Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 56 Ungkapan hati


__ADS_3


"Lisa, ini aku." Hampir saja Lisa berteriak, jika Arka tidak mencoba menenangkannya.


 


"Arka," desis Lisa seraya mendelik. Ia memukul lengan cowok ini dengan geregetan. Lalu mengelus dadanya. Menenangkan rasa kaget di jantungnya.


 


"Maaf. Kamu haus?" Arka merasa bersalah sudah mengejutkan Lisa.


 


"Ya."


 


Sesudah menjawab, Lisa mengambil gelas di tangan Arka. Menuangkan air pada gelas dan meminumnya. Arka diam di dekatnya seraya menunggu Lisa menuntaskan minumannya dengan sabar.


 


"Minumnya pelan-pelan, Lis,” pesan Arka. Lisa mendengar itu dan mengangguk samar.


 


"Kamu ngapain kesini? Haus juga?" tanya Lisa setelah meneguk airnya hingga habis. Masih dengan suara pelan. Takut mengganggu orang yang tidur. Padahal rumah ini luas.


 


"Ya." Arka mengelap air minum yang masih bertengger di sudut bibir Lisa dengan jarinya. Tindakan ini membuat Lisa memerah.


 


Napasnya sempat tertahan sejenak barusan. Lalu dia ikut mengelap sudut bibirnya dengan punggung tangan agar Arka berhenti melakukan itu. Arka mengerti itu.


 


Bukan tidak suka. Itu tidak baik buat jantungnya. Jantung Lisa berdetak lebih kencang dan berisik!


 


Arka meraih gelas di tangan Lisa dan menuangkan air minum untuknya. Jadi ia bisa bernapas dengan bebas saat pandangan Arka tidak terfokus padanya.


 


Cowok ini meneguk minuman di tangannya. Lisa memperhatikan punggung lebar cowok ini dengan menggigit bibir. Lisa lemah pada bahu cowok yang lebar. Seperti bisa menopang semua beban saat dirinya rapuh. Namun tiba-tiba saja ia ingat Aksa juga punya tubuh yang sama, tapi ia menipiskan bibir geram mengingatnya.


 


Sialan. Kenapa jadi ingat pria itu.


 


"Jadi kalian berdua sekarang akrab?" tanya Arka tanpa membalikkan tubuhnya.


 


"Siapa?" tanya Lisa tidak paham. Lamunan barusan buyar.

__ADS_1


 


"Aksa. Aku lihat di GOR tadi dia menarik tanganmu." Kali ini Arka membalikkan tubuhnya dan menatap Lisa. Tatapan lembut tadi berubah tajam dan menyelidik.


 


"Dia hanya berpikir kamu tidak mengenalku. Aksa kan tidak tahu hubungan kita berdua. Jadi dia bertingkah seperti tunangan yang sesungguhnya di depan orang lain," kata Lisa seakan itu hanya sebuah akal-akalan Aksa. Dia menjawab dengan enteng. Lisa ingat tingkah Aksa waktu itu. Dia yakin itu palsu.


 


"Aku tidak suka," kata Arka tegas. "Aku tidak suka dia menyentuhmu seenaknya." Lisa tertegun. Arka marah.


 


"Itu mungkin bukan menyentuh yang kamu pikirkan. Dia hanya berpura-pura karena ada orang lain, yaitu kamu. Dia tidak pernah melakukannya. Hanya tadi malam,” jelas Lisa.


 


“Jadi kamu membelanya?” tanya Arka menyipitkan mata. Lisa mengerjapkan mata terkejut.


 


“Bukan seperti itu, Ka,” ralat Lisa.


 


"Sudah aku katakan, Lisa. Berhenti menjadi Yora. Aku akan menanggung semua akibatnya jika kamu melanggar perjanjian dengan keluarga Yora," kata Arka. Lisa terkejut. Meski lirih, Lisa panik. Kepalanya langsung menoleh ke kanan dan kiri. Dia takut ada orang lain di dalam dapur.


