Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 45 Warung ramai


__ADS_3


"Es teh 6, es jeruk 1, jeruk anget 1 ... " Lisa berusaha menghapal pesanan barusan. Dia tidak ingin pesanan yang sudah di sebutkan tadi, terlupa. Itu akan mendapat pandangan minus dari pelanggan ibu.


 


Dengan keterampilan meracik yang sudah ahli, Lisa bisa segera menyelesaikan pesanan dengan waktu yang tidak lama. Setelah meletakkan semuanya di atas nampan, Lisa memeriksa lagi. Yakin benar, gadis ini bergegas membawa ke pelanggan.


 


Mobil yang terparkir di pinggir jalan membuatnya tertarik. Ia merasa tidak asing. Namun ia mengabaikan karena harus mengantarkan minuman pada pembeli dengan segera.


 


Setelah menyodorkan minuman pada orang-orang yang duduk di teras, Lisa berganti tempat. Ia mendekat ke pembeli yang duduk di dalam karena si luar sudah penuh, tanpa menoleh. Pandangannya sibuk dengan lengannya yang basah karena cipratan air minuman yang sedang di bawanya.


 


"Es jeruk dan jeruk hangat?" Gadis itu memastikan minuman yang di bawanya benar dan sesuai pesanan.


 


Saat ia mulai fokus melihat ke depan, tepat ke arah pembeli yang baru saja mendongak ke arahnya, Lisa terkejut.


 


Aksa!


 


Pembeli itu adalah Aksa. Meski sempat ragu karena tidak mungkin itu Aksa yang ia maksud, Lisa berpikir cepat untuk segera kabur dari sana. Untung saja Bi Sarah memberinya tugas lagi untuk membuatkan minuman.


 


Kakinya segera cepat menghindar. Ia yakin pria yang mirip Aksa itu sedang memperhatikannya.


 


Benarkah tadi Aksa? tanya Lisa di dalam hati ragu. Namun saat ia kembali tidak sengaja melihat ke arah mobil yang di parkir di pinggir jalan, keyakinan semakin menguat. Mobil yang tidak asing itu sepertinya milik Aksa.


 


Lisa mewek di dalam hati.


 


"Sini! Pakai nampan kamu. Bibi perlu membawa nasi ini ke orang-orang yang punya proyek perumahan yang baru di selatan sana," kata Bi Sarah. Lisa tahu yang di maksud bibinya adalah orang yang mirip Aksa tadi.


 


Ketakutannya terjadi. Bibi meminta bantuannya untuk menyerahkan pesanan untuk orang-orang tadi. Termasuk Aksa.


 


“Antar ke pak Namo di dalam,” ujar Bi Sarah memberitahu.


 

__ADS_1


Lisa makin meringis di dalam hati.


 


Namun dia tidak bisa menolak karena pesanan minuman sudah teratasi semua, tinggal makanan pelanggan yang belum di antarkan.


 


Lisa percaya, pria yang ia yakini itu Aksa, sedang mengamatinya sekarang. Ia tidak berani mendongak. Kepalanya terus menunduk. Menghindari tatapan Aksa.


 


"Terima kasih mau mengantarkan," ujar Aksa dengan suara rendah penuh tekanan. Namun Lisa masih bisa berbesar hati. Dia perlu yakin bahwa tidak mungkin ada seseorang yang berani menyamar menjadi tunangan pria konglomerat seperti dirinya.


 


Kepala Lisa mengangguk menerima ucapan terima kasih dari Aksa. Selepas dari pekerjaan barusan, Lisa berdiri dengan memegangi kepala. Berdecih dan meninju-ninju udara.


 


"Ngapain? Jadi gila? Epilepsi atau rabies nih?" tegur Giri mengagetkan. Tak ayal lagi Lisa melayangkan pukulan pada lengan adiknya. Namun bocah ini bisa menghindar.


 


"Kurang ajar banget, mulut kamu. Sini, aku pecek pakai uleg." Lisa geregetan. Giri ngakak hingga terdengar dari warung di depan.


 


Karena letak dapur tidak begitu jauh dari ruang tamu yang di pakai pelanggan untuk makan, Aksa pun mendengar dengan jelas suara Lisa. Meski Aksa diam seraya makan, telinganya berusaha mendengarkan dengan jelas percakapan mereka.


 


 


"Mau makan."


 


"Jangan kabur. Jangan pakai alasan. No, no, no, no ..."


