Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 129 Mereka berdua


__ADS_3

"Tentu ... tentu saja tidak!" tepis gadis itu berang.


 


"Atau kamu gugup karena ingat ciuman kita yang kemarin?" goda Aksa. Yora melebarkan mata mendengar Aksa berciuman. Wajahnya merah. Noah menciptakan wajah kesal karena Aksa tidak peduli bicara soal itu padahal ada Yora.


 


Jika membahas sebuah ciuman, yang di cium Aksa hanyalah gadis itu. Lisa.


 


"Jangan bicarakan itu. Stop!" seru Lisa panik. Aksa tersenyum mendengar kepanikan gadis itu.


 


"Oke. Oke. Ada apa?" tanya Aksa lembut.


 


"Bapak masih menginterogasi aku soal lamaran kamu," curhat Lisa.


 


"Benarkah? Jadi aku harus ke rumah kamu lagi untuk meyakinkan Bapak soal lamaran ku?" tanya Aksa mulai serius. Kedua orang yang ada di dalam ruangan terkejut. Bahkan Noah sampai harus berdecak kesal karena ia tidak ingin melihat Yora sakit hati.


 


Gadis itu tampak berusaha tenang meski tangannya gemetar. Noah cemas. Namun ia akan membaut Yora kebingungan kalau Noah tahu soal itu. Jadi pria ini membiarkan dengan perasaan kacau.


 


"Tidak. Jangan bahas soal lamaran. Buang jauh pikiran soal melamar ku," kata Lisa.


 


"Kamu menolak ku? Kamu ingin aku menjauh dari mu?" tanya Aksa mendesis marah. Ia sudah mengeluarkan aura dingin.


 


"Buang juga pikiran itu. Aku tidak akan mau di cium kamu kalau aku akan membuang mu. Aku merugi kalau melakukan itu!" ujar Lisa dengan nada tinggi.


 


"Oh, begitu?" Aksa mendengus lucu. Ia tersenyum saat mendengar itu. Marahnya yang akan meledak tadi mulai lenyap.


 


"Datang saja dengan biasa ke rumah. Ingat. Tanpa oleh-oleh berlebihan seperti waktu itu."

__ADS_1


 


"Kamu tidak suka?"


 


"Bukan begitu. Soal sesuatu yang gratis aku sangat suka," jawab Lisa terang-terangan. "Namun itu akan jadi beban bagi keluargaku. Kamu tahu itu kan?"


 


"Baik, Nyonya Aksa."


 


Lisa menipiskan bibir mendengar ia di panggil nyonya. "Aku masih gadis. Jangan panggil nyonya!" sergah Lisa. Meskipun begitu, wajahnya memerah. Aksa tersenyum meski tidak bisa melihat raut wajah Lisa secara langsung.


 


"Aku ingin selesaikan urusanmu dengan Yora, setelah itu kembali lakukan hal sesuka hatimu," kata Lisa.


 


"Aku mengerti." Aksa mengatakannya dengan lembut." Aksa mengakhiri obrolan itu dan kembali menatap mereka berdua. "Kita bisa bertemu di luar?" tanya Aksa.


 


"Aku ... tidak tahu." Yora ragu. Ia menoleh pada Noah. Seperti meminta bantuan.


 


 


"Ah, baiklah. Silakan makan siang berdua. Aku punya acara sendiri. Nanti aku akan menelepon Noah untuk memastikan pertemuan kita." Aksa tersenyum pada Noah. Lalu ia berjalan ke pintu meninggalkan mereka berdua.


 


...***...


 


Aksa muncul di rumah Lisa. Lagi. Ia ingin membuat keluarga Lisa tidak resah soal lamaran dadakannya.


 


Jika biasanya keluarga Lisa menanggapi dengan sikap ramah tamah, layaknya mereka pada pelanggan warung ibu. Kini sikap mereka terbilang agak kaku. Mungkin canggung. Karena pria yang di bilang Bi Sarah adalah pemilik proyek perumahan di tanah sebelah selatan ini sedang mendekati putri mereka. Bahkan sempat melayangkan lamaran.


 


Ibu dan Bapak duduk di ruang tamu bersama. Mereka saling pandang. Itu juga yang sedang di lakukan Lisa dan Aksa. Mereka juga saling pandang karena ibu dan Bapak tidak segera bicara.

__ADS_1


 


"Maaf, Ibu dan Bapak ..." Aksa akhirnya memulai obrolan. Namun saat itu Bapak juga memulai obrolan.


 


"Jadi ... Anda ini bos-nya Pak Namo?" tanya Bapak memastikan.


 


"Iya," jawab Aksa. Ia tahu Pak Namo yang lebih di kenal mereka. Bapak dan ibu saling pandang.


 


"Maafkan saya sudah membuat Bapak dan Ibu kebingungan waktu itu." Aksa mulai membahas soal lamarannya. Lisa sedikit cemas. Dia takut Aksa salah bicara. Namun perlu dia yakinkan lagi bahwa Aksa itu sudah berumur di atasnya. Dia pasti sudah memikirkan lebih dulu apa yang akan di bicarakan. "Mungkin saya gegabah soal membicarakan lamaran. Saya memang belum membicarakan itu dengan putri Bapak."


 


"Ya, begitu." Lisa setuju dengan kalimat yang di ucapkan Aksa. Bapak dan Ibu menoleh pada putrinya. Lisa pun diam.


 


"Jadi kalian memang sedang dalam hubungan yang serius?" tanya ibu. Lisa melirik Aksa.


 


"Iya. Saya serius dengan Lisa." Aksa mengangguk. Jantung Lisa berdetak lebih kencang daripada tadi. Bapak dan ibu berbisik. Lisa melirik Aksa yang ternyata sedang melihat ke arahnya. Pria itu tersenyum lembut.


 


Lisa mengerjapkan bola matanya. Ia gugup. Hhh ... Kampret. Kenapa muka ku panas?


..._______...



 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2