Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 43 Sikap yang lembut


__ADS_3


Saat pertandingan di mulai, mereka sangat antusias memberi semangat pada tim sekolah Arka. Karena terlalu bersemangat, kaki Lisa luput berdiri di pijakan. Tubuhnya oleng. Gadis ini hampir saja terjatuh ke anak tangga berikutnya jika bukan karena tarikan tangan seseorang.


 


"Dasar bocah. Kenapa berdiri saja tidak benar?" tegur Aksa yang muncul di belakang Lisa. Tenyata yang menyelamatkannya dari terguling ke bawah adalah dia. Bola matanya membelalak terkejut dengan kemunculan pria ini.


 


"Kak Aksa?" Allen yang tidak berhasil meraih tangan Lisa melebarkan mata senang. Sebagai adik, tentu Allen gembira bertemu dengan kakaknya. Berbeda dengan Lisa yang sebenarnya tidak ingin bertemu.


 


Kenapa harus ada dia? Kenapa? tanya Lisa dengan mata sedih menatap pria ini.


 


"Sudah berdiri dengan benar? Aku akan melepaskan tanganku," ujar Aksa memberitahu. Lisa langsung memposisikan tubuhnya dengan benar. Lalu melepaskan tangannya dari tangan Aksa tanpa terima kasih.


 


"Kenapa bisa muncul di sini?" tanya Allen.


 


"Tidak sengaja lewat," sahut Aksa seraya melihat ke arah Lisa. Tatapannya masih curiga. Sungguh mencurigakan jika di bilang hanya lewat. Gedung olahraga ini tidak terletak di jalan besar. Masih masuk kedalam melewati double way. Lagipula tidak dekat dari tempat pagelaran busana Tiara. "Kamu sakit?" Aksa menunjuk masker yang di pakai Lisa.


 


"Tidak."


 


"Kenapa pakai masker?"


 


"Lagi alergi debu," jawab Lisa singkat. Aksa diam. Memindai tampilan baru yang sangat amat jarang sekali dipakai oleh gadis bernama Yora. "Tidak jadi menghadiri pagelaran pakaian milik Tiara?" tanya Lisa bermaksud mencari topik. Juga ingin menghentikan pandangan Aksa padanya.


 


"Kenapa? Itu urusanmu?" tanya Aksa ketus. Lisa berdecih. Bersumpah tidak lagi menanyakan soal wanita itu.


 


"Tentu saja bukan. Maaf, jika kamu tersinggung." Lisa berusaha mengambil jalan damai.


 


"Kenapa sih? Kak Yora kan hanya tanya saja." Allen membela Lisa. Aksa menipiskan bibir diprotes adiknya.


 


Benar. Aku hanya iseng bertanya soal itu, yang sebenarnya baru aku tahu dari Allen barusan.


 


Suara bergemuruh dari supporter di tribun menggema. Karena sibuk dengan Aksa, Lisa melewatkan permainan. Skor bertambah untuk tim Arka. Itu sangat menggembirakan. Bibir Lisa tersenyum samar.


 


"Arka sedang bertanding?" tanya Aksa seraya ikut melihat ke lapangan basket di bawah sana.


 


"Ya. Dia pemain hebat sepertinya," kata Allen.


 


"Bukan sepertinya. Arka memang pemain hebat di tim basket. Dia kapten,” ujar Lisa dengan tetap melihat ke arah lapangan. Bukan salah Lisa jika mulutnya bicara dengan lancar tentang cowok itu. Bukannya ia ceweknya Arka. Wajar saja jika ia tahu segalanya.


 


"Wahhh ... memang hebat dong Kak Arka." Allen senang mendengar informasi soal prestasi kakaknya. Berbeda dengan Aksa yang langsung bertanya,


 

__ADS_1


"Jadi kamu sangat paham soal Arka?"


 


Tidak ada yang salah dari pertanyaan Aksa, tapi itu terdengar menegangkan bagi Lisa. Apalagi sekarang dirinya adalah Yora. Gadis yang di dalam otaknya hanya berisi tentang Aksa dan Aksa.


 


Bibir Lisa diam. Dia terlalu bersemangat menjelaskan soal Arka.


 


***


 


Pameran pakaian milik Tiara. Sebelum pria ini tiba di GOR.


 


Aksa duduk di bangku VIP. Kakinya menyilang rapi sambil melihat model berlalu Lalang memamerkan desain terbaru dari tangan Tiara. Tidak ada yang istimewa dari fashion show seperti ini. Aksa memenuhi undangan karena itu Tiara.


 


Ponsel Aksa bergetar. Ia sengaja menggunakan mode silent demi kenyamanan acara ini. Ternyata papa menghubungi. Ini sangat jarang sekali.


 


"Ya, Pa."


