Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 39 Menggali informasi


__ADS_3


"Bagaimana pertemuan mu dengan Aksa?" tanya Arka saat jam istirahat tiba.


"Hanya begitu saja. Tidak ada yang spesial," jawab Lisa enteng.


"Sungguh?" tanya Arka tidak percaya.


"Tentu saja. Apa yang kamu tanyakan?" Lisa tidak setuju.


"Aku wajib bertanya." Arka menegaskan kalau ia punya hak.


"Aku tahu." Lisa menyeruput kuah dari es buahnya.


"Sungguh mengejutkan bahwa Noah dan Aksa akan bertemu denganmu di lapangan basket itu." Arka membicarakan saat mereka main basket bareng malam itu.


"Aku juga tidak mengira mereka akan muncul di sana." Lisa menghela napas ingat kejadian itu.


"Jadi Sera kenal dengan Noah?"


"Ya. Soal itu aku tahu sejak awal. Sebelum aku menjadi Yora."


"Lalu ... yang menghubungkan Noah dan Yora selain karena dia adalah sepupu Aksa, apa?" tanya Arka yang heran.


"Sepertinya Noah mencintai Yora."


"Benarkah?" Arka terkejut. Lisa mengangguk.


"Sera yang cerita," imbuh Lisa memberi keterangan siapa narasumbernya. "Namun semuanya masih aman. Aku tetap bisa menjadi Yora."


"Semoga semuanya baik-baik saja sampai kamu selesai melakukan tugasmu. Kalau bisa, sekarang juga hentikan sandiwara itu dan berhenti berhubungan dengan Aksa."

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, Ka."


"Tidak ada yang tidak mungkin. Aku bisa meminta uang ke mama untuk mengganti biaya ... "


"Sorry. Mungkin kamu tidak tenang saat aku bersama dengan pria-pria itu. Aku mengerti. Ini tidak lama Arka." Lisa menyentuh tangan cowok ini. Arka menghela napas.


"Oke. Jangan lupa nonton kompetisi basket."


"Tentu. Aku pasti lihat. Harus jadi supporter buat kamu, kan?" Lisa menaikkan alisnya. Arka tergelak.


***


Tuk, tuk, tuk. Terdengar suara ketukan ujung bolpoin di atas meja. Aksa yang sedang duduk di atas kursi di ruang kerjanya, melihat ke depan tanpa fokus. Kadang keningnya berkerut. Kadang alisnya terangkat. Pria ini tengah memikirkan sesuatu.


"Semua hal yang di katakan Noah soal Yora begitu berbeda. Namun dia masih tinggal di rumah keluarganya," gumam Aksa. Ia sedang memikirkan gadis itu. Ada curiga dan ragu di sana.


Ponselnya berdering. Tenyata itu dokter yang melayani keluarga Candika, dokter Reyhan.


"Aku pikir kau tidak mempedulikan teleponku."


"Tentu tidak. Keluargamu yang menggajiku." Reyhan tahu itu mustahil. "Kenapa bertanya soal pasien koma? Kamu sedang mengkhawatirkan seseorang?" tanya dokter Reyhan heran.


"Katakan saja apa yang kamu ketahui, dokter," desis Aksa.


"Oke. Setelah bangun dari koma, biasanya orang akan mengalami hilang ingatan sebelum kejadian dan kesulitan untuk menyimpan informasi yang baru diterimanya."


"Jadi semua itu bisa merubah banyak hal yang menjadi favorit dan sesuatu yang tidak di sukai orang yang pernah dalam keadaan koma? Contoh. Awalnya orang ini pendiam, setelah bangun dari koma dia bisa jadi orang yang rusuh. Apa bisa begitu?" tanya Aksa.


"Tentu. Banyak hal aneh yang terjadi pada orang setelah bangun dari koma. Itu tidak bisa di jelaskan dengan logika. Namun semua bisa terjadi. Siapa yang kamu maksud Aksa?" Reyhan penasaran. Tentu saja. Jarang sekali pria ini peduli dengan orang dengan cara seperti ini.


"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu."

__ADS_1


"Apa kamu mau mengganti profesi sebagai dokter juga?"


"Tentu tidak. Karena aku bisa menggeser posisimu dengan mudah."


"Hahaha ... Lalu apa?" Reyhan masih bertanya. Klik! Tiba-tiba saja Aksa memutuskan telepon. Reyhan menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat ke layar ponsel dengan heran. Keningnya mengerut. "Apa-apaan barusan? Hanya sekilas pertanyaan aneh? Dasar Aksa. Kenapa dia memikirkan soal orang koma? Bukankah biasanya otaknya selalu memikirkan wanita?" Reyhan menggelengkan kepalanya.


Di tempatnya, Aksa masih mengerutkan kening saat ponsel sudah di matikan. Dia yang awalnya merasa mendapatkan sesuatu, kini merasa ragu lagi.


"Kenapa aku harus melakukannya? Kenapa mencari informasi?" Aksa berdecak. Menyadari dia melakukan sesuatu yang menurutnya tidak penting. "Sialan. Gadis itu ... " geram Aksa.


Ponselnya kini berdering lagi. Namun itu bukan Reyhan, melainkan Tiara.


"Halo, honey ... " Dengan cepat dan tangkas, Aksa menerima telepon dari wanita itu.


"Kemana saja Aksa? Kamu tidak pernah menelpon atau mengunjungiku," sembur wanita itu.


"Benarkah? Aku rasa aku hanya sibuk." Aksa sempat melupakan wanita ini.


"Sibuk dengan gadis ingusan calon istrimu itu?" tanya Tiara menunjukkan rasa cemburunya. Aksa memejamkan mata sebentar sembari menipiskan bibir. Ia memang sempat melupakan wanita ini karena sibuk ke sana kemari mencari informasi tentang seseorang.


"Hei ... aku punya banyak pekerjaan. Bukan hanya mengurusi bocah itu ..." kilah Aksa.


"Terserahlah. Kamu harus datang ke acara launching pakaianku. Aku sudah menyelesaikan proyek desain baru."


"Oke. Beritahu aku dimana tempat peluncuran pakaian itu, aku akan datang kesana."


"Jangan ingkar. Kamu harus datang. Aku sediakan kursi VIP untukmu."


_____


TUNANGAN PALSU

__ADS_1


__ADS_2