Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 157 Gadis pilihan Aksa


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Malam ini, Anggita sedang memijit punggung suaminya di atas ranjang. Setelah makan malam tadi, Adiwangsa merasa punggungnya kaku. Mungkin karena pekerjaan tadi banyak.


"Sayang, tahu tentang gadis yang dekat Aksa, tidak?" tanya Anggita.


"Tidak. Aksa tidak mengenalkannya padaku. Mungkin belum."


"Aku dengar, dia sudah dekat dengan ayah."


"Benarkah?" Adiwangsa terkejut. Ada rasa sedih menyadari bahwa dirinya tidak di perkenalkan pada gadis itu.


"Ya. Sepertinya ayah menyukai gadis itu." Anggita masih memijit punggung suaminya ini.


"Syukurlah. Karena jika Aksa benar-benar mencintainya, dia akan sedih kalau ayah tidak merestuinya. Itu berita baik.


"Jadi kamu merestuinya?" Anggita melongok untuk melihat ekspresi suaminya karena penasaran.


"Tentu saja. Jika itu pilihan Aksa, bahkan di setujui ayah, apalagi yang harus di pertanyakan?" kata Adi sambil menoleh pada Anggita di belakangnya. Sampai perempuan ini menghentikan pijatannya. Setelah mengatakan itu, Adi kembali menghadap ke depan.


"Kamu tahu, kalau ternyata gadis itu dulunya adalah kekasih Arka," ungkap Anggita seperti menyesal. "Arka sendiri yang mengatakannya padaku."


"Arka?" Adi terkejut.


"Ya. Sepertinya Aksa yang merebutnya. Gadis itu pintar, dia pasti tahu kalau Arka itu anak tiri keluarga Candika, makanya dia melepas Arka dan memilih Aksa. Pasti dia penipu, sayang. Bahkan kakek pun di buat setuju olehnya. Dia pasti sudah pengalaman soal ini." Anggita menjelek-jelekkan Lisa.


Adiwangsa menghela napas. "Kalau begitu, selera Arka itu seorang penipu," ujar Adi kesal.


"Apa yang kamu katakan, sayang?" tanya Anggita terkejut. Tangannya ikut berhenti. Dia tidak percaya dengan kata-kata suaminya.


"Kamu sendiri bilang dia penipu, padahal Arka dulu pernah menjadi kekasihnya. Bahkan dia sendiri mengaku kalau gadis itu dulu kekasihnya," kata Adi tenang. Namun Anggita cemberut mendengarnya.


"Arka selalu tidak di bela," sungut Anggita kesal.


"Bukan tidak membela Arka. Hanya saja aku heran, kenapa kamu mengatakannya padaku kalau dia itu mantannya Arka?"


"Kalau saja Aksa tidak mengenal gadis itu, mungkin sekarang Arka-lah yang dekat dengan kakek," kata Anggita.


"Kamu kecewa? Huh, ada-ada saja," cibir Adiwangsa. Anggita terus memijat tapi dengan wajah cemberut. "Ingat, jangan mengganggunya. Meskipun dia pernah dengan Arka, mungkin saja keberuntungan ada pada Aksa. Jadi jangan sampai kamu membencinya," pesan Adi wangsa.


......................

__ADS_1


Aksa melihat papanya masuk ke ruang baca. Ia mengikuti dari belakang. Melihat itu Adiwangsa heran.


"Sedang ingin membaca?" tanya pria ini pada putranya.


"Tidak."


"Ada perlu dengan papa?" tanya Adiwangsa langsung tanggap.


"Ya. Aku mau bicara dengan papa."


"Oh, begitu. Duduklah," pinta Adiwangsa. Aksa dan papanya duduk. "Ada apa?"


"Aku belum pernah sama sekali bilang pada papa soal ini. Aku tidak lagi bertunangan dengan Yora. Kekasihku adalah gadis lain. Karena aku serius dengannya, aku ingin memperkenalkan dia pada papa dan keluarga ini," kata Aksa lugas.


"Oh, ya. Silakan." Adiwangsa sudah menduga putranya akan bicara soal ini


"Papa tidak bertanya kenapa aku tidak bertunangan lagi dengan Yora?" tanya Aksa yang heran papanya hanya setuju saja tanpa bertanya macam-macam.


"Tidak. Apapun keputusanmu, jika memang kamu serius dengan seorang gadis, papa setuju saja. Pilihanmu sendiri lebih baik daripada pilihan orang lain. Apalagi papa dengar kakek setuju. Tidak ada lagi yang perlu di tanyakan bukan?"


