
Yora yang sudah tahu Lisa adalah orang yang menggantikannya, paham arti kata pengganti untuknya. Apalagi ia juga sudah berkenalan secara singkat dengan gadis itu ketika siuman dari keadaan koma.
Nama Lisa sangat sensitif jika di dekatkan padanya. Karena dia mengerti apa konsekuensi untuknya, ketika ada yang tahu tentang gadis pengganti itu. Bukankah Aksa yang tidak mencintainya makin membencinya? Yora yang sangat mencintai Aksa takut itu terjadi.
"A-ku tidak paham apa yang kamu maksud Aksa," kata Yora berusaha menghindar. Yora menunduk dan menautkan jari-jarinya gugup.
Aksa mendengus. Membuang muka ke arah lain seraya minum-minuman yang Baru saja di ambilnya. Dia tidak berharap banyak kalau gadis ini akan mengaku. Aksa yakin Yora akan berkilah. Sejak awal ia sudah menebak itu.
Yora makin panik melihat senyum misterius Aksa. Tangannya gemetar saat mencoba minum air di tangannya. Namun ia harus bisa meneguk beberapa tetes air untuk menenangkan diri.
Sengaja Aksa tidak langsung mengungkap soal Lisa yang menjadi pengganti gadis ini. Dia membiarkan gadis itu di liputi rasa was-was dan cemas akan ketahuan. Sedikit sadis untuk gadis seperti Yora. Namun Aksa tidak peduli.
Dari jarak yang tidak jauh, terlihat seorang wanita dewasa yang sedang berbincang dengan para tamu lainnya. Dia Tiara. Wanita yang pernah jadi milik Aksa. Mungkin hanya nafsu belaka yang melatar belakangi Aksa mendekati wanita ini. Namun dia bandingkan wanita-wanita lainnya, dialah yang paling istimewa.
Sebenarnya sudah sejak tadi Tiara menoleh ke arah sekelompok keluarga Candika. Bola matanya yang menangkap Aksa dan tunangannya, tersenyum sinis.
"Oh, boleh aku pergi mencicipi masakan yang lain?" pamit Tiara sopan pada orang-orang penting yang mengenalnya.
"Silakan. Silakan," kata orang-orang itu. Tiara tersenyum dan menjauh dari mereka. Kakinya bergerak perlahan menuju tempat Aksa dan yang lainnya.
Saat itu Lisa tidak sengaja menoleh. Bola matanya melebar saat tahu perempuan itu muncul. Masih ingat terakhir dia cekcok di salon kecantikan dengan desainer itu. Lumayan sengit dan membekas di hati. Juga dia masih ingat soal sikap Aksa yang tidak memedulikan wanita itu dan memilih pergi dengannya.
"Halo, Aksa," sapa Tiara mengejutkan. Sengaja dia mencegah langkah Aksa. Semua menoleh ke arah perempuan ini satu persatu. Aksa yang sedang tersenyum sinis pada Yora ikut menoleh karena mendengar namanya di sebut. "Lama sekali kita tidak bertemu. Setelah kamu pergi terburu-buru waktu itu."
Aksa mengerutkan kening. Sepertinya pria ini tidak ingat. Namun Aksa tersenyum seakan dia masih ingat momen yang di bicarakan perempuan itu.
"Ya. Itu lama sekali," sahut Aksa. Tiara melirik ke arah Yora dengan tatapan permusuhan. Juga tersenyum sinis. Di tatap seperti itu Yora langsung menunduk. Dia tahu siapa wanita ini. Hatinya menciut melihatnya.
"Halo, Yora," sapa Tiara membuat Yora berjingkat kaget.
"Y-ya. Halo." Yora sedikit menunduk melihat Tiara. Gadis ini merasa kecil jika berhadapan dengan wanita yang dia tahu sebagai kekasih Aksa.
__ADS_1
"Kalian sudah mulai terlihat sebagai pasangan,” kata Tiara dengan tawa ringan yang mencibir.
“Oh, tentu saja,” kata Aksa ikut tergelak. Dia menertawakan Tiara yang tertipu dengan Yora. Pasti wanita ini mengira dia sedang bicara dengan gadis yang sama. Dimana ia pernah bertemu sebelumnya. Padahal yang di hadapinya adalah gadis yang berbeda.
“Aku rasa kamu tidak tahu Yora, siapa Aksa sebenarnya,” kata Tiara. Aska melirik. Gadis itu mengerjapkan mata. “Ku rasa dia hanya tahu kalau kamu itu pria tampan,” ujar Tiara melempar pandangan pada Aksa. Pria ini diam. Dia ingin tahu apa yang akan di katakan Tiara.
“T-tahu. Dia p-pria yang baik,” kata Yora membuat Tiara tertawa renyah. Lisa ikut mendengus mendengar itu.
