Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 143 Aku sudah berjuang


__ADS_3

Meskipun sudah menyaksikan dua orang ini bertengkar, bibi tidak bisa melakukan apa-apa. Dia masih perlu mengamati. Giri juga diam menyaksikan. Penjelasan Aksa membuatnya mengerjapkan mata.


"Pergilah Aksa. Ini seperti aku dan Arka. Kita itu bagai bumi dan langit. Enggak mungkin bisa jadi satu. Kita punya dunia yang sangat berbeda. Pulanglah. Aku tidak apa-apa," tolak Lisa. Hatinya sakit. Tubuhnya berdiri dengan bersandar pada pintu yang sudah tertutup sempurna. Tidak terasa air matanya berderai.


Penjelasan ini membuat Giri sadar apa yang sedang terjadi di antara mereka.


Hhh ... itu lagi. Jika lawannya orang kaya, apalagi permasalahan yang di hadapi kalau bukan soal kasta. Sudah tahu begitu, masih saja di lakukan. Lisa, Lisa. Apa yang akan di lakukan pria yang satu ini?


Giri kali ini mengamati dengan seksama.


"Aku bukan Arka, Lisa. Aku Aksa. Terserah bagaimana kisah kalian, tapi denganku, kisah kita tidak akan sama. Karena aku punya kekuatan untuk membuat kita bisa selalu bersama. Aku akan berjuang untuk itu," tegas Aksa.


Giri mendengarkan dengan baik setiap kata yang di utarakan pria ini. Dia mengangguk. Sangat setuju dengan apa yang dikatakan Aksa. Bibi memang kurang tahu dengan pasti kisah keponakannya dengan pacarnya yang dulu. Namun beliau mengerti dan paham keseriusan saat pria ini bicara.


"Dan aku sudah perjuangkan itu. Kamu bisa melihat apa yang aku perjuangkan kalau keluar," pinta Aksa.


"Sudah aku bilang apa ... Pria dewasa itu lebih hot," lirih Bibi sambil tersenyum.


Lisa menyeka air matanya. "Kamu enggak tahu apa yang kakek katakan waktu itu." Lisa menahan agar suaranya terdengar stabil.


"Apapun itu, sekarang kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah bisa mengatasinya," jelas Aksa.


"Aku tahu kamu pasti kalah melawan kakek, Aksa. Masih aku ingat saat kamu bilang bahwa semua keluarga Candika pasti akan di jodohkan. Baik kamu atau Arka. Jadi tidak ada tempat untukku di sana." Karena bicara sambil menangis, suara Lisa terdengar aneh. Aksa tahu mengapa seperti itu.


"Lis, kamu menangis?" tanya Aksa cemas. "Buka pintu, Lisa. Jangan membuat aku harus mendobrak pintu kamar dan membuat semua orang berdatangan ke rumah ini," desis Aksa mengancam.


"Oh, pria ini seksi ..." Bibi bergumam lirih sambil senyum-senyum. Giri menipiskan bibir melihat tingkah bibinya. Bi Sarah mirip lagi nonton drama romantis.

__ADS_1


"Dasar ..." lirih Giri dan memilih kembali duduk di tempat tadi. Ia tidak peduli. Karena tahu Aksa pasti bisa mengatasinya. Dia bisa di andalkan. Mungkin jika posisi Arka kuat, dia pasti akan melakukan hal yang sama. Cowok itu juga hebat. Sama seperti Aksa. Hanya saja sang pencipta sudah mengatakan bahwa takdir mereka berbeda.


Tidak lama pintu pun terbuka. Rupanya Lisa lebih percaya pada ancaman Aksa soal mendobrak pintu. Ia yakin pria itu akan melakukannya jika tidak bisa membuat Lisa menyerah untuk membuka pintu.


Dari balik pintu muncul wajah sembab Lisa. Ingin Aksa segera menarik tubuh itu untuk memeluknya. Namun ia harus tenang.


"Memang. Aku akui aku akan kalah jika melawan kakek, tapi ini memang keputusan kakek sendiri, Lisa. Beliau sendiri yang membuka tangannya lebar untuk menerima kamu. Bahkan Yora sengaja datang untuk memberi tahu hubungan kita."


"Yora?" tanya Lisa terkejut.


"Benar. Jangan remehkan dia. Sekarang bukan hanya aku yang berjuang. Dia juga ikut berjuang karena ingin kita bersama. Jadi hargai usahanya."


"B-bagaimana bisa?" tanya Lisa tidak percaya. Aksa sudah tidak tahan lagi. Dia menarik tubuh Lisa. Memeluknya erat. "Aksa."


"Diamlah. Diam. Jangan menyulut aku untuk melakukan hal yang lebih gila daripada ini," ujar Aksa menahan diri. Lisa diam.."


 


 


Aksa minta ijin mengajak Lisa keluar. Kali ini tentu saja untuk mencari makan. Setelah menangis tadi, Lisa merasa lapar. Ia harus mengisi energi banyak-banyak.


"Makan kamu banyak sekali?" tanya Aksa heran.


"Kamu sudah membuat aku menangis. Jadi aku harus kehilangan energi banyak. Padahal tadi ibu sudah masak enak," sembur Lisa.


"Iya, iya. Aku yang salah. Makanlah." Aksa mengelus rambut Lisa.

__ADS_1


"Masa iya kakek setuju?"


"Mungkin kalau aku saja yang menghadap ke kakek, ini tidak akan berhasil. Karena kakek tidak percaya aku setia pada satu gadis."


Lisa langsung menyipitkan mata curiga.


"Kalau keluargamu sendiri saja tidak percaya, aku yang orang luar harus lebih tidak percaya dong."


"Hentikan. Jangan ikut-ikutan seperti kakek. Karena hanya tahu aku mulai dari bayi sampai sekarang, bukan berarti tahu diriku sepenuhnya," ujar Aksa.


"Oh, ya?" tanya Lisa dengan sorot mata tidak percaya. Aksa mendekat dan melahap potongan besar di garpu yang di pegang Lisa.


"Itu potongan daging besar, Aksa," ujar Lisa menggeram.


"Aku belikan kamu sebanyak kamu mau."


"Huh, aku enggak butuh. Karena kekenyangan itu jatuhnya enggak enak," kata Lisa benar. "Lalu gimana Yora?"


"Itu memang belum kita pikirkan."


"Belum di pikirkan?!" sontak Lisa terkejut. "Apa yang aku lakukan sekarang kalau ternyata semuanya belum beres?"


"Tenanglah Lis. Kita selesaikan satu persatu. Aku janji akan menyelesaikannya dengan segera."


"Tapi Aksa. Kamu tahu soal perjanjian ku dengan nyonya Anne kan? Menurutku itu lebih gawat dari semuanya. Kalau kakek tahu aku menyamar jadi Yora, kakek pasti tidak akan mau menerima aku. Bahkan membenciku. Semua ini akan sia-sia."


"Tidak, tidak. Aku pastikan ini semua berjalan dengan semestinya."

__ADS_1


..._____...



__ADS_2