
"Aku tidak tahu Aksa begitu perhatian padamu," kata Tiara memulai sebuah percakapan yang sebenarnya tidak perlu.
"Yah," jawab Lisa singkat.
"Namun perlu kamu tahu, sepertinya dia terpaksa begitu karena kamu adalah kesayangan kakek Aksa. Dia terbelenggu karena di jodohkan denganmu." Tiara terus bicarakan soal pria itu. Sementara Lisa tetap menutup mata tanpa menerima omongan Tiara memenuhi telinganya.
Gadis ini tidak mau berpikir berat. Menurutnya, Tiara itu berniat bicara dengan Yora, tapi berhubung dia bukan Yora yang asli ... dia merasa tidak wajib mendengarkan perempuan ini bicara.
"Ya," sahut Lisa hanya sekedar menyahuti.
"Kalau saja kakek itu tidak sayang padamu, aku yakin Aksa juga tidak akan berusaha baik padamu. Lebih baik kamu tahu diri, Yora.”
"Sepertinya ... Aksa itu bukan hanya perhatian padaku, dia juga perhatian pada semua wanita. Bukannya kamu tahu itu?" Kalimat Lisa menohok.
Gadis ini bicara apa adanya. Semua orang tahu Aksa itu si cassanova. Bahkan nyonya Anne pun tahu soal itu.
"Itu ... Dia memang menyukai banyak wanita, tapi akulah yang spesial untuknya," ujar Tiara yang tadi sempat tersendat saat bicara. Mendadak Tiara menyombongkan dirinya.
Lisa mencebik.
"Benar. Kamulah yang spesial untuknya." Lisa tidak ingin menyanggah. Dia tidak perlu melakukan itu. Semuanya terserah saja. Dia hanya pelakon yang bersandiwara memerankan seseorang, hanya itu.
"Jadi jangan berpikir kamu akan menguasainya, gadis kecil," kata Tiara seakan menang.
"Tidak perlu. Aku hanya lewat saja. Silakan kuasai Aksa kalau kamu mau." Lisa malah mempersilakan. Namun respon Tiara tampak berlebihan. Masih dengan rambutnya yang masih basah karena krim, ia bangkit dan menoleh pada Lisa. Hingga pegawai salon terdiam membiarkan.
__ADS_1
"Kamu sedang menertawaiku? Semua jawabanmu seakan kamu tidak butuh dia. Padahal aku tahu bahwa kamu memilih bunuh diri karena tidak ingin Aksa pergi jauh darimu. Kamu tergila-gila, Yora. Mengaku sajalah."
Dari sini Lisa baru mendengar bahwa sebab gadis itu koma adalah bunuh diri. Kelopak matanya terbuka. Kepalanya menoleh ke samping. Melihat Tiara dengan tajam. Lisa kesal.
"Aku tidak pernah ingin membahas Aksa denganmu, tapi mulutmu mengoceh terus soal dia. Namun ketika aku mencoba menanggapi kamu saat aku malas untuk menjawab, kamu langsung protes marah merasa di tertawakan. Mau kamu apa?" tanya Lisa.
"Kamu bilang aku mengoceh?" tanya Tiara terkejut.
"Ya. Bukannya sejak tadi kamu bicara kesana kemari soal Aksa. Aku kasih tahu, ya. Terserah apa yang terjadi di antara kalian berdua, tapi akulah yang akan berada di sampingnya secara resmi,” pungkas Lisa. Tiara mengerjapkan mata mendengarnya.
Faktanya memang begitu. Meskipun banyak sekali perempuan Aksa di luar sana, pemenangnya adalah Yora yang sudah di jodohkan dengan Aksa. Lisa heran perempuan ini menganggapnya saingan.
“Mbak, pijatannya di kerasin dikit ya ... Aku merasa sangat lelah," pinta Lisa.
"Sepertinya aku juga lelah jika berurusan dengan bocah," kata Tiara kesal. Lalu ia kembali merebahkan tubuh.
"Bisa saya mulai lagi?" tanya pegawai itu takut-takut.
"Ya," sahut Tiara sebal.
***
"Aku sedikit mengubah gaya rambutku, Aksa," ucap Tiara yang keluar lebih dulu.
__ADS_1
"Oh, ya?" Aksa melihat rambut Tiara dan mengangguk. Ia sedang membaca buku yang di sediakan untuk pelanggan barusan.
"Kamu tidak mengatakan apa-apa?" tanya Tiara merasa respon Aksa sangat singkat.
"Ah, ya. Bagus. Seperti biasanya. Kamu selalu memoles dirimu dengan bagus." Aksa tersenyum dan kembali baca.
Tiara menghela napas.
"Kamu masih ada perlu di sini?" tanya Aksa yang heran Tiara masih berada di sana. "Atau kamu menunggu seseorang?"
Tiara menatap pria di depannya lurus-lurus.
"Jadi sekarang kamu mau berpaling dengan bersikap dingin padaku?" tanya Tiara.
Saat itu Lisa keluar dengan dandanan manis tapi tetap tegas. Jika biasanya ia harus berdandan ala Yora karena sedang menyamar, kali ini tidak harus begitu karena Aksa sudah tahu siapa dirinya.
"Kita tidak bisa berbicara banyak, Tia. Aku ada pertemuan hari ini." Aksa melihat ke arah arlojinya seraya berdiri. Tiara diam sejenak.
"Kapan kamu benar-benar bisa bicara denganku panjang lebar? Sepertinya setiap hari kamu sibuk dan tidak ada waktu untukku," kata Tia yang mengharap kejelasan.
Ah, mereka bertengkar? Sebaiknya aku menyingkir dulu dari sini. Lisa terkejut. Ia merasa mengganggu mereka. Jadi ia berniat menjauh.
"Mau kemana?" tanya Aksa yang menemukannya hendak pergi.
"Selesaikan obrolan kalian, aku bisa menunggu," kata Lisa yang terdengar bijak. Padahal dia berkata seperti itu dengan arti yang sesungguhnya. Tanpa adanya tekanan bagi mereka untuk segera menyelesaikan obrolan layaknya dua orang yang tertangkap basah oleh kekasihnya.
__ADS_1
"Urusanku juga selesai. Apalagi kamu datang denganku. Jadi kita keluar bersama-sama.” Aksa menghampiri Lisa dan mengikuti langkah gadis ini menuju pintu keluar. Tiara memandang mereka hingga lenyap masuk ke dalam mobil.
_____