Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 58 Ikut denganku


__ADS_3


Setelah memberi sebuah peringatan untuk Aksa, cowok ini berjalan menjauh dari sana. Meninggalkan Aksa yang menipiskan bibir geram. Ini pertama kalinya Arka menunjukkan taring. Jika biasanya mulut cowok itu diam saat segala sesuatunya tidak adil baginya.


 


"Sialan," umpat Aksa. Dia melangkah mendekat ke meja dapur. Mengambil gelas dan minum. Rasa lapar yang menyerangnya seketika lenyap. Dia hanya ingin minum dan kembali ke kamar.


 


Bola matanya melirik ke samping. Ke arah meja dapur tempat gadis itu bersandar di sana.


 


"Mencium pipi? Huh. Bocah. Kalau berani, seharusnya dia mencium bibir." Aksa mengomel sendiri. Ia meminum air sambil menatap rak di dapur. Kemudian berbalik dan kini bersandar pada meja dapur. "Gadis itu berani juga. Di tempat ini, dimana dia adalah tunanganku, berani-beraninya berduaan dengan Arka. Bahkan mencium pipinya. Seharusnya aku menekannya hingga tidak bisa berkutik."


 


Aksa meneguk air dingin di tangannya.


 


Mungkin Arka benar. Aku tidak bisa langsung menuntut Lisa sebagai seorang penipu. Karena aku masih ingin tahu, kenapa keluarga Wijaya tetap memaksakan diri membuat seolah Yora sudah sehat, saat gadis itu ternyata masih koma. Apa tujuannya?


 


Ini tegukan yang terakhir. Aksa meletakkan gelas kotor di bak cuci piring begitu saja. Lalu berjalan pergi. Saat dapat beberapa langkah, dia berhenti. Kemudian balik badan dan kembali ke meja dapur. Mengambil gelas dan membasuhnya.


 


***


 


Ciap-ciap suara burung di taman membangunkan Aksa. Ia gerakkan kepala ke kanan dan ke kiri. Meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Lalu bergegas ke kamar mandi. Setelahnya Aksa keluar kamar hanya dengan memakai celana pendek kolor.


 


Saat pintu di buka, Aksa terkejut dengan munculnya gadis itu. Lisa. Di depan pintu ada Lisa.


 


"P-pagi," sapa Lisa terbata. Ini pertama kalinya melihat pria ini memakai celana kolor. Aksa menunduk. Hhh ... Menghela napas kemudian karena tahu Lisa terbata karena ia memakai celana kolor.


 


"Kenapa gugup hanya karena ada yang memakai celana seperti ini?" tanya Aksa merasa Lisa tidak pantas gugup soal itu. Lisa menipiskan bibir. Dia hanya terkejut. Ini pertama kalinya pria ini memakai pakaian santai seperti ini.


 


"Kenapa di depan kamarku? Kamu berniat mengintip  ya?" tuduh Aksa lagi.


 


"Tentu tidak." Lisa mendelik tanpa sadar. Ia tidak setuju di tuduh begitu. Sialan, umpat Lisa di dalam hati. "Aku hanya di suruh membangunkanmu oleh mamamu." Lisa mengatakannya dengan pelan.


 


Di mata orang rumah, Lisa tetap tunangannya.

__ADS_1


 


"Aku sudah bangun. Sampaikan pada mama," kata Aksa.


 


"Kamu harus turun. Kalau tidak, orang di bawah akan sibuk menyuruhku membangunkanmu." Lisa benar. Perempuan itu sibuk mendapatkan hatinya sebagai seorang ibu. Jadi dia selalu saja mencoba berperan baik jika menyangkut dirinya.


 


"Bilang saja aku sedang mandi. Aku masih ingin di atas," kata Aksa bergerak menjauh dari Lisa. Dia tidak peduli.


 


Sialan ini orang. Kenapa enggak ikut turun saja sih?


 


Lisa segera mengejar. Mendadak pria ini berhenti. Ini membuat Lisa tidak sempat mengerem kakinya.


 


Duk! Kepalanya terantuk punggung pria ini.


 


"Aw ...," rintih Lisa. Dasar orang menyebalkan. Kemudian pria berbalik dan melihat ke Lisa. Bola mata gadis ini berkedip.


"Aku tidak mengatakan apa-apa," kata Lisa yang takut Aksa mendengar umpatan dari dalam hatinya.


 


 


"Aku ingin bicara denganmu. Ikut aku," kata Aksa meminta Lisa mengikutinya. Namun ternyata yang di maksud ikut dengannya adalah masuk ke kamar tidur pria ini.


 


"Tidak," tolak Lisa terang-terangan. Tangannya maju ke depan.


 


Aksa yang sudah membuka pintu kamarnya, berhenti. Menoleh ke belakang.


 


"Apa maksudmu tidak?" tegur Aksa tidak senang.


 


"Bicara di sini saja," kata Lisa membuat keputusan sendiri.


 


"Apa sekarang kamu membangkang?" tanya Aksa.


 


"Aku tidak mungkin masuk ke sana Aksa," kata Lisa dengan sedikit menekan kalimatnya. Kepala Aksa menoleh pada kamarnya yang terbuka. "Itu kamar pria. Aku tidak boleh masuk ke sana."

__ADS_1


 


"Apa yang kamu pikirkan, hah? Aku hanya mengajakmu bicara di kamar karena itu aman dari telinga orang lain," kata Aksa menjelaskan dengan tepat apa tujuannya sebenarnya. "Aku tidak mungkin mau menyentuhmu yang masih bocah."


 


"Aku tahu, tapi aku tidak mau."


 


"Aku tidak peduli. Masuk." Aksa menarik tangan gadis ini. Lisa langsung terpelanting ikut masuk ke dalam kamar. "Duduk," perintah Aksa pada Lisa yang sudah masuk ke dalam kamarnya.


 


Dengan menggeram, Lisa patuh.


 


"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Lisa duduk dengan tidak nyaman. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar seorang pria. Bahkan ini pria dewasa.


 


"Aku mungkin tidak akan menuntutmu, tapi bantu aku mencari tahu, rencana apa yang ada di balik tugasmu menggantikan Yora menjadi tunanganku," pinta Aksa.


 


"Aku menjadi mata-mata mu?"


 


"Anggap saja itu sebagai ganti aku tidak menggugatmu karena menipu."


 


Lisa menghela napas seraya melebarkan mata.


 


"Rasanya tugasku bertambah dan makin berat," gumam Lisa lirih. "Nyonya Anne tidak akan membongkar alasan di balik semua ini, Aksa," kata Lisa seraya mendongak.


 


"Mungkin tidak sekarang, tapi aku yakin nanti akan tahu semuanya jika kamu tetap berperan dengan baik."


 


"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah tahu apa rencana nyonya Anne? Apa kamu akan menggagalkan rencana perjodohan ini?Bukankah kamu tetap tidak mencintai Yora?"


 


Aksa terdiam. Dia menatap gadis ini sejenak. "Itu urusanku."


 


Kepala Lisa mengangguk.


 


"Ternyata kamu adalah kekasih Arka ya?" tanya Aksa mengejutkan. Lisa sampai berjingkat dan bola matanya melebar.

__ADS_1


____


__ADS_2