Aksa menghela napas. "Dia bukan gadis dari golongan atas, jadi aku mohon pada papa untuk tidak memperlakukannya semena-mena. Karena aku bisa membenci papa jika itu terjadi."


"Oh, baguslah. Aku jadi bisa tenang. Karena aku tidak mau ada drama menyebalkan saat dia datang bertamu," sahut Aksa.


"Papa tahu. Soal mama anggita juga, kamu jangan khawatir. Dia bisa menjaga mulutnya. Papa bisa pastikan itu." Adiwangsa tahu istri mudanya itu kadang cerewet.


"Ya. Terima kasih jika Papa mengerti. Aku pergi," kata Aksa beranjak berdiri seraya menuju ke pintu.


"Sering-seringlah bicara dengan papa meskipun tidak ada perlu Aksa. Bagaimanapun kita adalah ayah dan anak," kata Adiwangsa yang sempat tersisih karena keberadaan kakek.


Kaki Aksa berhenti tepat di depan pintu. Aksa memang lebih dekat dengan kakeknya karena ulah dirinya sendiri, yaitu mengkhianati mamanya hingga menimbulkan rasa benci di hati Aksa.


"Semoga saja aku bisa melakukannya," pungkas Aksa.


......................


Aksa membawa Lisa ke rumahnya. Tentu bukan sebagai Yora. Namun sebagai dirinya sendiri. Lisa menghela napas melihat rumah Aksa. Pria ini melirik.


"Kenapa?"


"Aku tegang."

__ADS_1


"Bukannya sudah pernah ke sini?" tanya Aksa.


"Ya, tapi kan itu menjadi Yora, bukan aku," jawab Lisa.


"Justru jadi diri sendiri kan lebih nyaman. Tenanglah. Kakek sudah setuju dengan hubungan ini, bahkan membicarakan soal pernikahan. Apalagi yang di khawatirkan. Kakek tahta tertinggi di keluarga ini."


Lisa tergelak. "Kamu memang bisa bikin mood aku baik."


"Tentu saja. Kamu juga begitu untukku." Aksa mendadak memeluk Lisa.


"Sudaaahh. Nanti banyak keluargamu yang lihat kita." Lisa mendorong tubuh Aksa.


"Tunggu saja nanti, aku pastikan kamu enggak akan bisa mendorongku seperti ini kalau aku sedang ingin memelukmu ataupun yang lainnya," ujar Aksa melayangkan kalimat peringatan. Lisa mendengus. Aksa pun mencubit pipi Lisa gemas.


"Aku pikir kalian tidak muncul, ternyata sedang bermesraan disini," tegur Noah yang hendak menghubungi Aksa. Bahkan ponselnya masih menempel di telinga.


"Jangan iri Noah," kata Aksa.


"Kenapa iri? Bukannya aku juga bisa bermesraan dengan Yora?" balas Noah.


"Kenapa menyebut namaku, Kak?" Yora muncul. Lisa senang ada Yora juga. Dia sedikit lega karena merasa ada teman.


"Oh, tidak." Noah tersenyum.


"Kamu sudah datang? Ayo, Lisa masuk," ajak Yora. Seperti menjadi sebuah tradisi di keluarga Candika. Jika ada acara makan malam keluarga, semua calon anak-anak mereka selalu di undang sekalian. Jadi di sana juga ada Liliana.


"Siapa yang sedang bersama ku?" tanya Yora surprise. Allen dan Liliana menoleh ke arah mereka.


"Halo, Lisa," sapa gadis itu seraya melambaikan tangan. Bibir Lisa tersenyum.


"Hai, kakak!" Allen ikut melambaikan tangan. Mereka berdua sedang membantu meletakkan makanan di atas meja. Rupanya ini acara para mega bintang perempuan keluarga ini. Meskipun ada asisten rumah tangga, mereka sengaja membantu.


"Ayo, kita gabung dengan mereka," ajak Yora.


"Bergabunglah dengan mereka," kata Aksa saat Lisa menatap ke arahnya. Seperti meminta ijin padanya.


Bola mata Arka sempat melirik saat gadis ini muncul. Bagaimanapun dia tidak bisa melupakan gadis ini. Dia hanya mencoba rela. Karena keadaan memaksanya untuk bisa melepaskannya.


...____...


__ADS_1


__ADS_2