Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 144 Perbincangan di pagi hari


__ADS_3

Yora menikmati makan pagi hari ini dengan perasaan senang. Banyak hal yang menyenangkan terjadi belakangan ini. Termasuk tentang pembatalan pernikahan dia dan Aksa. dia lega bisa melepas pria itu.


Namun, kata-kata mama saat makan mengejutkannya.


"Mungkin hari ini mama mau ke rumah keluarga Candika untuk membicarakan pernikahan kalian," ujar mama dengan nada gembira.


"Pe-pernikahan?" tanya Yora terbata-bata. Ia terkejut mama sedang membicarakan pernikahan. Padahal ia sudah memutuskan untuk melepas Aksa bersama Lisa. Dan ia berniat ingin mengatakan kalau dia tidak ingin lagi menikah dengan Aksa.


"Ya. Tinggal selangkah lagi kamu resmi memiliki Aksa. Pria yang kamu cintai." Bibir nyonya Anne tersenyum bahagia membayangkan impian putrinya terwujud sebentar lagi.


"Tapi ... Ma."


"Iya, mama tahu. Aksa itu sangat sulit untuk di perintah, tapi jika itu adalah kakeknya, dia pasti setuju." Mama memotong kalimat Yora. Punggung tangan Yora di tepuk perlahan.


"Bukan itu, Ma," bantah Yora melepas tangan mama lembut.


"Bukan? Lalu apa?" tanya nyonya Anne heran. Yora menunduk. Ia menautkan kedua tangannya, meremas jari-jari karena tidak bisa langsung menjawab pertanyaan mamanya. Maya yang melihat gadis itu ikut cemas. Ia tahu semua cerita gadis itu. Sekarang Yora hanya ingin dengan Noah yang begitu sayang padanya. Gadis ini tidak lagi menginginkan Aksa. "Kenapa tidak menjawab, sayang?"


"Aku ... aku tidak ingin menikah dengan Kak Aksa," kata Yora jujur.


"Tidak ingin menikah? A-apa yang kamu katakan?" tanya mama dengan ekspresi yang sudah bisa di tebak oleh Yora. "Bukankah itu keinginanmu?"


"Maafkan Yora, Ma. Namun Yora sudah enggak ingin lagi menikah dengan Kak Aksa. Bisakah Yora ..."


"Tidak bisa! Kamu harus menikah dengan keluarga Candika," tegas Nyonya Anne mengejutkan. Maya yang ada di sana juga ikut terkejut.


"Tapi aku tidak lagi mencintai Kak Aksa," rengek Yora.


"Tidak perlu cinta Yora. Kamu hanya cukup menikah dengan pria itu. Kakek akan menuruti keinginan ini karena wajahmu mirip dengan istrinya. Nenek Aksa."


"Mama ... Apa yang mama pikirkan?" tanya Yora tidak percaya pada apa yang di katakan mamanya. Sungguh ini sangat mengejutkan. Ia pikir karena dirinyalah mama seperti ini, tapi sepertinya ada hal lain yang di inginkan mamanya.


"Mama ini memikirkan kamu. Kamu harus jadi keluarga Candika. Harus. Itu harapan mama."


"Kenapa dengan itu, Ma?" tanya Yora merasa mamanya aneh.


"Karena dengan begitu, mama jadi bisa tenang saat kamu ..." Nyonya Anne menghentikan kalimatnya. Yora mengerjapkan mata. Menunggu kalimat itu utuh. Namun mama tetap tidak mengatakannya.


 


...*****...


 

__ADS_1


Di kamar Yora.


Ada apa sebenarnya dengan mama? Yora menggigit kuku berpikir. Ia berbalik dan menoleh pada Maya yang duduk di belakangnya.


"Kamu pasti tahu ada apa dengan mama, Maya," desak Yora.


"Maaf. Aku tidak tahu apa-apa soal ini. Ku pikir juga nyonya Anne berambisi menjadikanmu menantu keluarga Candika, karena kamu sangat mencintai Aksa. Aku tidak pernah berpikir kalau beliau ada alasan lain," kata Maya jujur.


Sungguh tidak mungkin jika Maya tidak mengatakan apapun padanya. Wanita ini jujur.


"Lalu apa yang membuat mama seperti itu?" tanya Yora gelisah.


"Maaf, aku tidak tahu Yora." Di paksa pun, Maya tidak mengerti.


"Aku akan bicara dengan Noah. Dia pasti bisa berpikir untukku. Tolong rapikan rambutku Maya. Aku akan bertemu dengannya," kata Yora lalu duduk depan cermin.


