan mobilnya menuju rumah gadis ini. Karena nanti dia akan kembali menemui gadis ini.


 


...***...

__ADS_1


 


Di cafe.


 


Arka kesal Liliana berani mendekatinya hingga pindah sekolah. Apalagi siang ini Lisa pergi tanpa bicara padanya. Bahkan seperti sengaja menghilang dan menghindarinya. Pun gadis ini mengikutinya. Liliana bilang, mamanya akan ikut menjemputnya. Jadi terpaksa Arka tidak segera menaiki motornya karena takut ada kesan buruk untuk mamanya karena ia kabur tanpa peduli dengan Liliana.


 


"Marah saja, aku tidak apa-apa," kata Liliana sungguh menyebalkan.


 


"Kamu tidak bisa mencari cowok lain untuk di jodohkan denganmu?" tanya Arka heran dan gusar.


 


"Kamu pikir aku punya pilihan? Aku sama sepertimu. Keluargaku juga memikirkan perusahaan mereka. Jadi kita yang masih sekolah ini sudah di jodohkan untuk kepentingan bisnis saja," kata Liliana merasa Arka tidak sendiri. Arka terdiam mendengar itu. Dia lupa kalau ada kemungkinan nasib yang sama dengannya.


 


"Tapi kamu terlihat menggebu ingin dekat denganku," kata Arka dengan suara lebih lembut daripada tadi. Ia jadi kasihan juga dengan Liliana.


 


"Yaitu, apa salahnya? Karena sudah di jodohkan, dan ternyata itu kamu yang pernah aku temui di outlet mall waktu itu, aku jadi punya harapan untuk bisa menikmati hidup meski di jodohkan. Aku berusaha berpikir untuk mengikuti semua perintah keluargaku. Hanya itu," kata Liliana lugas.


 


"Meksipun begitu, aku ini sudah punya kekasih. Kamu tahu tentang itu bukan?" Arka mengingatkan lagi Liliana soal Lisa.


 


"Karena aku tahu kamu punya kekasih, aku nekat pindah sekolah. Karena kemungkinan tidak akan bisa damai jika aku di jodohkan dengan cowok lain. Karena itu kamu, aku merasa bisa menjadi putri yang berbakti pada orang tua dengan menuruti perintah mereka."


 


"Berbakti itu urusanmu," desis Arka.


 


 


"Jangan harap itu terjadi."


 


"Kamu tidak ingin berbakti seperti aku juga?" tanya Liliana dengan wajah penuh dengan semangat. Ia seperti tengah melakukan penawaran.


 


...***...


 


Petang ini Lisa sudah bersiap dengan Giri berangkat ke rumah sakit.


 


"Lis! Lisa!" teriak Giri yang membuat gadis ini senewen. Karena Lisa masih belum selesai dandan.


 


"Apa sih, Gi?!" sembur Lisa kesal. Namun sungguh mengejutkan saat di sana ada Aksa. Mulut Lisa tetap menganga karena terkejut melihat pria ini. Lisa tidak habis pikir dengan kemunculan Aksa yang bertubi-tubi di depannya.


 


Setelah tersadar dan mulai bisa menguasai diri, Lisa mengatupkan rahang yang di biarkan terbuka sejak tadi.


 


"Kamu janjian sama Om ini? Lalu Arka kemana?" tanya Giri membuat Lisa menipiskan bibir geram. Matanya mendelik.


 


"Kenapa muncul di sini?" tegur Lisa sambil menggerakkan dagunya. Ia mengabaikan adiknya.

__ADS_1


 


"Mau ke rumah sakit menjemput Bapak," kata Aksa santai.


 


"Siapa yang mengajakmu ke rumah sakit?" tanya Lisa mengerutkan keningnya.


 


"Enggak ada. Aku hanya ingin ikut saja saat kamu bilang petang ini mau menjemput bapak," kata Aksa cuek.


 


"Membawa pulang Bapak bukan pawai. Jadi enggak bisa bawa banyak orang," kilah Lisa. Dia menolak.


 


"Aku rasa banyak orang akan membuat Bapak bahagia. Karena itu artinya banyak orang yang ingin menyambut Bapak untuk sembuh." Tidak ada yang salah dengan kalimat Aksa, tapi entah kenapa Lisa kesal.


 


"Benar juga. Enggak apa-apa ikut, Sa. Jadi enggak perlu naik ojek mobil nanti." Giri merasa mendapat ide cemerlang.


 


"Kamu pintar juga," puji Aksa setulus-tulusnya. Giri menaikkan alisnya bangga.


 


...***...


 


Akhirnya mereka bertiga datang ke rumah sakit. Giri berjalan di belakang. Membiarkan Lisa dan Aksa di depannya. Giri mencoba memerhatikan pria yang berjalan sejajar dengan kakaknya.


 


Menilik pakaian yang dikenakan Aksa sekarang, sepertinya pria ini baru saja pulang dari bekerja. Kemungkinan langsung berangkat ke rumah mereka demi mengantar Lisa ke rumah sakit.


 


Ternyata ibu sudah bersiap-siap. Tinggal menunggu kemunculan putra-putrinya saja. Semua barang-barang bapak sudah di kemas. Menunggu di angkut pulang. Aksa tersenyum saat ibu dan bapak Lisa memperhatikannya.


 


Petugas rumah sakit meminta keluarga untuk menyelesaikan administrasi kepulangan pasien.


 


"Biar aku saja. Ibu tunggu di sini." Lisa pun mengikuti petugas tadi. Aksa mengekor di belakangnya.


 


"Itu, gurunya kakakmu?" tanya ibu pada Giri.


 


"Sepertinya," jawab Giri asal.


 


"Memangnya kakakmu itu anak yang rajin di sekolah? Kenapa harus ada gurunya yang datang saat bapakmu pulang?" tanya bapak pelan dengan heran. Giri tersenyum ringan.


 


"Sepertinya pak guru itu yang suka ngikutin Lisa," kata Giri yang membuat bapak jadi berpikir panjang tentang Aksa. Mengerutkan kening seraya menatap pintu.


 


"Benarkah?" tanya Bapak cemas.


 


"Jangan di dengarkan Giri bicara," seloroh ibu memutus pembicaraan mereka. Ibu tahu bahwa Giri kadang suka bercanda.


...____...

__ADS_1



__ADS_2