Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 142 Ternyata


__ADS_3

"Jadi ... Kamu ingin segera menikah dengan Aksa?" tanya Kakek. Aksa menoleh ke arah Yora. Gadis itu yakin Aksa sedang menatapnya tajam. Mungkin tidak ingin bibirnya salah bicara.


"B-bukan Kakek. Bukan itu." Yora menggelengkan kepala. "Yora juga tidak ingin menikah dengan Aksa."


"Tidak ingin menikah?" tanya Tuan Candika meyakinkan lagi pendengarannya benar.


"Ya. Yora tidak ingin menikah dengan Kak Aksa," sahut Yora membuat Kakek menoleh pada Pak Aknam yang ternyata masih di dalam ruang baca, karena beliau ikut heran melihat kemunculan Noah dan Yora.


Kakek terdiam. Jawaban Yora mengagetkannya. Karena beliau baru mendengar kalau gadis ini tidak ingin menikah dengan Aksa.


Pak Aknam menggelengkan kepala samar. Menandakan beliau tidak mendapat informasi tentang apa yang sedang gadis ini bicarakan. Ternyata setelah menduga ada yang berbeda dari Yora yang saat itu sebenarnya adalah Lisa, mengerahkan orang-orangnya untuk berburu informasi mengenai tepatnya saat makan malam. Usai datang ke makam nenek.


Aksa puas dengan kalimat meyakinkan dari gadis ini.


"Jadi maksud kamu ..." Kalimat Kakek menggantung.


"Maafkan Yora, Kek. Sebenarnya Yora tahu kalau Kak Aksa punya kekasih. Gadis yang sangat dicintai Kak Aksa. Jadi Yora juga tidak ingin menjadi jahat dengan memaksakan keinginan untuk menikah dengan Kak Aksa." Tangan Yora menunjuk Aksa yang melirik ke arahnya sebentar.


"Kalian ini sama-sama tidak menginginkan pernikahan, ya?" Kakek menarik kesimpulan.


"Iya," jawab Yora dan Aksa hampir bersamaan.


"Lalu kenapa kalian masih tetap bertunangan kalau memang masing-masing sudah tidak bisa di satukan?" tanya Kakek membuat semuanya heran.


"Bukannya ini semua karena kakek memaksa?" sembur Aksa karena merasa dipermainkan. Dia tidak bisa berkutik karena kakek yang berkuasa.


"Kakek memang memaksa. Karena saat melihat Yora, itu mengingatkan Kakek pada nenek. Namun jika seperti ini, apa yang harus di harapkan lagi ...," kata Kakek dengan nada tenang. Ini menggoda Aksa dan Noah untuk bergabung melawan kakek tuan yang sangat berkuasa ini.


"Jadi kakek mempermainkan kami?!" protes Aksa yang bersamaan dengan meluncurnya sebuah pertanyaan yang mengandung rasa kesal dan sebal yang mendalam.


"Bukan mempermainkan. Itu tidak mungkin," tepis Kakek. "Kakek ini ingin tahu saja."

__ADS_1


"Lalu apa ini?!" teriak Aksa kesal.


Tangan Aksa di lipat. Dia masih berada di ruang baca. Namun tanpa suasana tegang seperti tadi. Dia sedang mencari tahu dengan tatap matanya. Ada apa sebenarnya.


"Kenapa kakek tidak mengatakan yang sebenarnya? Kenapa kakek sengaja mempermainkan aku?" tanya Aksa geram.


"Tahan marah kamu, kalau tidak ... kakek tetap akan memaksamu menikah," tunjuk kakek yang langsung membuat Aksa terdiam.


Yora hanya mampu mengerjapkan matanya tidak percaya. Hanya begini? Ia sudah di bebaskan untuk tidak menikah?


Semua ini membuat tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Noah yang tidak jauh darinya langsung menangkap tubuh Yora yang sepertinya hendak pingsan.


Rupanya Yora tidak benar-benar berani menghadapi kakek Candika. Gadis ini hanya sok berani. Sok menjadi pahlawan. Ia ingin berguna bagi orang yang pernah di cintainya untuk kedepannya menjadi seorang teman. Juga memperjuangkan kesempatan bagi dirinya untuk di cintai pria bernama Noah.


**


Aksa memacu mobilnya dengan kencang. Dia sedang menuju ke rumah Lisa untuk menanyakan sesuatu. Dia tidak ingin gadis itu berpikiran macam-macam.


