Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 138 Kabar yang mengejutkan


__ADS_3

“Maya, Kak Noah menyatakan perasaannya padaku,” cerita Yora pada Maya saat menjemput sekolah.


 


“Benarkah? Wahh ... Aksa menghilang, ada satu pria yang datang. Ini sungguh mengagumkan.”


 


“Jangan berlebihan. Kak Aksa bukan menghilang. Dia tidak pernah singgah untuk hatiku. Akulah yang menginginkannya.” Yora mendengus.


 


“Anggap saja begitu. Lalu kamu gimana?” tanya Maya penasaran.


 


“Aku enggak tahu. Namun dia perhatian, jadi aku nyaman juga, tapi aku enggak bisa bilang suka. Hanya nyaman aja di kasih perhatian sama dia.”


 


“Dari nyaman itu langsung ke hati. Jadinya entar kamu jatuh cinta. Enggak apa-apa pelan-pelan saja mencintainya. Yang penting sekarang kamu harus terima dia.”


 


“Aku sudah menerimanya meski aku enggak seratus persen yakin kalau aku punya perasaan yang sama. Lagipula aku masih di atas ketidakjelasan Kak Aksa. Juga masih takut sama mama kalau aku bilang ingin memutus ikatan ini.”


 


“Bilang pada Aksa untuk bertindak. Supaya enggak kamu yang di salahin sama mama.”


 


Yora mengangguk.


 


...****************...


 


Malam ini Aksa muncul di rumah Lisa. Dia tersenyum bahagia saat gadis itu muncul di ruang tamu. Tanpa memberi tahu soal kedatangan kakek di sekolah tadi, Lisa berusaha bersikap biasa. Seperti tidak ada kejadian apa-apa, dia menyambut pria ini.


 


Aksa mengajaknya keluar. Mereka tiba di SeaWorld. Tempat yang langka bagi Lisa. Ternyata ini adalah sebuah impian yang belum terwujud.


 


"Aku belum pernah ke sini. Karena ibu enggak punya uang untuk masuk ke aquarium ini," kata Lisa takjub melihat pemandangan dalam laut yang bisa ia lihat sekarang.


 


"Jadi aku tepat mengajakmu ke sini sekarang.” Aksa senang pilihannya bisa membahagiakan Lisa. Itulah yang diharapkannya kan ...


 


"Bagaimana kerja kamu tadi?" tanya Lisa sambil menyentuh dinding kaca aquarium. Dia tidak menoleh pada pria ini. Bola matanya menatap lurus ke arah berbagai macam ikan-ikan.


 


"Semua berjalan lancar."


 


"Baguslah," sahut Lisa dengan raut wajah berbalut sedih.


 

__ADS_1


"Kenapa wajahmu begitu? Kamu mencemaskan aku?" tanya Aksa sambil menunjuk kening Lisa dengan lembut. Lisa mencebikkan bibir.


 


"Ya. Aku cemas karena pria ini adalah playboy. Bisa saja di depanku dia setia, tapi di belakangku tidak. Aku mengenalmu Aksa," tuding Lisa.


 


"Aku itu benar-benar berubah, Lisa."


 


"Ya. Aku tidak tahu." Lisa mengalihkan pandangan ke arah aquarium lagi. Ada banyak ikan di sana. Aksa memeluk Lisa dari belakang.


 


"Jangan membuatku kesal. Sudah aku katakan aku bersungguh-sungguh," desis Aksa seperti sedang mengancam. Bibir Lisa tersenyum tipis. "Aku ingin segera mengenalkan mu sebagai kekasihku pada orang rumah."


 


"Mengenalkan?" tanya Lisa terkejut.


 


"Ya. Aku ingin mempublikasikan kamu pada semua orang."


 


"Jangan!" cegah Lisa panik.


 


"Kenapa? Kamu enggak setuju? Kamu mau kita sembunyi-sembunyi terus seperti ini?" tanya Aksa mendesak.


 


Aku tidak mau! Namun keadaan memaksa ...


 


 


"Karena aku sudah memilih, aku harus menegaskan salah satunya, Lisa. Aku harus bilang pada keluargaku kalau aku memilih kamu daripada Yora."


 


"Tidak." Lagi-lagi Lisa mencegah Aksa dengan raut wajah panik.


 


"Kamu aneh. Padahal aku ... " Lisa langsung membungkam bibir Aksa dengan bibirnya. Ia memutus kalimat Aksa agar tidak melanjutkan pembicaraan soal itu. Lalu melepaskan perlahan. "Lisa ...," desis Aksa tidak percaya. Jika biasanya ia yang ingin terus sama menciumi bibir ranum gadis ini, sekarang Lisa sendiri yang berinisiatif untuk melakukannya.


