Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 150 Kakek ke rumah Lisa


__ADS_3

Tadi siang sebelum menemui Aksa di ruang kerjanya.


Setelah melihat Lisa di rumah sakit dengan Aksa, kakek sengaja mendatangi rumah keluarga gadis itu tanpa Aksa.


"Benar ini rumahnya?" tanya Kakek di dalam mobil saat Pak Aknam menghentikan mobil tepat di depan warung keluarga Lisa.


"Benar, Pak." Pak Aknam yakin akan informasi yang di kumpulkan orang-orangnya. Kakek turun dari mobil dan melihat sekitar. Melihat ada mobil yang parkir di halaman, Bi Sarah mengira bahwa ada pelanggan baru.


"Selamat datang di warung sederhana kami," ucap Bi Sarah ramah. Kakek mengamati wanita ini dan mengangguk. "Silakan masuk, Tuan-tuan." Bi Sarah mempersilakan kakek dan Pak Aknam masuk ke dalam warung. Namun ternyata di dalam warung ramai.


"Duduk di dalam rumah saja, Pak. Di sini penuh," kata ibu Lisa yang melihat pembeli datang dengan ramah. "Antar ke dalam rumah, Sarah."


"Siap. Mari Pak," kata Bi Sarah membimbing Kakek Candika masuk ke dalam rumah. Padahal hampir saja ini jam 2 siang. Itu tandanya warung akan tutup. Namun mendadak ramai pembeli.


Bola mata kakek masih sibuk memperhatikan sekitar.


"Mau pesan apa?" tanya Bi Sarah sambil menunjuk menu sederhana yang tersedia di dinding.


"Apakah benar ini rumah orangtua Lisa?" tanya kakek mengejutkan.


"Lisa?" tanya bi Sarah melebarkan bola matanya.


"Benar. Aku ingin bertemu dengan orangtuanya," kata Kakek.


Bola mata Bi Sarah memperhatikan kedua orang ini. Ia tidak pernah melihat orang-orang ini sebelumnya. "Ada perlu apa dengan keponakan saya?" tanya Bi Sarah curiga.


"Beliau ini adalah pemilik ..."


"Aku kakek Aksa. Kekasih gadis itu," sahut kakek yang langsung memotong kalimat Pak Aknam yang ingin mengatakan siapa beliau sebenarnya.


"Aksa?" Bi Sarah terkejut. Dia tentu ingat siapa itu. Pria hot yang jadi favoritnya untuk jadi calon suami keponakannya. "Ah, benar. Ini memang rumah orangtua Lisa. Saya bibinya." Bi Sarah mengulurkan tangan. Mereka pun bersalaman. "Maaf. Saya permisi sebentar." Sarah segera melesat ke depan. Mendatangi kakak iparnya dan berbisik.


"Benarkah?" tanya ibu terkejut saat di beri tahu oleh Sarah. Beliau melongok ke belakang. Ke dalam rumah dimana ada kakek yang terus saja memperhatikan rumah keluarga Lisa. "Sudah, Sarah. Kasih beliau minum dulu. Aku harus menuntaskan ini dulu baru ke dalam menemui beliau. Panggil mas mu juga di dalam. Kasih tahu soal kedatangan keluarga Aksa," bisik ibu Lisa mulai tidak tenang.


"Iya, Mbak." Sarah ke belakang membuatkan minum. Sementara itu ibu melanjutkan melayani pembeli. Tidak lama Bi Sarah kembali menemui kakek Candika seraya membawa nampan berisi minuman. "Apakah kakek datang sebagai wali Aksa untuk melamar keponakan saya lagi?" Bi Sarah tersenyum senang.


"Melamar lagi?" Kakek yang tidak tahu apa-apa heran. Pak Aknam yang tidak mendapatkan informasi apapun soal melamar ini juga agak terkejut.

__ADS_1


"Ya. Aksa pernah melamar Lisa di depan keluarganya. Namun karena belum pernah di kenalkan pada keluarganya, dia tidak mau. Percuma kalau melamar tapi keluarga sendiri enggak kenal, kan? Apa kakek tidak tahu soal lamaran Aksa ini?"


Kakek terdiam.


"Ini di minum dulu. Saya panggilkan orang tua Lisa sebentar ya, Kakek." Dengan sopan Bi Sarah pergi lagi setelah meletakkan minuman untuk tamu itu.


"Melamar? Apa Aksa pernah melamar gadis ini?" tanya Kakek pada Pak Aknam di sebelahnya.


"Maaf, saya tidak mendapat informasi apapun soal itu, Pak," kata Pak Aknam.


