
Kehidupan pengantin baru. Keesokan hari setelah pesta pernikahan.
Suara peralatan masak di dapur terdengar. Sepertinya pagi ini ada yang sedang sibuk di dapur. Aksa keluar dari kamar dan melihat Lisa tengah menyiapkan sarapan. Ini pertama kalinya ia melihat gadis ini melakukannya. Tentu saja. Bukannya mereka tidak pernah berada dalam atau atap awalnya dalam waktu sepagi ini.
"Selamat pagi, sayang ..." Aksa yang bertelanjang dada langsung melingkarkan lengan dari balik tubuh Lisa. Membuat gadis ini berjingkat karena kaget. Menyeruak aroma tubuh pria ini yang mulai di hapal Lisa.
"Kamu ..." kata Lisa gemas.
"Iya, ini aku," bisik Aksa. Pria ini selalu begitu. Untung saja Lisa sudah selesai membuat sarapan.
Saat ini mereka tinggal di rumah sendiri jadi saat bermesraan sepeti ini tidak ada yang melihat.
Sebenarnya Lisa tidak keberatan tinggal di rumah keluarga Candika meskipun itu tidak nyaman. Karena ibu selalu berpesan untuk patuh pada suami. Namun ternyata Aksa berinisiatif sendiri untuk tinggal pisah. Lisa menyambut keputusan Aksa dengan gembira.
Aksa menyetujui Lisa bekerja di perusahaan miliknya sambil kuliah. Sebenarnya Aksa tidak mempermasalahkan soal pendidikan. Karena Aksa hanya ingin meminta Lisa untuk melayaninya sebagai istri saja. Namun setelah berpikir kalau ide satu kantor dengan istri itu bukan hal buruk, Aksa setuju Lisa bekerja.
Walaupun masuk lewat jalur khusus, Lisa tidak mau di tempatkan di bagian yang tidak sesuai dengan pendidikannya yang hanya lulusan SMA. Dia tahu diri.
"Ayo makan bersama, sayang." Lisa mengecup pipi Aksa yang merunduk padanya. Namun ternyata ciuman di pipi Aksa justru membuat pria itu tersulut gairah. Pria ini malah membalas Lisa dengan ciuman di tulang selangka dan leher.
"Aksa ... Kita masih harus menghadapi tamu lain. Jadi enggak bisa bersantai," ujar Lisa sambil menahan gelenyar di tubuhnya.
Beberapa tamu yang berhalangan hadir kemarin, di persilakan datang pada hari ini. Ini waktu khusus buat mereka yang memaksa memberi selamat pada pengantin. Demi menjaga kesopanan, Aksa menerima mereka. Karena bulan madu mereka ke Eropa tidak bisa sekarang karena cuaca.
Aksa melihat ke arah jam dinding.
__ADS_1
"Ini masih pagi. Masih jam tujuh. Mereka akan datang agak siang," kata Aksa tepat.
"Iya tapi kan harus siap-siap juga. Aku juga ..." Lisa tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Karena Aksa tidak peduli, dia tetap menjejalkan bibirnya pada setiap inci tubuh Lisa. Hingga perempuan ini tidak bisa mengatakan sesuatu karena menikmati sentuhan Aksa.
Aksa melepas ciumannya dan membalikkan tubuh Lisa menghadapnya.
"Aku bahagia," kata Aksa
"Ya, aku tahu," sahut Lisa.
"Tidak, tidak. Kamu tidak tahu, bocah. Yang kamu tahu aku hanya bahagia saja. Aku ini luar biasa bahagia," ujar Aksa. Bola mata laki-laki ini memang berbinar binar. Tanpa mengatakannya pun Lisa mengerti.
Tangan Lisa terulur pada pipi Aksa.
"Jangan berterima kasih. Itu sudah kewajiban ku membuat kita berdua bersatu dalam ikatan resmi ini. Aku mencintaimu, Lisa."
Ucapan ini mendapatkan balasan dengan sebuah ciuman dari Lisa. Aksa mengerjapkan mata takjub. "Aku juga mencintaimu, Aksa."
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Aksa mengangkat tubuh Lisa ke dalam gendongannya.
"Aksa?" Lisa terkejut.
"Kita akan bercinta lagi," ujar Aksa dengan sorot mata penuh kabut.
"Tadi malam sudah." Masih ingat pusat tubuh Lisa yang merasa perih.
__ADS_1
"Itu hanya pemanasan," kata Aksa sambil membawa tubuh Lisa ke kamar.
"Pemanasan?"
"Ya." Akhirnya kaki Aksa sampai di dalam kamar utama. Dia membaringkan tubuh Lisa dengan lembut di atas ranjang. Lalu kembali menegakkan tubuhnya.
"Lalu sekarang? Ini intinya?" tanya Lisa.
Aksa melepas piyama yang di pakainya. Itu membuat tubuh pria ini polos tanpa apapun. Bola mata Lisa melebar melihat 'senjata' pria ini yang menegang. Dia menelan ludah. Lisa melempar pandangan ke arah lain. Bukan tidak sudi, tapi lebih ke tidak bisa membayangkan hal nakal seperti tadi malam. Padahal ini kedua kalinya ia melihat itu.
"Ini bukan intinya, sayang." Aksa mendekat ke tubuh Lisa yang berbaring melihat ke arah lain. Sekarang tubuh pria ini sudah berada di atas istrinya. Memegang lembut dagu Lisa agar menatap ke arahnya.
Kini Lisa menatap mata penuh gairah itu. Aksa menundukkan kepalanya. Kemudian berbisik. "Ini pemanasan kedua sayang."
Lisa mengerjapkan mata dan menelan ludah kedua kalinya. Ia akan 'dihajar' lagi oleh Aksa.
"Aku akan melakukan lembut seperti tadi malam," imbuh Aksa dengan mesra. Lisa tersenyum pada akhirnya. Ia harus pasrah. Pria ini sedang menggebu-gebu menghujamkan senjata pada inti tubuh miliknya.
Hal-hal yang di inginkan Aksa pun terjadi.
..._____...
...T A M A T...
__ADS_1