Maya tersenyum saat sedang menyisir rambut gadis ini.


"Ada apa?" tanya Yora merasa senyuman Maya aneh.


"Tidak. Aku hanya senang kalau kamu terlihat gembira, Yora."


"Oh, ya? Apa aku terlalu terlihat gembira?"


"Ya, tapi tidak apa-apa. Aku benar-benar bahagia melihat kamu yang sekarang." Maya tersenyum di pantulan cermin.


"Mungkin. Jika membawa dampak baik, mungkin memang benar dia untukmu. Apa kamu merasa hidup mu lebih baik daripada kemarin-kemarin?"


"Emmm ... Aku kurang paham. Hanya saja sepertinya memang banyak perubahan. Hubunganku dengan Kak Aska tidak seburuk yang aku bayangkan dulu. Aku pikir aku akan hancur kalau pria itu tidak jadi milikku. Ternyata tidak."


"Karena ada Noah yang setia menunggu hatimu terbuka untuknya," seloroh Maya membuat Yora tersenyum malu. "Mungkin inilah waktunya kalian berdua mendapatkan kebahagiaan."


"Mungkin saja."


 


...****...


 


Nyonya Anne datang ke kediaman Candika hanya dengan Maya. Beliau di sambut oleh Pak Aknam.


"Anda bisa tunggu sebentar. Tuan Candika sedang bersiap keluar setelah minum teh tadi," kata Pak Aknam mempersilakan.

__ADS_1


Tidak lama, kakek muncul dengan senyum ramah. Langkah kakek yang sudah tidak begitu cepat, tetap menyiratkan kewibawaan yang tidak pernah pudar.


"Selamat siang, Anne ..."


"Selamat siang, Tuan." Mereka bersalaman.


"Pasti ada hal penting, hingga kamu sendiri datang ke rumah ini ..." Kakek mulai duduk.


"Ya. Mungkin benar apa yang aku bicarakan itu penting."


"Apa itu?"


"Soal Yora dan Aksa," kata Anne memberi tahu.


"Putrimu? Ada apa?"


"Kalau bisa, pernikahan mereka di percepat. Aksa dan Yora lebih baik segera menikah saja," usul Anne.


"Menikah?" tanya Kakek seraya mengerjapkan mata. Beliau melihat ke arah Pak Aknam. Mungkin saling bertanya. Bukankah Yora sudah mengatakan kalau tidak ingin menikah?


"Benar. Sekarang atau nanti mereka akan menikah bukan? Yora meskipun masih muda, dia sudah siap menikah."


Kakek diam sejenak.


"Apakah kamu sudah membicarakan ini dengan putrimu?" tanya Kakek.


"Ya. Dia sangat mencintai Aksa. Jadi Yora sangat setuju kalau pernikahan ini di percepat," tutur Anne gamblang. Tanpa tahu kalau kakek sudah lebih dulu mengetahui kebenarannya.


Bohong. Wanita ini berbohong. Kakek tidak mengerti, kenapa Anne berbohong. Padahal Yora sudah mengatakan tidak ingin menikah karena Aksa sudah punya gadis lain yang di cintainya. Namun mengapa wanita ini tetap memaksa pernikahan segera di percepat?


"Mungkin rencana pernikahan itu harus di tangguhkan dulu, Anne," kata kakek.


"Di tangguhkan? Kenapa? Bukankah Anda bilang putriku adalah calon sempurna untuk Aksa karena dia mirip dengan nyonya?" tanya Anne terlihat sangat memaksa. Raut wajahnya jadi panik mendengar itu.


Kakek menyipitkan mata. Lalu menghela napas.


"Ada hal yang perlu kita berdua evaluasi lagi soal perjodohan ini, Anne."


"Evaluasi? Evaluasi apa, Kakek?" tanya Anne tidak terima.


"Apa kamu tidak tahu bagaimana perasaan putrimu pada cucu ku?" tanya Kakek mencoba memberitahu soal Yora yang sudah tidak ingin menikah dengan sabar.


"Aku sangat tahu kakek. Putriku itu mencintai Aksa, cucu Anda. Bahkan dia sempat bunuh diri dan koma ... Oh tidak. Tidak. Yora itu sangat mencintai Aksa, kakek." Anne kelepasan bicara karena kakek mulai membuatnya panik. Maya ikut menutup mulutnya karena majikannya salah bicara.

__ADS_1


...____...



__ADS_2