
Pertanyaan Yora sungguh aneh. Ini membuat kakek diam tertegun mendengarnya.
"Yora mungkin hanya ingin tahu, Kek." Aksa langsung memberi keterangan. Kakek masih diam. Aksa menatap Yora sebentar. Pak Aknam yang ada disana ikut melihat ke arah gadis ini.
"Memang ada yang mirip dengan mu lagi. Seorang gadis. Namun kakek bertemu dengan mu terlebih dahulu bukan?" Kakek seperti ingin membesarkan hati gadis ini.
"Jadi tidak ada kesempatan lagi untuk gadis lainnya ya, Kek?" Pertanyaan itu masih terulang lagi. Aksa menatap Yora agak lama.
"Kamu cemas? Kamu cemas Aksa berpindah hati pada gadis lain?" tanya Kakek sambil melirik ke Aksa. Pria itu tengah menggaruk hidungnya pelan karena jadi pusat perhatian kakek dan tunangannya.
"Tentu saja." Yora tergelak pelan. "Maafkan Yora sudah membuat Kakek bingung."
"Tidak apa-apa. Kakek suka melihat kamu bersemangat. Menurut kakek, ini terlihat lebih baik dari kamu yang terlihat takut-takut. Kamu bisa mengatakan pada Kakek jika Aksa melakukan hal yang membuat kamu sakit hati," kata kakek seraya melirik ke cucunya. Aksa menipiskan bibir mendengar itu.
"Baik Kakek. Terima kasih atas makan malamnya." Yora membungkuk lagi untuk mengantar kepulangan kakek.
...***...
Area parkir tampak ramai dan padat. Mungkin ini malam yang tepat untuk keluar. Apalagi setelah kemarin hujan. Mereka semua menyempatkan keluar. Hingga gedung yang berisi bermacam-macam outlet dan resto ini banyak di datangi.
Namun bukan hanya karena padat pengunjung, di pintu keluar, pintu otomatis ternyata sedang macet. Ini yang menyebabkan antrian panjang. Semua orang mengeluh begitu pelannya mereka menangani.
"Maaf Tuan. Kita terjebak macet. Ada hal yang perlu di tangani di bagian pintu otomatisnya." Pak Aknam memberi tahu. Kakek melongok ke depan.
"Hhh ... Apa yang mereka kerjakan ..." Kakek Candika bersandar pada badan kursi mobil. "Kamu melihat tunangan Aksa tadi?" tanya Kakek tiba-tiba membahas Yora.
"Nona Yora, Tuan?"
"Iya. Gadis itu. Baru kali ini dia bersemangat seperti itu. Sampai-sampai dia menanyakan hal yang aneh menurutku."
"Bukannya nona Yora itu sangat mencintai cucu Anda. Jadi wajar kalau nona Yora bersikap seperti tadi." Pak Aknam tahu soal itu.
"Iya. Aku juga mengerti, tapi gadis itu tampak berbeda. Dia tidak lagi memandang Aksa dengan takut-takut. Yora itu kan gadis penakut yang jatuh cinta pada Aksa. Kamu lihat sorot matanya yang berbeda itu? Gadis itu makin mirip dengan orang lain."
__ADS_1
"Apa itu gadis yang Tuan katakan saat di rumah sakit itu?" tanya Pak Aknam.
"Ya. Aku merasa melihat gadis itu. Gadis bersemangat besar yang mirip istriku." Pandangan kakek menerawang jauh. Walaupun tampak sedih, ada juga kebahagiaan di sana ketika mengingat istri tercintanya.
"Nyonya memang perempuan yang punya semangat tinggi." Pak Aknam mengenal istri tuan Candika.
"Aku akan tidur sebentar Aknam. Aku rasa itu pasti lama." Kakek Candika menyandarkan kepala pada bantalan kursi di belakang kepalanya seraya menutup mata.
"Iya, Tuan."
Brak!
Kakek yang baru saja menutup mata, kini terbangun karena suara gaduh barusan. Kemudian membuka jendela di sampingnya beliau untuk melongok lebih jelas ke depan.
"Apa yang kamu lakukan bocah?!" teriak petugas pada seseorang. Karena dari belakang, kakek tidak bisa melihat wajah di sana.
