Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 98 Pengganti


__ADS_3

Melihat banyak orang yang berpindah meja ke tempat Lisa, yang lain juga ikut penasaran. Ini membuat Allen dan Liliana menoleh.


 


"Kenapa tiba-tiba meja buffet yang di sana ramai?" tanya Allen heran. Yora ikut melihat ke arah yang sama.


 


"Wah, itu pasti karena kak Aksa. Lihat saja. Kak Aksa sedang mencicipi makanan. Mungkin karena orang penting semacam dia ada di sana, yang lain jadi ikut-ikutan," jelas Lili yang melihat dengan jelas kakak iparnya itu. Yora menggigit bibirnya. Takut Kalau kalau pria itu akan pergi dengan seorang wanita.


 


"Benar juga. Kak Yora, tunangan mu sepertinya cocok juga jadi bintang iklan. Lihatlah di sana." Allen menunjuk kakaknya untuk memberitahu Yora. Gadis ini mengangguk. Dia tersenyum pada Allen.


 


"Iya." Yora mengakui bahwa pria itu memang menarik perhatian banyak wanita. Apalagi wanita dewasa. Di momen senyum ini, Allen sedikit merasa aneh. Senyuman bakal calon kakak iparnya itu berbeda dari senyum biasanya. Mungkin dia terbiasa dengan gaya Lisa yang jauh dari kata manis. Mungkin hanya penampilannya saja, tapi keseluruhan sikap Lisa adalah dirinya sendiri yang cuek.


 


"Kita ke sana juga, yok," ajak Lilian. Arka juga tidak lagi bersama mereka. Jadi ketiga gadis ini bersama-sama menuju tempat Aksa.


 


Arka sendiri yang sudah terpisah dengan lainnya melihat ke tempat Aksa berdiri. Di sana dia sempat melihat sekilas gadis yang di kenalinya. Tanpa sadar, kakinya sudah sampai di tempat Lisa berdiri. Mendahului tiga gadis tadi.


 


Masih dalam proses melayani Aksa yang mirip bocah, Lisa terkejut mendapati Arka di dekatnya. Namun kemudian dia bisa menetralkan keterkejutannya. Kembali ia mencoba menyadari bahwa ini acara keluarga Candika.


 


"Ada perlu dengan Lisa, Ka?" tanya Aksa yang sebenarnya terkejut melihat adiknya sudah ada di dekat Lisa. Kepala Lisa menoleh pada Aksa dengan bola mata melebar tidak setuju.


 


"Emm ... ya. Bisa ambilkan aku makanan yang ada di meja buffet itu, Lisa?" tunjuk Arka. Dia bisa membaca keadaan. Termasuk Aksa yang minta di layani oleh gadis ini.


 


"K-kamu?" tanya Lisa tidak menyangka Arka juga ikut-ikutan Aksa.


 


"Iya," sahut Arka yakin.


 


Kenapa harus meniru Aksa? Apakah kamu anak kecil? Meski tidak lucu, aku sedikit terhibur. Sesaat bola mata Lisa menemukan orang yang di kenalnya. Liliana! Lisa terkejut melihat gadis itu muncul.


 


Gadis itu datang bersama orang yang di kenal Lisa saat masih menjadi Yora palsu. Allen dan Yora asli. Dia tidak suka situasi ini. Lisa tersenyum dan tiba-tiba mendekat pada ketiga gadis itu. Liliana menaikkan alisnya.


 

__ADS_1


"Lisa ...," sebut Lili surprise. Dia tahu yang ada di depannya adalah Lisa. Mantan Arka.


 


"Siapa Kak?" tanya Allen. Liliana hendak menjawab, tapi dia lebih terkejut saat Lisa justru mendekat padanya.


 


"Oh, tunangan Anda nona ini? Ya. Dia memang cantik. Silakan ... " Lisa langsung mempersilakan Liliana untuk mendekat ke meja buffet. Lisa ingin mengabaikan Arka. Terlihat konyol sekali dia bertingkah seperti itu. Dia tidak ingin Liliana melihat Arka mendekatinya.


 


Arka langsung diam. Dia gagal meminta Lisa mengambilkan makanan untuknya. Aksa sendiri langsung menipiskan bibir melihat Yora juga datang.


 


...***...


 


Lisa memilih menjauh dari mereka semua dengan pergi ke toilet. Dia senang akhirnya meja buffet milik tempat dia bekerja, ramai. Namun di balik itu, dia juga sedikit terbebani dengan kemunculan Candika sekeluarga ini. Meskipun sebenarnya memang sudah pasti akan begitu, karena ini adalah acara keluarga mereka.


