Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 159 Damai


__ADS_3

"Hujan masih rintik-rintik nih ...," keluh Nero di belakang. Ya. Langit tampak putih meski hujan terus turun. Itu pertanda hujan akan lama membasahi bumi. Meksipun tidak deras kemungkinan hujan akan lama berhentinya. Menurut orang kuno itu begitu.


"Ser, aku ambil jas hujan dulu di jok motor ya?" pamit Sabo.


"Pakai payung. Bentar aku ambil," kata Sera seraya menunduk mengaduk-aduk isi tasnya. Kemudian mengeluarkan payung bermotif bunga dengan warna cerah ungu. Kemudian menyerahkan pada Sabo.


Cowok ini menerimanya dan langsung membuka payung.


"Aku ke tempat parkir dulu," pamit Sabo sekali lagi.


"Ya. Hati-hati jalan licin."


"Sampai segitunya," ledek Lisa.


"Buat cowok yang punya impian indah denganku, aku rasa itu wajar. Bahkan harus. Dia kan bertekad menjadikan aku ratunya. Jadi aku juga pantas menjadikan dia rajaku," kata Sera. Sedikit menggelikan, tapi memang harusnya begitu. Lisa akhirnya mengangguk setuju.


Aris dan Nero juga lari ke bawah payung yang di berikan Sera pada Sabo. Dengan satu payung kecil itu, mereka berdesakan untuk menghindari hujan. Sekarang tinggal mereka berdua di ujung lorong sekolah. Karena melangkah satu langkah saja, mereka sudah tiba di halaman sekolah.


"Kalau kamu sendiri, gimana kedepannya? Langsung menikah sama Aksa atau gimana?" tanya Sera.


"Dia sih maunya begitu. Dia kan sudah tua," ejek Lisa membuat Sera tergelak.


"Terus kamunya gimana?" tanya Sera penasaran.


"Maunya sih enggak menikah dulu, tapi melihat sifat Aksa, sepertinya enggak bisa. Dia pasti menggila dan memaksa untuk segera menikah. Apalagi kakek sudah kasih lampu hijau." Lisa menggelengkan kepala membayangkan tingkah pria itu.


"Jadi pasti menikah dulu, nih?"


"Se-sepertinya," jawab Lisa canggung.


"Enggak usah malu," kata Sera seraya mendorong lengan Lisa pelan.


"Gimana enggak malu. Dari kita temenan mulai sekolah, bukannya kamu yang sudah pernah berpacaran beberapa kali. Dan aku sekali pacaran ya sama Arka. Terus putus dan ganti sama Aksa, terus mau langsung menikah. Kelihatan banget ngebetnya."


"Eh, emang kamu ngebet nikah?" selidik Sera.


"Bukaaaaannnnn. Maksudku si cowoknya," ralat Lisa panik.


"Hahahaha." Sera tertawa melihat Lisa panik. Tiba-tiba saja Lisa terpaku pada satu titik. Sera yang tertawa berangsur-angsur berhenti dan mengikuti arah pandang bola mata temannya.


Ada Aksa di depan pagar sekolah dengan payungnya. Pria itu siap menjemput Lisa.

__ADS_1


"Bola mata mu itu bukan hanya berbinar karena Aksa tampan, tapi lebih karena kamu memang jatuh cinta padanya," kata Sera membuat Lisa sadar dan menoleh cepat. "Iya, kan?" tanya Sera seraya tersenyum. Lisa mendengus lucu. Sepertinya sedang menertawakan dirinya.


Aksa melambaikan tangan. Bukannya pria ini tidak peka. Sekolah ini tidak memperbolehkan orang luar untuk masuk ke halaman sekolah. Sebenarnya Aksa bisa memaksa. Namun Lisa pasti marah. Dia tidak mau Aksa melanggar peraturan. Padahal dulu dia sendiri bolos.


"Ya. Aku jatuh cinta padanya," ujar Lisa sambil membalas lambaian tangan Aksa. "Pak! Pak!" Lisa mencegat Pak satpam. "Om saya boleh masuk ya? Ini kan hujan, jadi om saya mau kasih payung," ujar Lisa sambil menunjuk Aksa.


"Ya enggak apa-apa. Hari ini memang hujan terus. Suruh masuk dah ..." Pak satpam memberi ijin.


"Terima kasih, Pak."


