
Lisa sudah siap dengan bola di tangannya. Dia hendak melempar bola ke arah Sabo yang kali ini jadi anggota tim basketnya. Namun perhatiannya teralihkan oleh senyum Arka yang menghadang di depannya.
Lisa menelan ludah. Ia tidak tahan dengan senyuman dingin, tapi memukau itu.
"Jangan lengah, Lis ..." Arka bahkan menyempatkan mengingatkan Lisa. Bola mata Lisa mengerjap.
"Rebut Ka!" teriak Nero. Ini bocah memang paling aktif.
"Kamu mau merebut bola ini dari aku? Ambil aja kalau bisa," tantang Lisa memberanikan diri. Arka tersenyum.
"Oke." Dia sudah mau merebut bola di tangan Lisa, tapi Nero yang berlari mendekat, menyerobot bola itu dan memasukkannya ke dalam keranjang.
"Kelamaan, Ka! Jangan kasih kendor meskipun itu si Lisa." Nero langsung mengejek Arka. Lisa mendelik. Arka hanya tergelak saja.
"Bagaimanapun kan Lisa ceweknya si Arka. Ya wajar Arka mikir dulu buat ngelawan." Sabo berkomentar. Soalnya dia sedang duduk bersama Sera. Tentu pasti bela Lisa yang jadi temannya Sera.
"Arka cowok yang manis," puji Sera membuat Sabo menoleh cepat.
"Kamu memuji Arka? Dia?" sembur Sabo cemburu. Sera tergelak. Lalu mencubit pipi Sabo.
"Kamu juga manis kok. Makanya aku terima kamu saat nembak," kata Sera membuat Sabo mesem tersipu. Lisa mendekat ke samping Sera. Gadis ini menyerahkan botol. Lisa menerimanya.
"Lagi. Buat Arka," pinta Lisa. Sera mengambil lagi air mineral dari dus kecil di sampingnya. Lalu Lisa mendekat ke Arka. Menyodorkan botol itu.
__ADS_1
"Terima kasih," ujar Arka sambil menyambut botol yang di berikan. "Sebentar lagi berangkat ke rumah sakit?" tanya Arka seraya merapikan anak rambut gadis ini yang jatuh di pelipis. Lisa mengerjapkan mata gugup.
"Aku ... ke ... Sera." Arka tahu Lisa gugup. Ia mengangguk memberi ijin.
"Iya."
Saat itu Arka melihat seseorang yang tidak asing. Awalnya Arka tidak mengira dia adalah orang yang ada di dalam pikirannya. Namun saat pria itu mendekat, ia terkejut. Ternyata dugaannya benar.
"Noah?" Arka terkejut.
"Halo Arka," sapa Noah seraya tersenyum ramah.
"Sepertinya kamu sudah pulang terlambat karena latihan basket tadi. Ternyata malam ini juga masih saja main basket," komentar Aksa mengikuti Noah di belakang.
Dia juga kesini? tanya Arka di dalam hati lebih terkejut. Ia langsung menoleh pada Lisa yang masih berjalan. Gadis itu masih belum tahu kemunculan dua pria ini.
"Kenapa kemari?" tanya Arka tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya.
"Ternyata kita tidak di terima di sini," kata Aksa. Dia bereaksi seperti itu karena takut mereka tahu keberadaan Lisa.
Aksa tidak membenci Arka yang di bawa oleh Anggita sebagai mama barunya saat mama kandungnya meninggal. Namun dia juga tidak terlalu peduli dengan bocah dingin itu. Dia hanya sekedar mengenal bocah ini sebagai adik tirinya saja.
"Dia hanya terkejut." Noah menanggapi biasa kalimat Aksa.
"Kalian mau ikut main basket?" tanya Nero yang memang ramah sama semua orang. Arka melebarkan mata. Dia menoleh lagi ke arah Lisa.
__ADS_1
"Boleh," kata Noah antusias. "Ayo, Aksa."
"Tunggu!" Noah sudah melesat lebih dulu dengan Nero.
"Tidak. Pergi saja sendiri." Aksa menolak.
Sebenarnya bukan hanya Noah, Aksa juga suka bermain basket. Namun ia jadi malas karena sibuknya pekerjaan di perusahaan keluarga sekaligus juga dengan urusan para wanita-wanitanya.
Arka cemas dengan keberadaan Lisa.
"Kamu mau ikut Noah juga?" tanya Aksa yang melihat Arka selalu saja melihat ke arah lapangan.
"Tidak," sahut Arka cepat seraya melihat ke arah Aksa.
"Kamu gemar sekali dengan basket. Mungkin kamu belum tahu kalau papa itu sangat membenci kegiatan ini." Aksa menunjuk ke arah Noah dan Nero dengan dagunya.
"Aku sudah tahu saat di meja makan tadi. Jadi tidak perlu memberi tahu lagi soal itu." Arka memang baru tahu itu saat papa mengatakan basket itu tidak menguntungkan untuk perusahaan.
"Baguslah. Jadi kamu bisa bersiap meninggalkan hal ini dengan tenang." Aksa membicarakan ini seperti sudah sangat memahami soal itu.
"Kami seperti sedang membicarakan dirimu sendiri. Apa mungkin kamu juga pernah tidak di dukung oleh papa saat melakukan hobi mu?" tanya Arka yang sepertinya tepat sasaran. Aksa hanya menjawab dengan senyuman tipis.
Sialan bocah ini.
_______
__ADS_1
TUNANGAN PALSU