 


Selesai menenangkan diri di toilet, Lisa kembali. Gadis ini menautkan kedua tangannya dan tersenyum ramah pada setiap orang yang mendatangi meja buffet-nya. Aksa terlihat malas bergabung dengan keluarganya. Terutama Yora. Karena dia tidak bisa mendekati Lisa.


 


"Mau aku ambilkan makanan yang lain?" tawar Yora bersikap manis.


 


 


"Ah, tidak. Aku hanya ingin mengambilkan makanan untukmu," tolak Yora masih tetap dengan sikap takut-takutnya pada Aksa.


 


"Lisa berpura-pura tidak mengenal kita ya?" tanya Liliana pelan. Namun itu sungguh terasa sangat keras di telinga Arka. Cowok ini tidak menjawab meski sempat menunjukkan raut wajah terkejutanya. “Aku salut. Meskipun dia sakit hati melihat kamu dan aku, tapi dia bisa tetap menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. Kalau aku mungkin langsung datang dan menarik mu untuk tetap melihat ke arahku.”


 


“Seperti yang kamu lakukan.” Kali ini Arka bicara. “Kamu melakukan segala cara agar aku bisa menjadi milikmu.”


 


“Iya. Itu perjuangan, Arka. Jadi kamu juga perlu paham kalau aku juga berjuang demi mendapatkan mu. Bukan tanpa usaha. Jalan perjodohan itu hanya batu loncatan. Selebihnya, aku berjuang.” Liliana menunjuk Arka sambil tersenyum. Arka hanya menghela napas dengan cara bicara yang blak-blakan dan kegigihan Liliana.


 


"Mbak, bisa minta tolong?" tanya seorang undangan.


 


"Oh, ya." Lisa mendekat lagi ke meja buffet itu. Sejak tadi Aksa melihat ke arah yang sama. Tepatnya melihat ke Lisa. Sampai Yora ikut melihat ke arah yang sama.

__ADS_1


 


“Itu ... Lisa,” gumam Yora tidak sadar. Aksa menoleh pada Yora dengan cepat. Melihat Aksa menoleh ke arahnya karena gumaman barusan, Yora menutup mulutnya. Aksa tersenyum tipis. “A-apa?” tanya Yora mendadak tegang.


 


“Kamu menyebut nama seseorang barusan,” ujar Aksa mengejutkan.


 


“N-nama?” tanya Yora gugup. Ia mengerjapkan bola matanya.


 


“Kamu mengenalnya, bukan? Gadis itu,” tunjuk Aksa pada Lisa yang sedang melayani tamu undangan.


 


“A-aku tidak mengenalnya,” elak Yora.


 


“Biasanya, orang akan bertanya siapa dia terlebih dahulu, baru bilang tidak mengenalnya jika memang yakin tidak mengenalnya. Namun kamu langsung mengelak. Mengatakan tidak mengenalnya bahkan sebelum meneliti dulu siapa orang yang aku maksud. Itu wajar. Kamu sudah tahu aku membahas gadis itu, karena sebelumnya kamu juga sedang memperhatikannya.” Aksa tersenyum miring.


 


Sudah pasti Yora mengelak sudah mengenal Lisa. Karena jika ia mengatakan iya, semuanya akan terbongkar. Namun Yora segera sadar, bahwa seharusnya Aksa juga tidak mengenal Lisa bukan?


 


“Aku rasa ... Kamu yang aneh j-jika mengenal gadis itu. Dari mana kamu bisa mengenalnya? Bukankah ... Bukankah dia hanya karyawan rumah makan?” tanya Yora berusaha memberanikan diri.


 


“Karyawan rumah makan, ya ... “ Aksa manggut-manggut. “Kamu belum menjawab pertanyaanku.”


 


“Aku t-tidak perlu menjawab pertanyaan mu. Itu tidak penting.” Yora menundukkan kepala. Dia mengalihkan padangan ke lantai karena takut di tatap Aksa. Dia tidak ingin di temukan kebohongan dari matanya.


 


“Aku tahu siapa Lisa. Aku mengenalnya,” ungkap Aksa dengan suara pelan. Yora membeku.


 


“A-apa maksudmu?” tanya Yora dengan wajah gugup.


 


“Pengganti."


...____...


__ADS_1


 


 


__ADS_2