"Dasar bocah itu. Dia pikir siapa aku ini? Seenaknya saja melakukan lamaran tanpa pikir panjang. Memangnya melamar itu bisa seenaknya seperti itu ...," gerutu kakek.


"Mungkin, saat itu karena cucu Anda belum yakin pada keluarganya. Bukannya Anda menjodohkan dia dengan nona Yora?"


"Anak ini ... "


"Cucu Anda pasti tidak ingin kelihatan bermain-main saat mendekati gadis ini, Pak. Jadi saat ada kesempatan meskipun itu sebentar, dia langsung maju pantang mundur untuk menunjukkan keseriusannya," kata Pak Aknam bijak.


"Hhh ... Itulah. Aksa tidak biasanya seserius itu mendekati wanita. Apalagi ini adalah seorang gadis. Jadi aku sempat terkejut dan ingin segera menemui keluarganya."


Sementara itu, Bi Sarah melihat kakaknya keluar dari kamar mandi. Bapak Lisa habis mandi tadi.


"Tamu? Siapa?"


"Keluarganya Aksa," jawab Bi Sarah mengejutkan.


"Keluarganya anak itu?" Bapak Lisa terkejut seraya melongok ke ruang depan. "Apa orangnya ada di warung?"


"Enggak Mas. Bapak itu ada di ruang tamu. Itu kakeknya Aksa. Mbak nyuruh Mas menemuinya dulu. Mbak masih melayani pembeli. Sebentar lagi aku ke depan menggantikannya. Mas temui saja dulu," usul Sarah. Bapak Lisa mengangguk.


**


"Selamat siang," sapa bapak saat muncul di ruang tamu.


Kakek yang duduk di karpet mendongak. "Siang," sahut kakek dengan suara berwibawa. Pak Aknam juga ikut mendongak.


"Sudah. Ini ... keluarganya Aksa?" tanya Bapak langsung dan ikut duduk di karpet.

__ADS_1


"Ya benar."


"Saya Bapaknya Lisa. Duduk di atas saja, Pak. Biar lebih nyaman," kata Bapak meminta tamunya untuk duduk di kursi saja.


"Tidak. Tidak apa-apa. Aku bisa duduk di karpet." Kakek menolak. Akhirnya Bapak ikut duduk di atas karpet. "Ini pertama kalinya aku datang ke rumah Lisa."


Bapak Lisa mengangguk. "Ya. Saya terkejut dengan kedatangan Anda yang mendadak ini."


"Aku mengejutkan kalian rupanya." Kakek menyadari kekeliruannya.


"Tidak. Tidak apa-apa. Anda kakeknya Aksa?" tanya Bapak sekedar memastikan.


"Benar, aku adalah kakek Aksa. Jadi bocah itu sering mengunjungi rumah ini?" tanya Kakek mencoba mencari bahan pembicaraan. Karena sebenarnya beliau sudah tahu tentang cucunya yang menjalin kasih dengan putri keluarga ini.


"Betul."


"Apakah cucuku benar pernah melamar putri Anda?" Meski sudah tahu dari Bi Sarah, kakek ingin mendengar langsung dari mulut orangtua gadis itu.


"Apa Aksa sudah bicara dengan keluarganya soal melamar Lisa?" Bapak balik tanya.


"Soal itu ..." Kakek juga kebingungan.


"Selamat siang," sapa ibu yang mulai muncul di pintu. Beliau menyerahkan urusan warung pada adik iparnya. Lagipula ada Giri yang baru pulang sekolah. Jadi Bi Sarah tidak sendirian.


"Siang," sahut kakek dan Pak Aknam.


"Kenapa tidak di ajak duduk di atas, Pak?" tegur ibu sembari mendelik sekilas pada suaminya.


"Tidak apa-apa. Begini juga sudah nyaman," kata kakek. Ibu tersenyum.


"Ini kakeknya Aksa, Buk." Bapak mengenalkan.


"Saya ibunya Lisa."


Kakek menganggukkan kepala.


"Saya pikir tidak akan ada keluarga Aksa yang datang ke rumah ini, karena saat itu Aksa datang lalu tiba-tiba bicara ingin melamar putri kami," kata ibu sedikit menohok. Kakek menatap ibu Lisa dengan serius. "Melamar mungkin memang ada di dalam benak cucu Anda, tapi apakah benar keluarganya setuju dengan keputusan Aksa? Saya ragu. Untung saja Lisa tahu diri dan menolak. Dia ingin melihat dulu perkembangan hubungannya dengan cucu Anda."

__ADS_1


...____...



__ADS_2