 


"Jemput adikmu di GOR Garuda."


 


"GOR?"


 


 


Tunanganku? Apakah itu maksudnya adalah Yora?


 


Aksa bergerak menjauh dari pagelaran busana. Ia ingin menghubungi Allen. Sampai di lorong gedung, Aksa menelepon adiknya. Berulang kali menelepon, Allen belum menerimanya. Setelah sekian kali, Allen baru menerima teleponnya.


 


"Ya! Ada apa Kak Aksa?!"


 


"Kamu nonton basket dengan Yora?"


 


"Kak Yora?! Ya! Dia sedang bersamaku! Ya, kita nonton basket."


 


"Jika acara sudah selesai jangan pulang. Aku akan kesana menjemput kalian."


 


"Ya!"


 


Aksa yakin mereka memang sedang berada di GOR untuk menonton pertandingan basket. Karena suara memekakkan telinga di belakang Allen sangat dikenalnya. Tanpa berpikir yang lain pun, ia bergegas menuju ke tempat mereka.


 


***


 

__ADS_1


Aksa sebenarnya kesulitan menemukan gadis itu. Namun ia tetap tidak ingin menggunakan  ponselnya untuk menghubungi Allen dan bertanya dimana mereka sekarang.


 


Entah kenapa dia mau bersusah payah. Padahal ini gedung penuh dengan banyak anak sekolah. Tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang tegas sekaligus tidak muda lagi membuat semua penonton yang rata-rata anak sekolah menengok ke arahnya.


 


Apalagi ciwi-ciwi yang suka banget lihat om-om ganteng.


 


Belum lama ia berputar untuk mencari Allen dan Yora, ia menemukan mereka yang ternyata tidak jauh dari pintu masuk di tribun tengah.


 


Awalnya Aksa tidak paham kalau cewek dengan hoodie di samping Allen adalah Yora. Ia malah berpikir, gadis dengan tampilan manis di sebelah kiri Allenlah adalah Yora.


Namun saat tubuh gadis itu limbung ke depan dan hendak terjatuh, Aksa reflek menangkap tangan gadis itu. Ada cincin yang ia kenal di jari manisnya. Itu dari keluarganya. Dari sana ia sadar bahwa gadis ini adalah Yora.


 


***


 


Allen turun ingin menemui Arka. Pertandingan selesai dengan kemenangan dari tim sekolah Lisa. Arka menang. Lisa ragu untuk ikut karena keadaan makin rumit. Ada pria ini.


 


"Ayo, Kak Yora," ajak Allen. Akhirnya Lisa mau ikut juga. Ia ingin melihat Arka dengan kostimnya dengan tubuh masih berpeluh. Kadang itu tampak menakjubkan baginya.


 


Arka yang sudah keluar dari ruang tunggu pemain terkejut dengan kemunculan Aksa yang berdiri di belakang Lisa dan Allen. Lalu bola matanya berganti melihat ke arah Lisa.


 


Bola mata Lisa mengerjap. Merasa bersalah karena sekarang bersama Aksa. Namun ia singkirkan pemikiran itu, karena Aksa datang bukan karena dirinya. Dia tidak salah.


 


"Kak Arka, selamat ya ... " Suara Allen mengalihkan perhatian Arka dari Lisa.


 


"Ya. Terima kasih, Allen." Arka tersenyum.


 


"Selamat, kamu menang. Jadi bisa lanjut babak selanjutnya." Aksa mengucapkan selamat juga. Meski tidak menonton dari awal, akhir pertandingan juga mampu membuat dia tahu keadaan pertandingan. Bukannya ada papan skor yang menunjukkan tim mana yang menang?


 


"Ya," sahut Arka singkat.


 


Sebenarnya Lisa ingin menjadi orang pertama untuk mengucapkan selamat, tapi itu tidak mungkin saat dirinya menjadi Yora. Alhasil Lisa menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat pada cowok itu.


 


"Selamat ya ...," ujar Lisa tidak terlalu ingin menunjukkan keakrabannya. Allen saja langsung berpikir bahwa mereka mengenal sejak lama karena itu, maka sekarang ia mencoba menata sikap.


 


"Terima kasih,” sahut Arka.


 


Namun Arka tetaplah Arka. Meski di depan Aksa, ia tidak bisa bersikap tidak kenal sama sekali dengan gadis di hadapannya. Selain kenal, Lisa juga kekasihnya. Suaranya terdengar lembut. Sangat berbeda dengan Arka biasanya. Lisa terkejut Arka bersikap apa adanya.


 


Ini di tangkap oleh Indra pendengaran Aksa. Dia langsung menoleh pada Arka. Memandangnya lama. Keningnya berkerut. Berpikir.


______

__ADS_1


__ADS_2