
Walaupun memakai pakaian yang berbeda, mirip akan tetap terlihat mirip. Mungkin Tiara juga berpikir bahwa Lisa mirip dengan Yora. Atau tanpa sadar Tiara seperti merasa mengenal Lisa karena momen menjadi pengganti kala itu. Bagaimana pun wajah Lisa tetaplah mirip dengan Yora di mata orang lain.
“Bagaimana aku menikmati pesta ini jika gaun ku basah?” keluh Tiara lagi. Ia kesal. Bahkan sangat kesal. “Aku akan kerepotan bertemu tamu-tamu lain dengan gaun basah, apa kalian bisa mempertanggungjawabkan itu?” Mata Tiara membulat sempurna. “Kalian ini seharusnya segera di pecat karena melakukan ini,” desis Tiara.
Tidak bisa di pungkiri itu membuat Tiara terlihat agak buruk jika di bandingkan penampilannya tadi. Lisa dan Hani tidak bisa membantah.
“Aku akan minta orang penting di perusahaan ini komplain ke bos kalian,” ancam Tiara.
“Jangan Nona. Saya bisa di pecat,” kata Hani mendekat ke Tiara untuk memohon. Perempuan itu menjauh seraya menghempaskan tangan Hani dengan kesal.
Lisa juga sebenarnya tidak ingin kehilangan pekerjaan. Karena setelah mencari kesana-kemari, tempat ini yang cocok dan menerima dia. Namun tetap saja Lisa hanya seorang karyawan magang. Apalagi masih sekolah. Pekerjaan bukanlah kebutuhan paling atas.
Pesta ini memungkinkan dia bertemu banyak member VIP yang menggunakan pakaian dari tangan kreatifnya. Jika performanya buruk di depan mereka karena gaun kusut, apa kata mereka yang selama ini melihatnya sebagai role model dalam berpakaian?
Aksa yang melihat insiden ini mendekat. Yora sedikit terkejut kaki pria itu mendekat ke tempat Lisa berada. Kakinya sendiri tetap menancap ke lantai meskipun dia cemas jika Aksa bertemu Lisa. Yora tidak berani mengikuti pria itu. Bola matanya saja yang sejak tadi mengikuti gerak-gerik pria ini dari tempatnya.
Dari jauh Arka melihat bahwa pria itu mendekati Lisa.
Apakah Aksa sengaja mendekati Lisa meskipun di depan ada Yora dan yang lainnya? batin Arka.
“Ada apa, Tia?” tanya Aksa. Tiara menoleh dengan cepat.
Lisa terkejut melihat pria ini mendekat. Hani panik karena jika tamu penyewa mereka protes, itu akan mengurangi performa restoran tempat mereka bekerja. Bahkan orang penting dalam perusahaan ini mendekati mereka. Hani langsung berpikir, celakalah mereka!
__ADS_1
“Mereka ini ....” Belum selesai Tiara menuntaskan kalimatnya, Hani mendekat.
“Maafkan saya, Nona.” Hani menarik tangan Tiara untuk meminta maaf lagi. Perempuan ini ketakutan setengah mati. Namun sungguh sial hari ini. Karena Tiara mengelak, tangan Hani justru tertambat pada gaun pesta Tiara yang berbahan kain tile yang rapuh. Gaun itu robek.
Mata Tiara mendelik. Hani berteriak karena terkejut.
“Maaf. Maafkan saya.” Hani makin panik. Lisa juga ikut terkejut melihat itu.
“Lihatlah! Lihatlah perbuatan kalian!” teriak Tiara marah dan panik menjadi satu. Lisa mendekat untuk menarik tubuh Hani yang masih berdiri di dekat Tiara.
Dengan marah memuncak, Tiara meraih apapun yang ada di dekat tangannya lalu di lemparkannya pada mereka.
“Hei!” teriak Aksa cemas karena dia melihat Lisa mendekat. Air itu muncrat kemana-mana. Rupanya Tiara melempar gelas berisi jus buah.
“Ah, Aksa.” Tiara terkejut. Lisa yang masih di sana menoleh ke depan dengan cepat. Aksa memang melindunginya. Itu membuatnya hanya terkena cairan jus itu sedikit. Semuanya di terima oleh wajah dan dada Aksa.
Melihat insiden ini, Yora dan Allen mendekat. Arka dan Liliana yang berdiri agak jauh menoleh. Lili tahu kalau Arka juga ingin mendekat, tapi entah kenapa tiba-tiba urung.
“Kita tidak ikut ke sana?” tawar Liliana.
“Buat apa? Aksa dan Tiara sudah biasa seperti itu bukan? Biarkan saja mereka,” kata Arka memilih fokus pada minuman yang di pegangnya.
“Sebenarnya, seberapa dekat Lisa dengan Kak Aksa? Meskipun mungkin mereka kenal karena kamu dan Lisa pacaran, tapi aku rasa kak Aska lebih dari sekedar kenal. Mereka akrab," kata Liliana yang tdika di gubris Arka.
__ADS_1
“Kamu enggak apa-apa?” tanya Yora cemas yang sudah berada di dekat
“Kakak enggak apa-apa?” Allen ikut menyuarakan kekhawatirannya.
Tiara yang terkejut melihat dia salah sasaran, membeku. Lalu dia mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan mengambil napas dalam-dalam.
Aksa melindungi gadis itu? Bukan gaya pria ini biasanya. Tiara mendengus lebih kesal. Wajah terlihat mirip dan keduanya membuatnya kesal.
Aksa diam seraya membersihkan air dari wajah dan pakaiannya. Lisa masih mencoba menenangkan Hani. Sesekali gadis ini menoleh ke arah Aska yang sibuk mengelap air dari wajahnya. Ada rasa iba juga, tapi Lisa masih perlu menenangkan Hani. Lagipula pria itu tidak membutuhkannya. Sudah ada orang lain yang mencemaskannya.
Lisa membawa Hani ke belakang.
“Bagaimana ini, Lis? Bos pasti marah besar. Aku akan di pecat. Cicilan ku masih banyak. Bagaimana ini?” Hani panik.
“Aku memang enggak paham karena hanya magang. Juga enggak punya tanggungan besar, tapi sepertinya lebih baik Kak Hani tenang dulu. Jangan panik lagi. Bos marah itu aku rasa pasti iya.”
“Duh, kok kamu nakut-nakutin sih, Lis?” Hani cemas.
“Itu nyata. Namun sekarang kita enggak boleh ngehancurin pekerjaan kita di sini juga. Panik memang, tapi ya ... Jangan over thinking dulu. Kali aja itu CEO tadi hanya sekedar ingin tahu ada apa. Bukan ingin protes pada kita," jelas Lisa panjang. "Sekarang kita coba tenang ya Kak Hani ...."
Lisa mengira kedatangan Aksa yang membuat Hani makin panik.
...____...
__ADS_1