 


"Arka. Jangan bicarakan itu disini. Itu berbahaya," sergah Lisa. Arka diam. Raut wajahnya mengatakan dia tidak peduli dengan itu.


 


 


"Arka ...," lirih Lisa ingin Arka tenang. Lisa meraih jari-jari Arka dan menggenggamnya. Berupaya keras Arka tenang kali ini.


 


 


"Aku sangat tidak suka ini Lis. Kamu lebih sering bersamanya daripada denganku. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu terus saja dengan dia?” tanya Arka dengan mata melebar kesal.


 


"Iya, maaf. Namun cobalah sabar sedikit lagi."


 


"Aku bukan orang yang sabar, Lisa. Aku itu ..." Mendadak Lisa mendekatkan wajahnya ke arah Arka dan mengecup pipi cowok ini. Tindakan ini membuat Arka yang ingin melanjutkan kalimatnya hilang. "Lis ..." Arka terkejut. Bola matanya mengerjap.


 


"Aku minta maaf, Arka. Maaf. Aku mohon tenanglah," pinta Lisa. Arka membeku. Lisa melepas pegangannya tangannya. Ia melihat ke kanan dan kiri lagi.


 


Suasana mulai tenang. Ia bersandar pada meja dapur. Lisa bisa bernapas lega meski belum benar-benar bebas.

__ADS_1


 


“Kamu sudah mengerti?” tanya Lisa sembari menata debaran karena rasa takut tadi. “Maaf.” Arka hanya diam sambil menatapnya. “Kenapa tidak menjawab?” Sepertinya gadis ini belum sadar bahwa Arka tidak bisa berkata-kata karena kecupan itu.


 


Arka memang hanya bisa diam seraya menatap Lisa lama. Namun lama-kelamaan tatapan menjadi dalam. Membuat Lisa gugup setengah mati. Tangannya segera melepas jari-jari Arka.


 


"K-kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu mau maafin aku, kan?" tanya Lisa merasa aneh. Tangannya menyentuh pangkal hidung dan menggosoknya pelan. Ia makin resah.


 


Bibir Arka tersenyum akhirnya.


 


"Sepertinya kamu tidak sadar ya, melakukan apa barusan ke aku," kata Arka seraya menyentuh dagunya. Senyuman miring pun terulas di bibir cowok ini membuat Lisa waspada.


 


"A-apa?"


 


Tanpa menjawab. Arka justru menarik tangan Lisa agar mendekat. Lantas mengecup pipi gadis ini dengan lembut. Lisa terperangah.


 


"Kamu melakukan itu barusan," kata Arka tersenyum menang.


 


Lisa langsung melebarkan mata seraya menutup mulutnya dengan tangan secepatnya. Terkejut dengan apa yang Arka lakukan, sekaligus ingat lagi bahwa dia sudah mengecup pipi cowok ini duluan.


 


Dengan mulut di bungkam dengan tangannya sendiri, mata Lisa kebingungan. Kepalanya menoleh ke sana kemari. Arka hanya bisa tersenyum melihat kebingungan Lisa.


 


Gawattt. Jantung Lisa mau meledak bagai bom atom, nih.


 


Tanpa permisi, Lisa segera kembali ke kamar Allen. Wajah dan telinganya merah karena malu. Arka tersenyum gembira melihat gadis itu kabur darinya karena itu  Kepala Arka menggeleng. Merasa kejadian barusan itu lucu.


 


"Dia memang manis," gumam Arka. "Kalau begini aku tidak jadi marah. Ternyata aku benar. Dia cute juga." Arka mencuci gelas barusan. Masih ada senyum yang tersisa di bibirnya.


 


Arka berniat kembali ke kamarnya setelah selesai. Namun seseorang turun dari tangga lantai dua menghadang keinginannya.


 


"Ternyata dia kekasihmu, ya?" tanya Aksa. “Gadis itu,” tunjuk Aksa sambil ke Lisa yang kabur barusan dengan tetap melihat ke arah Arka.

__ADS_1


______


__ADS_2