
Aksa dan Lisa menoleh ke asal suara. Mereka sama-sama mendengar ada seseorang yang memanggil nama pria ini.
Heh? Tiara? Jadi beneran nih, Tiara ada di sini? Padahal aku asal aja menggerutu dan nyebut nama dia. Ternyata benar. Setiap perkataan adalah doa. Jadi jangan bicara macam-macam.
Wanita itu menghampiri Aksa. Lisa yang kebingungan mau apa, diam saja di tempatnya berdiri. Perempuan ini melewatkan Lisa yang lebih dulu masuk. Tiara langsung memeluk Aksa. Membuat semua orang melihat ke arah mereka.
"Aku tidak pernah berpikir akan bertemu denganmu di sini," ujar Tiara begitu merasa surprise.
Woho ... mereka berdua memang pasangan yang tepat. Satu cantik, satu lagi tampan. Eh, kenapa jadi mengomentari si Aksa. Lebih cakep pacarku, Arka.
Lisa membuang muka ke arah lain.
"Iya, aku juga surprise,” sahut Aksa seraya melepaskan pelukan Tiara dari tubuhnya. Perempuan ini heran. Namun karena Aksa melepas pelukannya dengan pelan, Tiara kembali memeluk.
"Aku rindu, Aksa," kata Tiara lembut. Aksa kembali melepas tangan Tiara yang sedang melingkar di pinggangnya. Perempuan ini kembali terheran-heran.
"Aku tidak sendiri, Tia," kata Aksa seraya menahan tangan Tiara yang masih ingin memeluknya lagi.
"Tidak sendiri?" Tiara terkejut. "Siapa? Siapa yang menemanimu kali ini? Wanita yang mana, Aksa? Katakan padaku." Kepala Tiara menoleh ke belakang. Mengedarkan pandangan mencari sosok wanita yang kemungkinan meminta pria ini menemaninya ke salon kecantikan.
Tidak ada yang terlihat takut ketahuan atau mencurigakan. Bahkan tidak ada yang mendekat ke Aksa untuk menunjukkan bahwa dirinya kini menguasai pria tampan ini.
Lisa memang sedang bersama Aksa sekarang, tapi dia tidak peduli dengan emosi wanita itu. Terserah.
__ADS_1
Sret!
Tiba-tiba saja Aksa menarik lengan Lisa untuk mendekat padanya. Lisa mendelik di tarik begitu.
"Siapa wanita ... Oh!" Tiara terkejut. Kalimatnya langsung terpotong. Saat dia kembali menghadap ke arah pria ini, dia melihat ada seseorang berdiri di samping Aksa. Mungkin jika hanya berdiri saja Tiara tidak akan heran. Namun tangan Aksa tampak menahannya.
"Aku sedang bersamanya, Tia." Aksa memberi tahu.
"Dia siapa?" tunjuk Tiara mengernyitkan dahinya.
Tiara tidak bisa melihat dengan jelas karena Lisa menutup kepalanya dengan tudung jaketnya lagi barusan. Aksa membuka tudung jaket itu. Lisa langsung menoleh dan mendelik protes. Aksa tidak peduli.
"Emmm ... Nayora Wijaya?!" tebak Tiara sangat terkejut. Dia tidak menyangka bahwa gadis yang terlihat kusut itu adalah tunangan Aksa.
Lisa menghela napas. Kemudian tersenyum pada Tiara yang memperhatikannya. Raut wajah itu merasa ngeri.
Sialan! Oke. Aku memang tidak cantik sepertimu.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia tampak tidak seperti biasanya?" tanya Tiara. Mungkin maksud Tiara adalah cara berpakaiannya. Jika biasanya dia terlihat sebagai gadis kue, sekarang gadis ini lebih terlihat sebagai gadis mamba. Terlihat lebih galak dan bebas.
"Oh, ya? Di mataku, dia terlihat normal," ujar Aksa sambil melihat ke arah Lisa. Dia mengerti maksud Tiara. Karena ini tampilan Lisa sesungguhnya. Bukan Lisa yang menyamar sebagai pengganti Yora.
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu biasa mengantarkan gadis ini kemana-mana?" tanya Tiara lirih. Ada iri di hatinya. Lisa mencebik di dalam hati melihat Tiara melirik tidak suka padanya.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Aksa santai. Melihat ada celah, Lisa melepaskan tangan Aksa dari lengannya. Lalu memilih duduk di sofa karena lelah jika harus menunggu Aksa dan Tiara bicara. Aksa tersentak kaget, melihat ke arah Lisa yang menjauh darinya.
“Aku membicarakan bocah yang sedang bersamamu,” sahut Tiara.
"Nona Tiara dan Nona Yora, silakan ...," kata karyawan salon kecantikan memanggil. Lisa terkejut. Padahal tidak ada yang mendaftar, tapi nama Yora di panggil. Dia menoleh pada Aksa. Tidak paham maksud pemanggilan nama Yora di sana. Pun karena dia tidak tahu apa benar itu Yora dirinya atau bukan.
"Kita bicara nanti saja." Aksa langsung mendekat ke arah Lisa. "Ayo, mereka sudah memanggilmu," kata Aksa meminta Lisa berdiri.
"Kapan kamu mendaftarkan nama Yora?" tanya Lisa pelan saat sudah berdiri.
"Aku sudah membuat janji dengan salon ini untuk melayanimu." Aksa menyentuh bahu Lisa dan membimbing gadis ini untuk mengikuti karyawan salon.
***
Lisa sudah berganti pakaian khusus salon ini. Perawatan di mulai dari creambath dulu. Dan ternyata, Lisa tidak sendirian di ruangan ini. Ternyata dia di layani berbarengan dengan Tiara. Ini membuat suasana tegang terasa. Lisa tidak peduli, tapi wanita itu terus saja melihatnya.
Kenapa harus bersamaan dengannya, sih.
Ia memejamkan matanya saat kepalanya mulai di pijat. Lisa ingin menikmati pelayanan salon kelas atas ini.
Enak sekali. Aku merasa nyaman. Pelan-pelan tubuhku mulai rileks. Untung saja aku ikut. Kalau tidak, aku tidak pernah mendapat kenyamanan seperti ini.
__ADS_1