 


"Aku mau makan beneran. Terus sebelum itu mau ganti baju juga," rengek Giri.


 


"Masuk lewat sini." Lisa menunjuk ke pintu belakang. Giri menipiskan bibir kesal. "Jangan pernah berpikir kabur. Siapa di depan? Ada teman sekolahmu?" Lisa melongok ke jalan. Ternyata tidak ada. Giri memang pulang sekolah sendirian.


 


“Enggak ada kan?” Giri puas bahwa dirinya memang niat makan sama ganti baju sungguhan.


 


“Bagus. Jangan kemana-mana. Bantuin Bi Sarah. Aku kewalahan. Aku laporin ibu kalau kamu mangkir dari tugas,” kata Lisa sambil menunjuk adiknya.


 

__ADS_1


“Iya. Tenang. Aku mau ganti baju dulu.” Giri masuk lewat pintu belakang. Meski tidak punya kamar, Giri punya lemari yang letaknya di dekat tv. Bukan lemari, hanya sebuah laci plastik.


 


Dari tempat Aksa duduk di ruang tamu, tubuh Giri yang nongol di dekat tv kelihatan begitu jelas. Aksa melirik. Namun hanya punggungnya saja karena Giri menghadap laci. Cowok ini menarik laci nomor dua. Mengambil kaos warna abu-abu. Tangannya juga mau mengambil celana pendek, tapi ada panggilan tugas dari depan.


 


“Giri! Lisa!” BI Sarah makin aktif memanggil dua bocah ini untuk pesanan selanjutnya. Giri memilih meletakkan bajunya lagi di dalam laci dan bergegas keluar.


 


Hari ini lumayan ramai, padahal bukan hari aktif. Makin mau tutup makin ramai saja. Namun patut di syukuri karena itu berarti rejeki lancar.


 


Karena terburu-burunya, Giri lewat depan. Dimana itu melewati lesehan tempat duduk Aksa. Pria ini memandangi Giri yang lewat dengan tetap menatap lurus ke depan. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk bersikap sopan pada Aksa dan pak Namo yang duduk lesehan. Aksa terus memperhatikannya hingga Giri sampai di depan bi Sarah.


 


Setelah selesai membayar, Aksa menyempatkan menoleh ke samping. Dimana ada lorong di samping rumah untuk menuju ke dapur. Sekilas Aksa bisa melihat wajah tidak asing itu. Lisa yang merasa di perhatikan ikut menengok. Sesaat tatapan mereka bersirobok. Hanya beberapa detik mereka saling menatap. Dan terputus karena Aksa mendekat ke mobilnya.


 


Dia mirip Yora. Atau dia Yora? Atau dia kembaran Yora? Atau dia orang lain yang berwajah mirip dengan Yora. Pikiran Aksa penuh dengan itu. Hingga akhirnya setelah pekerjaannya selesai, dia memutuskan mencari penasihat.


 


“Noah, kamu masih di kantor?” Aksa menelepon sepupunya. Ternyata yang mau di jadikan penasihat adalah Noah. Dia pilihan yang tepat jika mau membicarakan Yora. Karena Noah jauh lebih mengenal Nayora daripada dirinya.


 


“Ya, tapi aku sudah mau pulang. Kenapa? Bukannya kamu ada di area lahan yang akan di jadikan perumahan itu. Ada masalah di lapangan?” Noah menggunakan mode loud speaker dan meletakkan ponsel di atas meja. Itu di karenakan tangannya sibuk membereskan meja. Dia sudah berkemas dan ingin segera pulang.


 


“Tidak ada masalah sama sekali. Semua berjalan seperti yang kita inginkan.”


 


“Oh, bagus. Lalu?”


 


“Kita ngopi sejenak. Ada yang ingin aku bicarakan. Tunggu aku di tempat biasanya,” kata Aksa lalu memutus sambungan ponselnya. Noah memicingkan mata. Heran.


 


“Memangnya dia mau bicara apa? Suaranya terdengar serius.” Noah meraih ponselnya dan meletakkan ke saku. Meja sudah selesai di bereskan dari dokumen-dokumen yang tadi berantakan. Sekarang dia tinggal berangkat menuju tempat janji. Pasti yang di maksud Aksa tempat biasa adalah outlet ngopi di mall keluarga Candika. Sangat dekat dengan lokasi pria itu berada.


_______


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2