"Kami semua ini antri untuk keluar dari area gedung ini. Baik dia kaya atau tidak, kita punya hak yang sama. Lalu kenapa Bapak hanya membiarkan mobil tadi lewat jalan alternatif Pak?!" Ternyata itu suara seorang gadis.
"Memangnya siapa dia?" tanya gadis itu kesal.
"Dia itu eksekutif gedung ini. Jadi kamu tidak bisa melarang aku membiarkan mereka lewat. Sudah sana!" Pria itu mendorong bahu gadis ini kuat-kuat. Untung saja seorang pria yang baru saja keluar dari mobil menangkap tubuh gadis itu, kalau tidak gadis itu akan jatuh menabrak mobil di dekatnya.
"Apa kamu harus mendorong tubuh seorang gadis sekeras itu?" tegur pria itu dengan dingin.
Semua orang melihat kejadian itu. Bahkan kakek dan Pak Aknam juga melihat dari mobilnya.
"Tuan, bukankah itu cucu Anda?" tanya Pak Aknam. Jika itu Aksa, berarti gadis yang tadi adalah Yora. Tudung jaket gadis itu terbuka. Hingga terlihat wajah gadis itu. Ya. Itu tunangan Aksa.
...***...
"Kenapa kamu mengganti posisimu sekarang dengan Lisa?" tanya Noah. Yora yang sejak tadi diam seraya menyeruput jusnya menoleh. Mungkin Noah yang tadinya tidak ingin bertanya, kini merasa ingin tahu.
"Bukankah aku memang sudah tergantikan oleh Lisa, Kak?" Yora justru berbalik tanya.
__ADS_1
"Iya, tapi aku tidak menduga kalau itu sekarang. Saat kamu justru sedang berulang tahun,” ungkap Noah dengan wajah iba.
Yora mendongakkan kepala. Langit malam terasa cerah. Karena banyak bintang yang bertebaran di angkasa.
"Sepertinya sudah lama aku tidak melihat bintang," kata Yora dengan mata sendu.
"Jangan alihkan pertanyaanku, Yora." Noah tahu gadis ini sengaja membelokkan topik. Yora tersenyum hambar.
"Justru karena ini ulang tahunku. Aku tidak ingin bersama Kak Aksa. Karena itu akan terus menjadi ingatan yang menyakitkan. Jadi aku akan memulai perpisahan kita dari sekarang."
"Setelah kamu melakukan itu, lalu kamu menangis?" Noah sengaja mencibir karena ia baru saja bisa menghentikan tangisan gadis ini.
"T-tentu saja. Namun sekarang aku sudah tidak menangis kan?" tepis Yora. Noah menghela napas.
Noah tahu soal Yora yang akan ke makam nenek, tapi dia tidak menduga kalau gadis ini tidak jadi kesana dan justru di gantikan oleh Lisa. Dia juga hampir lupa soal kelahiran Yora, karena mengira tidak akan ada kesempatan untuk bersama. Namun dia di ingatkan olehnya saat gadis ini menelepon sambil menangis. Tanpa pikir panjang, ia langsung melesat menuju tempat gadis ini berada. Dan di sinilah ia melihat Yora sendirian.
“Ya. Kamu tidak menangis,” sahut Noah.
“Mungkin tepat aku memanggil Kak Noah, karena suasana hatiku lebih baik sekarang,” ujar Yora sambil tersenyum. Noah berbunga-bunga mendengar itu.
“Selamat ulang tahun, Yora. Semoga kamu bisa menjalani hidup dengan perasaan selalu bahagia,” ucap Noah.
“Terima kasih Kak. Sekarang aku akan mengabulkan permintaan Kakak karena sudah menemaniku,” kata Yora.
“Permintaan?”
“Iya. Ayo katakan.” Yora menunggu kata-kata dari Noah dengan wajah senang.
“Aku ingin kamu selalu ada di sisiku, Yora. Hatimu selalu terpaut padaku. Bola matamu selalu melihat ke arahku,” ucap Noah mengejutkan. Sampai-sampai Yora tertegun karena tidak menduga permintaan itu yang di dengarnya.
Suasana sunyi. Yora tidak bisa mengatakan apa-apa. Apalagi saat Noah mengungkapkan lagi perasaannya dengan jelas dan lugas. “Aku mencintaimu.”
... ________...
__ADS_1