Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 93 Pengakuan Arka


__ADS_3

Suasana setelah putus jadi agak kaku. Sera dan Sabo paham kalau mereka putus berusaha mengisi kekosongan saat semua tidak memahami keadaan mereka. Si Sabo sih baru tahu karena di wa Sera barusan.


 


"Ternyata kamu di sini, Ka," tegur Liliana yang muncul. Sera mengikuti Lisa yang melihat ke arah gadis itu. Semua langsung mempersilahkan siswi baru ini duduk. Liliana langsung mengambil tempat duduk di dekat Arka. Sera melirik ke Lisa. Gadis ini sudah tidak lagi menoleh ke sana.


 


Awalnya mereka mengira keakraban Lili dan Arka karena keduanya mengenal lebih dulu sebelum Lili sekolah di sini. Namun belakangan, mereka merasa aneh. Lisa tampak biasa saja dengan keakraban cowok dan cewek yang biasanya bikin emosi pacarnya. Sementara Lili terus saja mengajak Arka bicara. Meskipun cowok itu bicara sekedarnya saja, itu terlihat mencolok di mata.


 


"Li, kamu tahu kalau Arka itu cowoknya Lisa, kan?" tegur Nero mengejutkan semuanya. Bahkan Lisa mendongak dan mendelik karena terkejut. Semuanya bahkan membeku mendengar pertanyaan Nero yang tanpa basa-basi itu.


 


Tawa Lili surut perlahan. Arka menatap Nero. Lalu Liliana menoleh pada Lisa, kemudian berganti kembali melihat ke Nero lagi.


 


"Iya,” sahut Liliana.


 


"Lalu kenapa kamu bicaranya dekat banget sama Arka? Masa kamu enggak ada toleran sama sekali ke Lisa? Kalian kan sama-sama cewek?" Teguran Nero sungguh mengguncangkan semua orang di satu meja kantin ini. Dia tidak senang dengan sikap anak baru ini yang menurutnya salah. “Kamu juga kok ngerespon, Ka?” Kali ini teguran di layangkan untuk Arka.


 


"Ne, apaan sih?" Lisa protes sambil mendelik. Nero mengangkat bahu merasa itu memang kenyataannya. Dia patut bertanya karena takut kalau gadis baru itu menyakiti sahabatnya. Lisa menggeram sebentar. Sera dan Sabo saling berpandangan. Mereka memilih diam dulu. Karena tidak ada pemberitahuan mereka putus secara langsung.


 


"Aku sudah putus dengan Lisa," kata Arka mengungkap hal itu dengan terbuka. Sabo dan Sera saling pandang lagi. Lisa menghela napas. Dua anggota trio berandal terkejut. Liliana diam. Semua dalam pikiran masing-masing.


 


"Kalian putus Lis?" tanya Nero yang kurang percaya kalau bukan Lisa sendiri yang bicara. Lisa menggeram di dalam hati sembari melihat ke arah lain. "Lis?" desak Nero menyebalkan.


 


"Iya. Aku sudah putus sama Arka," ungkap Lisa sambil mengusap rambutnya sendiri. Saat itu bola mata Arka melirik. Lili hanya diam sambil menyeruput esnya.

__ADS_1


 


...***...


 


Siang ini Aksa mengunjungi rumah Lisa. Dari samping rumah, Giri yang hapal dengan mobilnya langsung menghampiri.


 


"Lisa ada?" tanya Aksa pada Giri yang menemuinya di halaman rumah. Warung sudah mulai sepi dan sepertinya akan tutup. Ibu yang melihat kemunculan Aksa memperhatikan dari dalam warung.


 


Giri menoleh ke belakang. Ke arah rumahnya bagian dalam.


 


"Enggak ada."


 


"Dia belum pulang sekolah?" tanya Aksa heran.


 


 


Aksa mengangguk pelan.


 


"Ponselnya enggak bisa di hubungi?" tanya Giri yang awalnya memilih enggak ngomong apa-apa, tapi lama kelamaan merasa tidak enak. Apalagi pria ini sudah mengantar bapak pulang waktu itu.


 


"Bisa, tapi dia tidak mengangkat handphone-nya," kata Aksa sambil tetap melihat ke dalam rumah. Seakan-akan gadis itu ada di dalam. "Oh, ya. Sebentar." Aksa membuka mobilnya dan masuk mengambil sesuatu. "Ini oleh-oleh untuk ibu dan bapak." Aksa menyerahkan sebuah tas kertas berwarna cokelat.


 


Setelah bicara sebentar, pria ini pamit pulang.

__ADS_1


 


Giri masuk ke warung menyerahkan oleh-oleh dari Aksa ke ibu.


 


"Kemana sekarang orangnya?" tanya beliau.


 


"Pulang."


 


"Lho, bukannya Lisa ada di dalam? Kenapa dia tidak mampir?" tanya ibu melihat ke luar lagi. Saat Akan pulang, ibu masuk ke dalam rumah. Jadi beliau tidak tahu kalau Aksa sudah pulang.


 


"Hanya memberikan ini saja," bohong Giri. Giri juga sudah berbohong kalau Lisa belum pulang dari sekolah, padahal gadis itu bersembunyi di kamarnya.


 


"Kenapa pakai sembunyi segala? Kamu mirip buron," tegur Giri saat Aksa sudah pergi pada Lisa yang celingukan di balik pintu kamarnya.


 


"Diamlah. Kamu enggak perlu tahu." Lisa tidak mau di interogasi oleh adiknya. Giri menipiskan bibir seraya menjauh dari Lisa yang masih melongok keluar.


 


"Biaya untuk bohong mana?" tagih Giri.


 


"Dasar tukang palak uang orang," omel Lisa. Giri angkat bahu sambil tetap menengadahkan tangannya.


...____...



 

__ADS_1


 


__ADS_2