Sera hanya melihat saja. Dia paham maksud temannya. Kemudian Lisa melambaikan tangan pada Aksa. Bermaksud menyuruh Aksa untuk mendekat padanya. Namun pria itu hanya diam, seraya menatapnya tajam.


Kenapa dia? pikir Lisa.


Lisa melambaikan tangan lagi. Pria itu melangkahkan kakinya menghampiri gadis ini.


"Aku pikir kamu enggak paham, saat aku suruh masuk," kata Lisa. Namun Aksa merespon kalimat Lisa dengan sebuah pertanyaan yang mengejutkan.


"Siapa dia?" tanya Aksa dingin. Sera sudah mau menyapa, tapi ia urung karena menemukan gelagat aneh dari pria dewasa ini.


"Siapa?" Lisa bingung.


"Pria tadi," kata Aksa masih dengan sikap yang sama.


"Pria yang bicara denganmu barusan. Sebelum aku menghampirimu," jawab Aksa. Beberapa detik Lisa melebarkan mata.


"Pria? Pak satpam tadi?" Lisa terkejut.


"Ya. Aku tidak suka kamu bicara dengannya seakrab itu," imbuh Aksa.


"Hei, dia satpam sekolah ini," jelas Lisa seraya mendelik.


"Siapapun dia, di mataku dia tetap seorang pria, Lis," kata Aksa teguh pendirian. Satpam itu memang masih muda. Mungkin seumuran Aksa. Badannya juga tegap.


"Aduh, Aksa ..." Lisa melirik pada Sera yang tersenyum menyaksikan keduanya berselisih. Ia malu. Pasti Sera menertawakan tingkah Aksa. Lisa langsung memeluk lengan Aksa. "Ayok, kita langsung pulang sekarang. Ser, aku pulang ya."


"Ya."


Bola mata Aksa masih tetap menatap tajam pada satpam yang hanya memakai kaos oblong itu. Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mobil. Lisa memaksa Aksa untuk menjalankan mobilnya.


"Kamu sengaja mengajakku pulang dengan cepat karena pria itu kan?" tegur Aksa saat mereka berdua sudah menjauh dari area sekolah.

__ADS_1


"Iya."


Mendengar ini Aksa langsung menepikan mobilnya pada jalan yang sepi. "Berarti kamu sedang membelanya?" tanya Aksa kesal.


"Aksa ... tentu saja aku membelanya. Karena dia memang tidak sedang menggodaku ataupun aku menggodanya," jelas Lisa geregetan dan juga tidak percaya bertengkar karena masalah satpam yang bahkan sudah mulai jaman kelas satu SMA sudah dikenalnya. "Lagipula seumur hidup aku enggak pernah menggoda pria. Ciuman aja dengan kamu," kata Lisa gemas.


Aksa diam. Lisa jadi diam juga seraya melirik.


"Jadi aku memang yang pertama ya?" tanya Aksa dengan wajah menggoda. Rupanya kata-kata Lisa yang mengatakan pertama kali berciuman adalah dengan dirinya, membuat pria ini bahagia.


"Ngomong apa sih?" Lisa mendengus dan memukul lengan Aksa dengan geram.


"Kalau begitu, yang di atas bukit itu ke berapa?" tanya Aksa.


"Yang di bukit?" Lisa belum mengerti yang di bahas Aksa.


"Ya. Itu ciuman kita yang ke berapa?"


"Kenapa harus di hitung, Aksa ..." Lisa jadi malu.


"Karena sepertinya aku akan sering melakukannya," kata Aksa penuh dengan ancaman. Lisa sampai harus merapatkan tubuh pada dinding mobil karena Aksa mencondongkan tubuhnya.


"Me-melakukan apa?" tanya Lisa.


"Kita buat perjanjian." Aksa menjauh dari tubuh Lisa. Ini membuat Lisa lega. Namun tidak sepenuhnya.


"Apa?" tanya Lisa.


"Kalau aku lihat kamu lagi dengan pria asing, aku akan meminta jatah ciuman beberapa hari ke depan."


"Perjanjian apa itu?" protes Lisa.


"Itu perjanjian hukuman."


"Ada-ada aja sih. Kayak enggak ada kerjaan aja."


"Aku bisa bekerja sambil memberimu hukuman ciuman."


"Ngawur," gumam Lisa sambil menatap lurus ke depan. Aksa tergelak. Marahnya lenyap seketika.


...________...

__ADS_1



__ADS_2