 


"Kenapa terkejut? Bukannya kamu biasa melakukannya dengan banyak wanita?" cemooh Lisa pada Aksa.


 


"Aku akui itu, tapi ini pertamanya kamu yang memulainya. Jadi ... aku merasa bahagia. Kamu pintar juga," puji Aksa dengan wajah menggoda dan menyebalkan.


 


"Cih," dengus Lisa sambil membuang muka. Sebenarnya ia malu karena memulai duluan. Aksa menarik lagi tubuh Lisa dan menciumnya.


 


Sepertinya ini akan jadi kenangan indah juga menyakitkan. Tidak apa-apa. Kenyataan bilang aku memang tidak bisa bersama Aksa. Lagipula kasihan kalau Aksa harus keluar dari keluarganya. Bukannya Candika dan perusahaannya sudah menjadi bagian dari kehidupan Aksa? Aku harus merelakan hubungan yang sejak awal sudah terlihat mustahil. Aku harus bisa melepaskannya.

__ADS_1


 


Sepertinya kakek tidak hanya mengatakan hal baik, beliau juga mengatakan pada Lisa untuk menjauh. Itu menyakitkan, tapi Lisa tidak bisa berbuat apa-apa.


 


...****************...


 


Maya menyisir rambut Yora. Dari pantulan cermin di depannya, Yora melihat Maya yang sejak tadi gelisah. Antara ingin bicara atau tidak.


 


“Kenapa kamu terlihat gelisah, Maya?” tanya Yora yang melihat sikap Maya aneh. Maya menghentikan gerakannya. Lalu duduk di samping Yora.


 


“Emm ... Kamu mendengar sesuatu?” tanya Maya aneh.


 


“Sesuatu? Apa itu?” Kening gadis ini mengerut. Melihat dari gelagat Yora, Maya yakin kalau gadis ini tidak mengerti.


 


“Sepertinya kamu belum tahu,” ujar Maya mengambil kesimpulan. Bola mata Yora mengerjap. “Nyonya Anne sedang membicarakan tentang tanggal pernikahan kalian. Apa kamu belum di beri tahu?”


 


“Me-menikah?” tanya Yora terbata-bata. Dari bola matanya yang melebar, gadis ini tidak bohong. Dia benar-benar baru mendengar berita yang Maya katakan. “Apa yang kamu bilang, Maya? Menikah?”


 


“Iya. Nyonya Anne mengatakan padaku ingin menyegerakan pernikahan.”


 


“Itu tidak mungkin, Maya.” Yora memegangi kepalanya dengan wajah panik dan bingung. “Jika menikah, bagaimana Kak Aksa? Dia tidak ingin menikah denganku. Bagaimana ini? Kak Aksa pasti marah besar. Dia pikir aku yang menginginkan ini.”


 


“Maaf, Yora. Aku tidak bisa membantu.”


 


“Oh, tidak. Aku harus memberi tahu Kak Aksa. Jangan. Aku tidak mau melihat dia marah. Aku akan menelepon Kak Noah.” Yora langsung mencari dimana ponselnya di letakkan tadi. Maya ikut mencari. Akhirnya ponsel itu bisa segera di temukan.


 


Yora menekan nomor telepon Noah. Namun pria itu tidak segara mengangkatnya. Ini makin membuat Yora gelisah. Ia berjalan kesana kemari.


 


“Aduhh ... Kemana Kak Noah ya? Kenapa dia enggak menjawab teleponnya?” gumam Yora.


 


“Duduk saja, Yora. Kamu bisa menunggu telepon itu di jawab dengan duduk,” ujar Maya memberi nasehat. Tanah Yora berayun menggerakkan kesepuluh jari-jarinya. Ia tidak bisa duduk dengan rasa gelisah seperti ini. "Ah, di angkat!" seru Yora saat suara dering menunggu habis. Itu artinya akan ada yang menyapa di telepon sana.


 


“Halo, Yora. Ada apa?” Suara lembut Noah menyapa. Entah kenapa Yora senang mendengar suara itu. Seakan rasa gelisah tadi lenyap.


 


“K-kak Noah mendengar kabar tentang aku ... dan Kak Aksa?” tanya Yora lambat. Rasanya tidak nyaman saat mengatakan hal ini. Dia yang bersedia menerima cinta pria ini meski tidak sepenuhnya, membuatnya kurang nyaman membicarakan hal yang berkaitan dengan Aksa. Dia takut melukainya.

__ADS_1


...______________...



__ADS_2