
"Aku tidak perlu pendekatan dan sebagainya karena aku sudah mengenal kamu sejak jadi Yora," kata Aksa dengan senyuman di atas bibirnya. Pria ini benar. Lisa mulai was-was. "Lalu soal pernyataan cinta ... Aku sudah mengatakannya, tapi kamu belum menjawab ku. Sampai-sampai aku menggila dan langsung melamar kamu ke Bapak."
Bola mata Lisa menegang. "Jadi jawab pertanyaan ku, Lisa," tagih Aksa.
"Itu ... ya," jawab Lisa singkat. Bahkan terdengar terburu-buru.
"Apa? Aku enggak dengar, Lisa. Bicaralah yang keras." Aksa mencondongkan telinganya. Pria ini sengaja menggoda Lisa.
Melihat Aksa yang bertingkah, Lisa geram. Ia pun mendekatkan bibir ke dekat telinga Aksa dan mulai bicara, "Ya. Aku menerima pernyataan cinta mu, Om Aksa!"
Memekakkan telinga memang, tapi Lisa tidak sadar jika itu membuat wajah mereka sangat dekat. Bahkan saat Aksa memilih menoleh, Lisa terkesiap. Bibir mereka berdekatan.
"Aahh!" Lisa mendorong tubuh Aksa karena terkejut. Pria itu terdorong. "Aksa! Kamu enggak apa-apa?" tanya Lisa cemas. Sepertinya ia melakukannya lagi.
"Tiga kali." Aksa menunjukkan ketiga jarinya. "Tiga kali kamu menghajar ku." Bola mata Aksa meruncing. Lisa menggaruk pipinya. Karena ia sadar kalau memang pernah menendang dan meninju pria ini. "Jadi aku akan memberikan hukuman buat kamu lebih banyak dan berlipat-lipat ganda dari yang kamu lakukan."
"Kamu mau menghajar ku? Huh, laki-laki kok beraninya sama perempuan," ejek Lisa seraya membuang wajah.
"Justru karena kamu perempuan, aku akan menghajar mu ... di atas ranjang," lanjut Aksa membuat Lisa tersentak.
__ADS_1
"Dasar mesum," desis Lisa memukul lengan pria ini. Aksa terkekeh. Wajah jahilnya muncul. Dia terlihat senang melihat Lisa geregetan dan kesal.
"Aku akan melakukannya kalau kita sudah resmi, bocah." Aksa yang duduk di sebelah Lisa meletakkan telapak tangannya pada pucuk kepala gadis itu. Lisa bergerak-gerak untuk menolak. Aksa dengan menarik tubuh Lisa dan memeluknya dari samping. Gerakan Lisa berhenti.
"Aku tidak mungkin melanggar batas itu jika kamu tidak mengijinkannya, Lis. Meski rasanya gila karena terlalu bahagia kamu ada di dekatku, aku tetap tahu harus bagaimana."
"Kalimat playboy pasti manis. Jangan percaya Lisa. Kamu pasti ditipunya," racau Lisa mengingatkan dirinya sendiri.
Aksa yang mendengar itu tergelak.
Jujur, Lisa deg-degan. Di beri kalimat manis itu Lisa senang. Namun ... ada hal yang perlu di bahas. Penting! Lisa mendorong tubuh Aksa dari memeluknya.
"Jangan bicara terus. Kalau kamu memang berniat serius denganku, bagaimana dengan Yora? Meski dia menyerah, apa yang akan kamu lakukan dengan kakek? Kakeklah yang membuat perjodohan ini," kata Lisa tegang.
"Sebelum itu, sebaiknya kita makan dulu. Kasihan makanan ini hanya di diamkan saja. Lihatlah." Aksa menunjukkan makanan di atas meja. Dia tahu Lisa yang baru pulang sekolah pasti lapar.
"Ya. Aku lapar." Lisa mengaku.
__ADS_1
"Bagus. Jadi makanlah yang banyak, setelah itu kita baru bicara," ujar Aksa. Lisa mengangguk lucu. Aksa tersenyum. Gadis ini terlihat antusias makan. Itu membuatnya terhibur.
"Ayo makan. Jangan hanya melihat saja, Aksa," ajak Lisa. Aksa mengangguk. Ia pun mulai makan bersama Lisa.
Tawa mereka terdengar lepas saat ada celetukan-celetukan ringan yang keluar dari bibir mereka. Lisa meneguk minuman dingin di tangannya karena hampir tersedak karena tertawa.
...____...
__ADS_1