
Tidak mungkin. Tidak mungkin Arka ada rasa ke Yora. Bukankah mereka tidak saling mengenal sebelum ini?
Secuil kejadian di GOR masih menetap di ingatan Aksa. Dan itu mengganggunya. Hingga ia tidak tidur nyenyak malam ini. Berbagai dugaan muncul dari dalam otaknya.
***
Saat ini Aksa sedang melihat lahan yang awalnya adalah persawahan. Kakek menugaskan Aksa untuk meninjau lahan baru milik perusahaan mereka. Meski berada di rumah sakit, beliau masih saja bekerja.
Lahan ini memang agak menjorok masuk ke dalam gang, tapi beliau yakin lahan itu bagus jika di gunakan sebagai lahan perumahan yang baru.
Lahan ini juga masih dekat dengan mall milik keluarga Candika. Mall tempat ia bertemu dengan wanita-wanita cantik yang ingin dimanja dengan shopping.
Sebenarnya sudah sejak tadi ponselnya berdering. Namun ia mengabaikan karena masih mendengarkan orang-orang yang terkait dengan rencana pembangunan area perumahan, bicara. Setelah hampir 20 menit, pembicaraan itu usai. Aksa mundur untuk menerima telepon itu.
"Halo."
"Aksa. Kenapa sejak kemarin kamu tidak menerima telepon dariku?" sembur Tiara. Aksa memejamkan mata sebentar. Tangannya memegang tengah dahinya. Ia lupa. Bahkan sampai detik ini pun dia baru sadar kalau dia keluar dari acara Tiara tanpa berpamitan.
"Maafkan aku soal itu."
"Kenapa tiba-tiba menghilang saat pagelaran belum usai? Kamu juga tidak mengabari ku apa-apa, Aksa." Tiara marah.
"Aku lupa."
"Lupa? Kamu lupa? Kenapa hal penting itu bisa lupa, Aksa?!”
Aksa menghela napas sejenak.
“Aku juga punya banyak pekerjaan yang membuatku mendadak pergi dari sebuah acara, Tiara. Bahkan aku juga bisa lupa mengabarimu saat aku memikirkan perusahaan. Aku juga punya pekerjaan. Apalagi ada tugas dari kakek." Aksa membuat alasan yang panjang.
"Kakek yang memintamu pulang?" tanya Tiara mulai menurunkan intonasi bicaranya.
"Ya."
"Oh maafkan aku, Aksa." Tiara sadar tidak bisa menggugat soal itu. Kakek pemegang kekuatan tertinggi di keluarga Candika. Ia bisa celaka jika kakek itu marah.
"Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf, Tia," sahut Aksa juga lega. Ia tahu Tiara paling tidak bisa memprotes jika itu berhubungan dengan perintah kakek. Makanya dia beralasan dengan menggunakan nama kakek sekarang.
__ADS_1
Aksa tidak ingin Tiara tahu soal dirinya yang memilih secepatnya mendatangi GOR, daripada menyelesaikan dulu menonton pameran busana milik Tiara. Meskipun itu perintah papa, ia bisa datang nanti. Aksa bisa menyelesaikan dulu acara pagelaran, kemudian menjemput adiknya. Karena sebenarnya Tiaralah yang penting baginya.
Namun keadaan terbalik. Dengan sangat patuh, Aksa memilih menyelesaikan tugas dari papa, sebelum waktunya. Aksa berangkat ke GOR.
***
"Bapak bisa makan siang dulu, nanti kita bicara lagi." Pak Namo selaku orang yang bertanggung jawab atas proyek ini memberi waktu untuk atasannya. Karena yang lain juga ingin makan. "Anda juga bisa beristirahat sejenak."
"Lalu orang-orang ini?" tanya Aksa.
"Mereka akan makan siang di tempat yang sudah saya booking untuk makan mereka."
"Dimana?"
"Warung di utara. Masih di dalam gang ini. Bukan warung yang besar, tapi makanannya enak, Pak. Banyak pegawai instansi pemerintahan yang makan di sana. Murah dan enak. Tempatnya juga bersih dan rapi. Pokonya menurut saya, itu sangat cocok buat kita." Pak Namo berpromosi.
"Mendengarmu bicara seperti itu, aku ingin mencoba makan di sana," ujar Aksa tertarik.
