Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 123 Urutan-urutan


__ADS_3

"H-halo," sapa Lisa gugup.


 


"Halo Lisa. Ada apa dengan kamu barusan?" tanya Aksa heran.


 


"Enggak. Enggak ada apa-apa."


 


"Lalu ... kenapa kamu tadi tidak mau menerima telepon dari ku?" tegur Aksa. Benar kata Sera. Telepon tadi sudah tersambung. Aksa pasti mendengar penolakannya menerima telepon dari pria itu.


 


"Kamu salah dengar," jawab Lisa.


 


"Aku dengar dengan jelas kamu ..." desis Aksa


 


 "Ih, iya," potong Lisa. "Aku memang enggak mau terima telepon kamu," ujar Lisa mengaku.


 


"Kenapa?" tanya Aksa dengan tekanan.


 


 “Itu ...” Lisa jadi gagu. Dia tidak bisa bicara lancar karena sekarang hatinya mengakui adanya benih-benih cinta untuk pria dewasa ini. “Aku gugup," ungkap Lisa singkat.


 


Meskipun jawaban Lisa singkat, ternyata dampaknya hebat ke Aska.


 


 "Gugup? Kamu sedang gugup?" tanya Aksa dengan senyum tertahan. Ini pertama kalinya dia mendengar gadis ini mengaku gugup saat bicara dengannya.


 


Teettt!


 


Bel masuk sekolah berbunyi. Itu artinya jam istirahat sudah usai.


 


"Jam istirahat habis. Sudah ya." Klik! Lisa langsung mematikan ponselnya. Dia bersyukur karena bel masuk berbunyi. Karena ia selamat dari pertanyaan Aksa.


 


"Kabur nih?" Sera tersenyum. Lisa meringis saja.


 


...***...


 


Pulang sekolah.


 


"Aksa ...," desis Lisa terkejut melihat pria itu di sana. Sera melongok.


 


"Ternyata dia pria yang enggak sabaran soal beginian. Enggak puas ngobrol bentar, langsung saja di samperin di sekolah. Hebat juga sih. Tipe pria yang sat set. Calonnya siapa nih ..." Sera menggerakkan alisnya menggoda. Lisa menipiskan bibir.


 


Para siswi-siswi yang memang suka melihat om tampan, melirik dan berbisik-bisik.


 


"Eh, Aksa kesini," kata Sera.


 


Pria itu keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya. Deg, deg, deg. Detak jantungnya bersuara keras. Mungkin ini pertama kalinya dia berdebar-debar karena pria ini.

__ADS_1


 


Sialan, umpat Lisa di dalam hati. Dia yakin bahwa dia sedang jatuh cinta pada pria dewasa itu.


 


"Kita pulang sekarang?" tawar Aksa sambil tersenyum. Lisa diam sambil tetap menatap pria itu. Sera melirik. Lalu menyenggol pelan lengan gadis ini sambil tersenyum. Lisa menoleh. Rupanya Lisa terpana. Sera menggerakkan dagu menunjuk Aksa.


 


Lisa menoleh ke Aksa. "Ya?"


 


"Ayo pulang," ajak Aksa. Lisa mengangguk. Lalu kasih kode ke Sera untuk pamit.


 


 


...***...


 


Di dalam mobil, Lisa lebih banyak diam.


 


"Gimana keadaan bapak dan ibu?" tanya Aksa sambil tetap melihat ke depan.


 


"Heboh."


 


"Apa?" Aksa menoleh karena Lisa menjawab dengan jawaban yang aneh.


 


"Seluruh keluarga ku heboh. Terutama bapak dan ibu. Mereka sedang berpikir keras, apa benar putrinya sedang di lamar seorang pria? Sekarang keadaan mereka seperti itu," tutur Lisa sambil menoleh Aksa. Pria ini menatap sekilas lalu kembali mengemudi. Hingga akhirnya mobil itu berhenti di resto yang sudah di pesan oleh Aksa.


 


Sebuah resto dengan privasi tingkat tinggi. Karena punya tempat per-ruangan untuk setiap pengunjung VIP-nya. Mungkin mirip resto Jepang.


 


 


 "Iya. Soal melamar itu," jawab Lisa. Matanya agak tajam saat menatapnya.


 


"Tentang melamar itu aku serius," kata Aksa tegas.


 


"Kenapa langsung melamar? Bukannya ada urut-urutannya?"


 


"Urut-urutan? Apa maksud kamu?" tanya Aksa tidak mengerti.


 


"Pertama itu pendekatan. Kedua pernyataan cinta. Ketiga kencan. Setelah itu mengenalkan pada keluarga dan akhirnya melamar. Dari urutan itu kenapa kamu langsung melamar? Bukankah itu terlalu cepat dan gegabah?" tegur Lisa


 


Aksa yang tadinya mengerutkan kening kini tersenyum hangat saat mendapat teguran dari gadis ini.


..._______...



 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2