
Dia! Gadis itu!
Aksa membelokkan mobilnya. Tujuannya bukan lagi mall tempat ia dan Tiara akan bertemu. Dia langsung mengubah tujuan untuk menghampiri gadis tadi. Gadis dari warung itu, yang memakai pakaian yang sama dengan Yora.
Setelah kepergian Aksa, Lisa keluar dari kafe itu. Tugasnya selesai. Ia memberi tahu pada Maya. Kini ia harus segera ke rumah sakit. Melakukan tugasnya sebagai Lisa.
Jika tadi ia tampil manis karena masih berperan jadi Yora, kali ini tidak. Dia kembali menjadi dirinya sendiri. Masih dengan pakaian yang tadi, ia bergegas keluar menunggu ojek.
Giri tidak bisa mengantarnya. Dia keluar dengan anak-anak nonton basket. Jadi dia order ojek untuk sampai di rumah sakit. Awalnya Giri akan mengantar, tapi rupanya ia masih di tempat pertandingan. Lisa memilih berangkat sendiri. Ia tahu Arka sedang bertanding sekarang.
Karena terburu-buru, Lisa hanya memakai outer untuk menutupi pakaian milik Yora tadi. Ransel yang ia bawa bertengger di pundak.
Mobil Aksa mengikuti gadis ini dari belakang. Hingga tiba di rumah sakit tempat kakek Aksa di rawat. Setelah memarkir mobil, pria ini keluar dari mobilnya dengan kening mengerut heran.
"Rumah sakit ini?" tanya Aksa sambil menoleh ke sekitar. Ia masih ingat soal dirinya dan Yora yang mengunjungi kakek. Seorang ibu-ibu yang menyapanya dengan kalimat aneh. Juga kata-kata gadis itu soal kakek yang di rawat. Semuanya janggal. "Sepertinya aku akan menemukan sesuatu sekarang.”
Aksa sempat kehilangan karena parkir mobil berbeda dengan motor. Namun ia mencoba mengikuti sesuai lorong dimana muncul ibu-ibu yang menyapa waktu itu.
Ternyata ia benar. Punggung gadis itu kelihatan di depan sana.
"Itu dia." Dengan kaki di percepat, Aksa mengikutinya. Dia tidak ingin kehilangan lagi. Ini momen penting yang bisa memutus rasa penasaran dan curiganya. Ia harus mendapat jawaban dari semua keraguannya pada gadis itu. Siapa dia? Siapa Yora?
Kaki Aksa melambat seiring dengan langkah gadis itu yang juga memelan. Sepertinya sudah sampai di kamar yang di tuju. Gadis itu membuka pintu kamar dengan pelan. Kemudian masuk dengan menutupnya lagi.
Aksa berdecih karena ia pikir pintu kamar itu akan di buka. Ia jadi tidak tahu siapa yang ada di dalam. Aksa meremas tangannya sendiri. Padahal ia sudah merasa, tinggal sedikit lagi ia bisa menemukan banyak jawaban dari semua pertanyaannya.
Jika gadis itu memang anak pemilik warung waktu, berarti apa yang di katakan pak Namo sesuai. Ayah gadis itu sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan. Sejauh ini sesuai. Ia yakin di dalam sana adalah ayah gadis itu.
Menunggu ternyata menyebalkan. Dia jarang sekali menjadi orang yang menunggu karena dia akan sangat marah. Akhirnya ia memilih nekat untuk masuk. Apapun yang terjadi nanti, ia yakin akan punya solusi. Jadi dia berniat segera masuk ke dalam kamar perawatan itu.
Kakinya mantap melangkah.
__ADS_1
Sebelum ia berhasil masuk, pintu sudah terbuka lebih dulu. Ada seorang bapak dan ibu keluar dari kamar itu.
"Terima kasih sudah menjenguk." Ada suara perempuan dari dalam. Itu bukan suara gadis itu karena terdengar lebih tua. Melihat ada orang yang akan masuk, mereka membiarkan pintu terbuka. Ini kesempatan Aksa untuk masuk.
Mengira tamu tadi kembali, orang-orang di dalam kamar menoleh ke arah pintu dengan serempak. Aksa menyaksikan ada seorang pria paruh baya dengan perban masih di kepalanya menutup mata. Lalu ada seorang ibu yang sudah pernah ia jumpai di warung. Dimana ia yakin itu adalah orangtua gadis itu. Terakhir, ia melihat seorang gadis yang mirip dengan Yora yang baru saja ia temui di cafe Strawberry.
Manik mata gadis itu melebar mendapati Aksa masuk ke dalam kamar perawatan. Aksa langsung tersenyum sopan.
