
“Oh, Aksa. Kamu datang dengan cepat,” kata Noah lega. Pria itu memutar untuk duduk di samping Lisa. Datang dengan cepat?
“Jadi kak Noah ...” Lisa menunjuk Noah.
“Ya. Dia memberitahuku tentang kamu yang mondar-mandir di depan gedung.” Aksa memotong kalimat Lisa. Gadis ini menoleh pada Aksa dengan cepat. Lalu mendengus.
“Maaf, ya,” kata Noah membenarkan kalimat Aksa dengan rasa bersalah. Lisa menghela napas. Ah sudahlah ... Tujuanku kesini memang ingin bertemu dia untuk berterima kasih.
“Tidak apa-apa. Aku juga sebenarnya ada perlu dengan dia,” kata Lisa membuka tujuannya ke gedung ini. Aksa melirik ke Noah. Seperti sengaja mengusirnya.
“Kalau begitu, aku pergi. Aksa pasti tidak ingin aku berada di sini lama-lama.” Noah melirik Aksa. Pria itu mengangguk samar. Lalu Noah beranjak. Lisa ingin menahan, tapi untuk apa? “Sudah ya Lisa. Maaf aku menahan mu pergi demi Aksa. Lain kali kita bicara. Aku memang ingin bicara soal Yora denganmu,” kata Noah. Lisa mengangguk mengerti. Pria itu pun pergi setelah menepuk bahu Aksa.
“Jadi kamu memang mencariku?” tanya Aksa takjub. Terlihat dia sangat gembira.
“Ya,” sahut Lisa datar. Ia agak gugup mengakuinya. Tangannya sibuk menggaruk pangkal hidung.
“Kenapa tidak ke ruanganku? Kamu bisa langsung kesana.”
__ADS_1
“Tidak.” Lisa tentu tahu diri. Jika saat memakai nama Yora, dia bisa bebas kesana kemari. Namun sebagai Lisa, dia bukan siapa-siapa. Melihat Lisa yang langsung menunduk saat menjawab pertanyaannya, Aksa berdehem.
“Ada perlu apa?” tanya Aksa lagi secara antusias. Dia langsung melanjutkan pembicaraan.
“Aku hanya ingin berterima kasih soal pesta kemarin. Karena kamu, resto tempat ku berkerja punya banyak orderan. Jadi itu membuat bos ku senang."
“Aku tidak melakukan apa-apa.” Meskipun kalimat yang keluar dari mulutnya adalah itu, tapi raut wajahnya berbeda. Pria itu tampak bangga. Lisa menipiskan bibir melihat itu.
“Mungkin iya, tapi karena panitia acara memilih resto tempat aku bekerja sebagai penyedia makanan dalam pesta, bos ku senang. Apalagi perusahaan ini membayar lebih. Jadi aku ingin secara langsung bilang terima kasih sama kamu.” Lisa lega bisa mengucapkan terima kasih. “Kalau begitu, aku permisi.”
“Apa?”
“Apa kamu hanya ingin mengucap terima kasih saat bertemu denganku, lalu pergi?" tanya Aksa tidak percaya.
“Iya. Aku hanya ingin bilang terima kasih.” Lisa menjawab dengan tegas.
__ADS_1
“Aku tidak puas.”
“Tidak puas? Apa maksudmu?” tanya Lisa heran.
“Setelah kamu muncul di sini, kamu akan menghilang lagi? Aku tidak suka itu," ujar Aksa. Bola mata Lisa mengerjap. Dia mulai was-was.
“I-itu urusanmu. Kalau aku itu, urusannya memang hanya ingin bilang terima kasih ke kamu. Enggak ada yang lain.” Lisa mulai berdiri. “Permisi. Aku mau pulang,” pamit Lisa. Namun Aksa tidak membiarkan gadis ini pulang. Dia menahan Lisa pergi. Gadis ini terkejut melihat cekalan tangan Aksa pada Lengannya. “Kenapa menahan ku?” tanya Lisa geram.
“Ikut aku.” Setelah mengatakan itu, Aksa menarik lengan Lisa. Karena tindakan ini, semua orang yang ada di sana melihat semua secara bersamaan. Tentu saja itu menarik perhatian mereka. Apalagi Aksa atasan mereka.
“Hei Aksa, hentikan ini. Semua orang melihat kita. Ini akan membuat mereka berpikir macam-macam tentang aku dan kamu.” Lisa panik. Ia sibuk menutupi wajahnya dari yang lain.
“Tidak apa-apa. Biarkan saja mereka berpikir sesuka hati." Aksa rupanya tidak peduli pandangan mereka. Dia terus saja menarik tangan Lisa dan akhirnya masuk ke dalam lift.
“Lepaskan aku,” kata Lisa dengan sedikit menggeram. Aksa melepaskan tangannya. “Kamu kenapa sih, menarik tanganku segala? Kamu enggak takut kalau mereka berpikir macam-macam. Apalagi mereka tahu kamu punya tunangan.” Lisa memijit tangannya.
"Aku katakan sekali lagi ... aku tidak masalah dengan itu." Aksa mengatakan dengan ekspresi tidak main-main.
__ADS_1
..._______...