Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 140 Penjelasan yang panjang


__ADS_3

Ketenangan kakek ini membuat Aksa tidak tenang.


"Jadi kakek tetap akan menikahkan aku dan Yora meski aku menolak?" tanya Aksa tanpa basa basi. Dia harus menegaskan kalau tidak ingin menikah dengan Yora. Itu semua tidak perlu bertele-tele.


"Seperti yang kakek bilang padamu waktu itu. Kakek memang berniat menikahkan mu dengan putri keluarga Wijaya."


"Kabar berita itu benar ternyata," kata Aksa lagi karena sudah mendengar kabar itu dari sumbernya. Dia berdecih pelan.


"Kenapa kamu berpikir kabar itu tidak benar? Kakek akan segera menikahkan kamu dengan Yora."


Aksa diam. Seperti mengumpulkan tenaga dulu untuk bertempur melawan musuh.


"Kenapa harus memaksakan hal seperti ini, Kek? Bukankah menikah itu keputusan ku?" Nada bicara Aksa tidak meninggi, tapi penuh dengan aura gelap. Dia kesal. Dia gusar. "Aku akan menikah jika waktunya nanti datang."


"Sampai kapan? Kamu akan terus menerus berkelana menjadi seperti papamu kalau kakek membiarkan," tunjuk kakek marah. "Kamu akan jadi pria dengan sikap yang buruk! Kakek sangat benci itu!"


"Aku memang salah. Namun sekarang aku ingin memperbaiki diri. Karena aku tidak pernah ingin menjadi seperti papa!"


Bola mata kakek melihat cucunya sedikit lebih lama.


"Sudah aku katakan, kalau aku sudah punya pilihan sendiri, Kek. Itu bukan Tiara. Namun aku punya kekasih. Dia gadis lain." Aksa mengungkap soal Lisa. Namun tidak dengan namanya.


Kakek diam.

__ADS_1


"Jadi selama ini kamu menyembunyikan kekasihmu itu dan tetap menjadi tunangan Yora?" tanya Kakek mengambil kesimpulan.


"Aku tidak bisa bertindak apa-apa karena kakek memaksa. Bukankah tahta tertinggi di keluarga Candika adalah kakek?" Aksa tahu posisinya sebagai orang yang berada di bawah tekanan kakeknya. Seperti yang pernah ia katakan pada Lisa, bahwa dia atau Arka tidak akan luput dari perjodohan yang di rencanakan kakeknya.


"Tahta tertinggi? Sarkasme yang bagus, Aksa." Dalam suasana tegang ini, kakek tenang yang membuat Aksa makin tertekan. "Bukankah itu sifat pengecut? Kakek tidak pernah mengajari kamu untuk jadi pengecut."


"Aku bukan pengecut, Kakek. Keadaan yang memaksaku menjadi seperti itu," desis Aksa menahan emosi yang meluap. "Sudah aku katakan, aku akan membawa gadis itu di depan kakek. Aku hanya menunggu dia siap. Karena aku tidak bisa memaksakan kehendak ku. Ini tentang kita berdua. Bukan tentang aku saja," jelas Aksa dengan raut wajah frustasi.


Sejak tadi kakek selalu memberi jeda saat Aksa menjelaskan sesuatu. Kakek tidak hanya berfokus pada perintah, bahwa Aksa harus menikah. Beliau juga perlu mendengarkan kata perkata yang cucunya katakan.


"Kalau begitu kamu begitu egois, Aksa. Kamu mementingkan kalian berdua." Kakek mengatakannya dengan wajah tenang. Itu makin mengusik Aksa.


"Apa yang Kakek katakan? Egois?" tanya Aksa tidak terima. Keningnya mengernyit. "Bukannya aku harus egois kalau ingin memang dari Kakek?"


"Benar. Kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan gadis bernama Yora ini. Kamu tidak peduli apa yang akan terjadi pada Yora jika kamu memaksa kehendak mu untuk memutus ikatan pertunangan kalian. Dia juga gadis yang punya hati, sama seperti gadis yang kamu pertahankan sekarang."


"Apa Kakek pikir aku tidak memikirkannya?" tanya Aksa dengan suara menurun.


"Kakek hapal betul siapa kamu jika itu berurusan dengan perempuan." Tuan Candika yang sudah hidup lama, seperti sudah mengenal cucunya daripada dirinya sendiri. Jadi dia tahu Aksa pasti tidak peduli pada hal yang merepotkan dirinya.


"Aku tidak seperti itu, Kek. Aku sudah tidak seperti itu," tekan Aksa yang seperti sudah kehilangan cara untuk meyakinkan kakeknya.


"Sifat tidak mudah berubah secepat itu, Aksa. Kakek paham itu."

__ADS_1


"Namun kakek tidak tahu proses aku sudah berubah. Kakek hanya melihat masa lalu ku saja. Kakek tidak melihat dengan kepala sendiri bagaimana aku berubah!" teriak Aksa kesal dan frustasi. Soal Lisa ini merembet kemana-mana. Banyak hal yang ternyata di bahas kakeknya.


Aksa menghela napas lelah. Bola mata tuan Candika melihat cucunya berjuang keras untuk menjelaskan. Itu hal baru jika itu menyangkut perempuan.


Tok! Tok!


Suara pintu ruang baca di ketuk membuat kakek menoleh. Aksa sudah tidak peduli untuk tahu siapa yang muncul di sana.


Dari balik pintu muncul Pak Aknam. Dagu kakek terangkat bertanya ada apa? Pak Aknam tidak langsung bicara. Beliau berjalan menghampiri. Aksa menundukkan pandangan. Dia masih memikirkan banyak cara untuk meyakinkan Kakek bahwa dia tidak ingin menikah.


Tubuh Pak Aknam merunduk hendak berbisik pada Tuan Candika. Raut wajah Kakek terkejut saat mendengar apa yang di sampaikan Pak Aknam.


"Benarkah?" tanya Kakek.


"Benar Pak." Pak Aknam mengangguk. Kakek mengernyitkan dahinya.


"Baiklah. Suruh mereka masuk," perintah Tuan Candika. Pak Aknam menjauh dari kakek menuju pintu. Di sini pandangan Aksa mendongak. Dia melihat sisa dari interaksi kakek dan Pak Aknam tadi.


"Sepertinya ada tamu untuk kakek," kata Aksa.


"Tidak. Tamu ini bukan hanya untuk kakek, tapi juga untukmu," ujar Kakek menunjuk cucunya dengan bola matanya.


"Aku? Siapa mereka?" tanya Aksa. Selepas Pak Aknam keluar, pintu kembali terbuka. Kini bukan lagi orang kepercayaan kakek. "Kalian?" tanya Aksa terkejut dengan kemunculan orang-orang ini.

__ADS_1


..._________...



__ADS_2