“Pria baik katamu?” Tiara tidak bisa menyembunyikan cemoohannya. Ia tertawa seraya menutupi mulutnya.
Aksa tersenyum tipis mendengar gadis ini bicara. Ia seperti tertohok juga. Karena sebenarnya dia tidak baik ke Yora. Seringkali ia justru menunjukkan rasa tidak tertariknya pada gadis itu.
“Y-ya,” sahut Yora berusaha tegas. Aska melirik mendengar gadis itu membelanya.
“Mana ada pria baik, yang sibuk dengan wanita lain saat dirinya sudah punya tunangan,” kata Tiara. Aksa tidak ingin mengatakan apa-apa karena dia memang masih berkeliaran dengan wanita lainnya saat sudah bertunangan dengan Yora. Meskipun itu berhenti saat ia menemukan Lisa. “Kamu terlalu polos untuk Aksa yang berpengalaman.” Tiara menggelengkan kepala.
Tiba-tiba Aksa merapatkan bahu Yora pada lengannya. Yora terhenyak kaget. Ia menahan napas sejenak.
“Huh. Jadi kamu akan mengajarinya cara orang dewasa?” tanya Tiara dengan meremehkan.
“Kenapa aku harus mengatakannya padamu? Kamu tidak perlu tahu apa yang akan aku lakukan padanya,” jawab Aksa. Tiara menggeram.
“Jadi semua yang kamu lalui denganku hanya pelampiasan saja?” tanya Tiara emosional.
“Kita sama-sama dewasa, Tia. Kamu tahu bagaimana orang dewasa menghabiskan malamnya. Dan kamu tidak protes saat kita memulai. Jadi jangan bersikap seperti korban,” tegur Aksa mulai serius.
“Dewasa? Aku rasa tidak ada kata dewasa pada dirimu. Kamu hanya pria kekanak-kanakan,” tuding Tia.
Sementara dua orang ini berdebat, Yora tengah melirik ke arah lengan Aska yang sedang melingkar di pundaknya. Gadis ini tersenyum sendiri menyadari dia sedang di peluk Aksa. Itu mungkin salah satu impiannya. Yora menyentuh bibirnya agar senyuman bahagianya tersamarkan.
Dasar Aksa. Lisa mendengus melihat perdebatan mereka berdua. Hani menyenggol lengannya.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak jadi melayaninya? Bukannya dia pria tampan yang kamu bilang CEO perusahaan ini?” tanya senior di restoran tempat Lisa bekerja dengan dagu menunjuk seseorang. Lisa menoleh. Ternyata Hani menunjuk Aksa.
“Tidak. Dia tidak perlu di layani. Lagipula ada tunangannya di sana. Jadi aku tidak perlu melakukan itu,” jawab Lisa.
“Oh, gadis itu tunangannya CEO itu? Kamu begitu update informasi tentang orang-orang perusahaan ini ya?” tanya Hani sambil tersenyum.
“Begitulah,” jawab Lisa malas. Lalu mereka berdua merapikan meja buffet. Banyak mangkuk dan piring kosong yang sembarangan di letakkan. Padahal ada tempat sendiri untuk tempat makanan yang kotor.
Saat itu Tiara yang selesai berdebat dengan Aksa berjalan melewati mereka.
Duk!
Tidak sengaja saat Hani membalikkan badan, Tiara lewat dan tabrakan. Tangan Hani yang masih membawa mangkuk bekas orang lain yang ada di meja, tergelincir dan membuat kuah bakso yang ada di mangkuk tumpah. Dan itu tepat di gaun Tiara.
“Oh, maaf,” kata Hani terkejut. Lisa menoleh.
“Hhh ...” Tiara menghela napas kesal.
“Maaf, saya tidak sengaja.” Hani membungkukkan badan.
“Tidak sengaja? Kamu pikir dengan berkata tidak sengaja, gaunku akan kering?!” semprot Tiara. Hani meringis takut. Air muka Tiara sudah meradang.
“Bukankah teman saya sudah meminta maaf,” celetuk Lisa yang langsung mendekat pada Hani yang masih berusaha meminta maaf.
Tiara terkejut mendengar kalimat itu. Dia menoleh ke asal suara untuk dia semprot juga. Namun mendadak Tiara tertegun. Dia melihat wajah Lisa tidak asing. Mungkin ia melihat cerminan Lisa yang waktu menyamar menjadi Yora saat itu.
“Melihat mu mirip dengan gadis itu makin membuatku kesal,” sengit Tiara. Ia kesal mengingat debat dengan Aksa tadi. Lisa terkejut. Dia tidak menduga Tiara akan menemukan dirinya yang pernah menjadi Yora.
...______ ...
__ADS_1