"Oh, itu ... mungkin kalau untuk Pak Aksa tidak akan cocok." Pak Namo ragu untuk mengajak pria muda ini ke warung sederhana itu. Karena meski muda, Aksa bukan orang biasa. Dia konglomerat.
"Baiklah kalau begitu. Kita berangkat bersama-sama.”
Pak Namo memberi komando pada semuanya untuk berangkat makan siang.
****
Warung yang di maksud pak Namo memang sesuai dengan apa yang di jabarkan beliau tadi. Bersih dan rapi. Sekarang pun lumayan banyak yang makan di sana.
"Oh, Pak Namo. Masuk ke dalam saja, Pak. Di luar ramai." Seorang perempuan yang memakai celemek muncul menyambut pak Namo. Meski tidak muda, perempuan itu tampak cantik. Rupanya pak Namo pelanggan di sini. Sampai-sampai perempuan tadi hapal namanya.
"Kita masuk ke dalam saja, Pak," ajak Pak Namo pada Aksa. Sepertinya, selain di warung itu sendiri, mereka menjadikan ruang tamu yang tidak begitu lebar di jadikan tempat makan juga. Namun bukan memakai kursi, melainkan karpet. "Makan di bawah tidak apa-apa, Pak?" tanya pak Namo ragu.
"Ya. Aku tidak apa-apa."
"Mau minum apa?" tawar wanit itu sambil membersihkan tangannya ke celemek yang di pakainya. Mereka menyebutkan minuman satu persatu. Aksa memilih minuman yang sama. Hanya saja minuman milik Aksa, hangat.
"Buatkan es teh 6, es jeruk 1, jeruk anget 1!" teriak perempuan ini setelah menjauh dari Aksa dan pak Namo.
__ADS_1
"Ya!" suara seorang perempuan menyahut dari belakang.
Tidak lama kemudian, seorang gadis datang dengan membawa nampan berisi minuman yang di pesan tadi. Sebelum masuk ke dalam rumah, gadis itu memberikan minuman pada orang-orang di teras luar lebih dulu. Setelah lengkap, dia masuk ke dalam rumah.
"Es jeruk dan jeruk hangat?" Gadis itu memastikan minuman yang di bawanya benar dan sesuai pesanan. Saat mendongak inilah mata Aksa tertambat pada seraut wajah tidak asing di depannya.
Deg, deg, deg.
Gadis ini menelan ludah. Bola matanya melebar.
Aksa!
Ternyata ini warung milik keluarga Lisa. Dan sekarang, setelah pulang dari sekolah, Lisa sedang membantu Bi Sarah di warung.
"Lisa! Sudah selesai? Tolong buatkan kopi hitam, tiga!" perintah Bi Sarah. Lisa mengerjapkan mata dan menoleh lambat pada bibinya.
"Y-ya!" sahut Lisa dan secepatnya pergi dari hadapan pria itu. Kepala Aksa menoleh, mengikuti gadis ini menghilang ke dapur belakang.
Karena atasannya tampak kebingungan, pak Namo bertanya,
"Ada apa, Pak?"
Aksa hanya mengerjapkan mata. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Sepertinya pria ini sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.
Lisa melintas dengan nampan dan minuman baru di tangannya. Aksa kembali tertarik untuk memandangi. Karena atasannya mengikuti semua gerak-gerik gadis itu, pak Namo ikut melihat ke arah Lisa.
"Dia anak pemilik warung ini, Pak." Merasa Aksa ingin tahu, pak Namo yang sudah sering makan di sini memberi informasi. Informasi kali ini membuahkan hasil. Kali ini Aksa menoleh pada pak Namo.
"Jadi dia memang tinggal di sini?" tanya Aksa masih bingung.
"Iya. Perempuan itu bibinya. Biasanya sih, ibunya gadis tadi yang melayani, tapi sekarang ibunya sibuk menemani suaminya yang sekarang ada di rumah sakit." Pak Namo sangat mengenal keluarga warung ini.
"Rumah sakit?" tanya Aksa.
"Ya. Suaminya ibu yang punya warung kecelakaan. Gegar otak berat sepertinya, Pak. Sebentar lagi pesanan kita akan datang."
Aksa mendekatkan gelas jeruk hangat pesanannya ke bibirnya. Ia meneguknya perlahan sambil terus mengawasi gadis itu. Bola mata Aksa seakan tidak ingin lepas dan terus memperhatikannya.
__ADS_1
__________