"Mencari siapa, Nak?" tanya ibu dengan ramah. Gadis itu masih tidak mengeluarkan kata-kata atau tindakan. Sepertinya dia masih terkejut dengan kemunculan dirinya yang sangat tiba-tiba.
"Saya mencarinya," kata Aksa dengan berani menunjuk Lisa yang duduk membeku di tempatnya.
"Lisa? Oh, dia kenalanmu?" tanya ibu itu pada gadis yang masih diam di sana.
Lisa? Jadi nama kamu adalah Lisa?
"Oh, iya ..." Ibu itu mengangguk-anggukan kepala membenarkan kabar yang di dengar Aksa. Lisa berdiri.
"Ibu. Saya keluar sebentar, ya ..." kata Lisa tiba-tiba.
"Keluar?" tanya ibu heran. Karena kenalan Lisa baru saja datang, tapi gadis ini sudah mau pergi. Lagipula sebentar lagi ibu mau pulang. "Ibu mau pulang, Lho."
"Iya, aku tahu. Hanya sebentar." Lisa beranjak dari tempatnya berdiri dan melewati Aksa sambil berucap lirih. "Ikut aku."
Aksa tidak keberatan. Ia memang harus mengikuti gadis ini sampai mendapat sebuah jawaban. Aksa meminta ijin keluar pada ibu dengan sopan. Ibu mengangguk.
Lisa berjalan agak jauh dari kamar barusan. Sepertinya ia memilih lorong yang agak sepi. Karena kakinya berhenti melangkah saat mendapatkan lorong yang sunyi. Kaki Aksa juga ikut berhenti.
Tubuh Lisa berbalik melihat ke pria di belakangnya tadi.
__ADS_1
"Siapa kamu? Kenapa kamu berpura-pura mengenalku?" tanya Lisa.
"Aku? Kamu tidak mengenalku?" Aksa balik bertanya.
"Jangan main-main. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Jadi jangan berpura-pura mengenalku," ujar Lisa sambil menunjuk Aksa. Dia harus menyangkal bahwa mereka saling kenal. Lisa harus berusaha keras menjauhkan pria ini dari keluarganya.
"Ho ... Jadi kamu gadis yang seperti ini? Jangan bersikap seolah kamu dan aku orang asing. Kita benar-benar sudah bertemu bukan? Bukan hanya waktu itu, tapi baru saja kita bertemu, Yora," desis Aksa. Lisa menelan salivanya sendiri.
Deg, deg, deg.
Meski kelihatan berani. Lisa sebenarnya takut. Ia cemas.
"Jangan bicara sembarangan. Namaku bukan Yora," kilah Lisa.
"Aku tahu. Kamu Lisa." Aksa mengatakannya dengan tenang. Berbeda dengan keadaan Lisa yang tidak karuan. "Bukankah sekarang akulah yang harus mengatakan bahwa kamu memang bukan Yora. Kamu orang lain, tapi kenapa kamu muncul dengan nama Yora di hadapanku," tunjuk Aksa seraya mendorong bahu Lisa. Hingga gadis ini mundur karenanya.
Lisa terdiam sejenak. Ia mencoba menenangkan diri untuk bisa menjawab.
"Jangan membual. Aku tidak harus mendengarkan orang bicara hal yang aku tidak mengerti. Aku harus pergi." Lisa memilih tidak lagi membicarakan itu. Dia sudah mengeluarkan pria ini dari kamar dimana bapak di rawat. Sekarang dia harus kembali. Ibu pasti sudah menunggunya.
Sret! Tangan Aksa menarik lengan Lisa. Aksa tentu tidak akan membiarkan gadis ini pergi dengan semudah itu. Dia harus punya jawaban pasti dari semua kecurigaannya. Gadis ini wajib mengatakannya.
Tarikan tangan Aksa membuat Lisa menempel ke dinding. Aksa memerangkapnya.
"Jangan harap kamu bisa lepas dariku," desis Aksa marah.
"Apa-apaan ini?" tanya Lisa panik. Tubuhnya bergerak ingin menendang Aksa. Namun rupanya Aksa juga tidak lengah. Dia menemukan kuda-kuda Lisa. "Jangan bergerak melawanku, Lisa." Aksa menahan kaki Lisa dengan kakinya. Dengan tubuh Aksa yang lebih tinggi dan tegap, Lisa jadi tidak berkutik. Lisa benar-benar terperangkap.
Bola mata Lisa melebar mendapati dirinya di tangkap Aksa.
Sial! Aku tidak bisa bergerak.
______
__ADS_1