
Setelah berpamitan pada kakek, mereka berdua pulang.
"Apa tadi?" tanya Aksa seperti sedang menegur saat mereka berjalan di lorong.
"Apa?" tanya Lisa seraya sibuk dengan ponselnya. Dia tidak menengok pada Aksa.
"Kadang aku baik, kadang tidak." Aksa mengulang kalimat Lisa pada kakek tadi.
"Oh, itu. Aku hanya ingin mengajak kakek bercanda." Lisa menjawab dengan santai.
"Kamu tidak tahu, kakek tidak suka bercanda," kata Aksa. "Tadi itu hanya sebuah keberuntungan saja. Jangan berpikir kamu bisa seenaknya bicara santai pada kakek meski beliau menyukaimu."
"Entahlah. Yang aku tahu saat bertemu kakek di rumah sakit beberapa hari yang lalu, kakek itu orang yang ramah." Lisa tidak sadar kalimatnya membuat Aksa memicingkan mata heran.
"Beberapa hari yang lalu? Setahuku tidak ada yang tahu kalau kakek di rawat di rumah sakit ini," kata Aksa membuat Lisa langsung menoleh cepat dan menyimpan ponselnya.
"Aku bilang begitu? Sepertinya salah, hahaha ___ Maksudku, bukannya kakek itu memang sangat baik? hahaha ____" Lisa langsung meralat kalimatnya. Meskipun tertawa, itupun juga terasa garing.
Sial! Kenapa aku keceplosan sih? Ini gara-gara lagi chat sama Arka ...
Aksa tidak mempedulikan kalimat yang di ralat gadis ini. Dia masih memikirkan kalimat Lisa yang aneh. Bertemu di rumah sakit? Itu tidak masuk akal.
Kakek sengaja menyembunyikan rumah sakit tempat beliau di rawat. Bahkan Adiwangsa tidak di ijinkan menjenguk jika tidak di beri perintah. Kakek terlalu kesal dengan putranya yang tiba-tiba saja membawa perempuan lain ke dalam rumah. Kakek marah besar soal itu.
Lisa ingin bicara lagi. Menegaskan bahwa ia keliru, tapi usaha itu dirasa percuma. Aksa tidak mempedulikan kalimat kedua. Pria ini terpaku pada kalimat yang pertama saja.
Sudahlah. Semoga dia cepat lupa, harap Lisa.
Tidak sengaja di lorong, Lisa melihat seseorang yang dikenalnya di ujung. Itu tetangganya. Bola mata Lisa membeliak dan kepalanya berpaling. Ia gugup.
__ADS_1
Kenapa harus ketemu tetangga, sih?
"Aksa, sepertinya lebih baik kita lewat jalan kanan saja," kata Lisa langsung inisiatif untuk kabur.
Aksa menoleh.
"Kenapa?" tanya Aksa datar. Bukan heran. Pria ini hanya tidak ingin mengabulkan permintaan gadis ini. Lisa tahu itu. Bibirnya menipis menahan geram, tapi dia harus berusaha.
"Karena kita datang lewat sebelah kiri, aku rasa suasana akan berbeda jika kita ganti lewat jalan kanan," jelas Lisa yang hanya sebuah alasan saja. Aksa diam. Matanya menatap gadis di sampingnya dengan tajam.
Lisa menelan ludah.
"Tidak," jawab Aksa tegas.
Sial, umpat Lisa di dalam hati. Bagaimana ini ...
Mereka terus berjalan lurus. Sementara Lisa panik sendiri. Aksa melirik dari ekor matanya. Dia memperhatikan gadis ini. Awalnya tetangga Lisa tidak memperhatikan dan hendak berlalu. Namun kemudian berhenti dan melongok ke arah Lisa.
"Hei, aku pikir siapa. Ternyata kamu, nduk. Kelihatan mirip anak gedongan," ujar ibu itu menemukan Lisa dengan cepat. Tangannya membelai lengan gadis ini.
Gawat!!
"Oh ya? Hahaha ...." Lisa tertawa kaku. Aksa memperhatikan.
"Barusan aku dari bapakmu. Semoga cepat sehat ya," kata ibu itu mendoakan.
"Terima kasih," jawab Lisa ingin segera tetangganya ini pulang. Lisa memalingkan wajah. Berusaha menghindari tatapan Aksa yang menyelidik kearahnya.
Oh, tidak. Oh, tidaaakkk!
Bibir Lisa memang tetap bungkam, tapi hatinya menjerit tidak karuan. Berbagai rapalan doa agar tidak di temukan oleh Aksa di ucapkan.
__ADS_1
"Kamu mengenal banyak orang ya?" tanya Aksa. Lisa yang tadinya meringis ke arah lain, kini berpaling pada Aksa dan tersenyum.
"Mungkin ibu itu keliru orang." Lisa punya banyak alasan.
"Oh, ya? Bahkan kamu mengucapkan terima kasih."
"Aku tidak harus merengut, kan?"
"Terlihat natural sekali tadi." Aksa gigih dengan sikap curiganya. Lisa memilih tidak menjawab pada akhirnya. Ia sudah merasa kehilangan kata-kata. Untung saja Aksa tidak bertanya macam-macam. Jadi Lisa bisa bernapas lega.
**
"Aku ingin tahu tentang nyonya Anne," kata Aksa pada Noah saat jam makan siang.
"Nyonya Anne?" tanya Noah heran. "Apa ... seleramu soal wanita berubah?"
"Jauh sekali pikiranmu, Noah. Tentu saja tidak." Aksa sangat geram dengan pemikiran sepupunya.
"Ini sangat tidak biasa, Aksa." Noah tergelak.
"Walaupun begitu aku masih waras. Bukannya lebih baik aku ganti memilih gadis seperti Nayora jika ingin ganti selera." Maksud Aksa adalah bercanda, tapi air muka Noah langsung berubah. Dia termakan kata-katanya sendiri.
"Kamu tidak akan mengubah selera mu soal wanita," tutup Noah tidak ingin perbincangan itu muncul lagi. "Lalu kenapa kamu tanya tentang nyonya Anne?"
"Karena aku akan menjadi menantunya," jawab Aksa lugas. Noah menatap Aksa dengan tatapan menyelidik.
"Kamu serius menjadi menantu keluarga Wijaya?" Noah makin ingin tahu. Ia sampai mendekatkan wajah pada pria ini. Aksa tersenyum.
"Bukannya aku memang akan menikah dengan Yora?" Aksa tersenyum penuh arti. Membuat hati Noah panik.
______
__ADS_1
TUNANGAN PALSU