"Sialan Kakek! Apa yang dipikirkannya sampai harus mempermainkan Lisa juga?" Aksa memukul kemudi dengan kesal. Namun dia pantas bersyukur. Semuanya mulai mendapat titik terang. "Jadi itu arti dari ciumannya waktu itu? Arggh. Brengsek!"


"Lis! Lisa! Ada tamu tuh!" teriak Giri berani tidak sopan. Jika begini itu berarti ibu tidak ada. Karena tidak mungkin dia bisa seberani itu kalau ibu ada. Aksa turun dari mobil dan tersenyum pada calon adik iparnya ini. "Halo, Kak Aksa," sapa Giri.


"Ya, halo." Aksa berjalan mendekat. "Lisa ada kan?"


"Ada. Lis! Lisa!" Giri memanggil kakaknya lagi. Panggilan Giri tidak di jawab. "Masuk aja, Kak. Enggak ada orang kok di dalam. Bapak ibu ada kondangan. Bibi Sarah sih ada, tapi bibi sudah tidur. Enggak mungkin bangun karena mengeluh capek tadi," kata Giri lalu duduk di bale-bale depan sambil bawa ponsel.


Awalnya Aksa ragu. Karena ia tidak pernah masuk ke dalam rumah Lisa saat tidak ada orang.


"Lis! Lisa!" panggil Giri tanpa menoleh. Dia fokus main mobile legend di ponselnya. "Orang ini akan pulang lho, kalau kamu enggak keluar!" teriak Giri.


Krek! Pintu kamar terbuka.

__ADS_1


"Apa sih, Gi?!" teriak Lisa balas teriakan adiknya tadi. Namun saat melihat Aksa yang justru ada di depan pintu kamarnya, Lisa terkejut. Ia langsung menutup pintu. Namun tangan Aksa terlalu cepat dan kuat menahan pintu itu.


"Lis ...," lirih Aksa. "Kita harus bicara."


"Mau bicara apa?" tanya Lisa yang menundukkan pandangan.


"Aku tahu kakek mendatangimu," kata Aksa.


"Kalau sudah tahu, kenapa kamu malah kesini? Kamu kan tahu apa yang di inginkan kakek." Lisa tetap tidak ingin keluar. Mendengar ada ribut-ribut yang samar dari dalam rumah, Giri yang duduk di bale-bale depan melongok masuk dari kaca jendela ruang tamu.


"Kenapa mereka ngobrol di depan pintu?" tanya Giri heran. Namun saat melihat tangan Lisa menahan pintu, sementara Aksa tetap berdiri di sana, Giri beranjak dari bale-bale lalu berjalan ke pintu ruang tamu. "Kenapa Kak?" tanya Giri.


"Dia enggak mau keluar, Gi." Aksa mengadu.


"Enggak mau keluar?" tanya Giri heran. Lalu dia melongok Lisa yang teryata sedang menahan pintu itu dari dorongan Aska.


"Tolong jangan ikut campur. Tutup mulut dan abaikan. Ini urusanku. Pergilah," kata Lisa dengan mata tajam dan sedih bercampur jadi satu. Giri terdiam. Jika sorot mata sedih itu muncul, Lisa pasti sedang dalam suatu masalah. Giri menurunkan tangannya yang sejak tadi masih main game.


"Kalian bertengkar?" tanya Giri pada Aksa.


"Bukan seperti itu," bantah Aksa.


"Gi," panggil Lisa. Giri menoleh. Gadis itu tengah memohon padanya untuk mengusir Aksa. Ini serius. Ini masalah serius. Ada apa dengan mereka?


"Kamu selingkuh?" tegur Giri tidak basa-basi. Jika itu benar, dia tidak akan memaafkan.


"Tidak! Bukan itu. Aku bersalah padanya karena kakekku mendatanginya tanpa sepengetahuanku. Aku tidak tahu persis apa yang di bicarakan dia dan kakekku, tapi aku yakin itu menimbulkan salah paham." Secepatnya Aksa memberi penjelasan.


"Pergilah Aksa. Ini seperti aku dan Arka. Kita itu bagai bumi dan langit. Enggak mungkin bisa jadi satu. Kita punya dunia yang sangat berbeda. Pulanglah. Aku tidak apa-apa," tolak Lisa.


Bibi yang tadinya tidur jadi terbangun dan menyaksikan perdebatan dua orang ini.

__ADS_1


..._____...



__ADS_2