Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 68 Soal menikah


__ADS_3


Di toilet, Lisa bersama istri tamu Aksa.


 


“Jadi kakak masih sekolah, saat menikah dengan Pak Biema?” tanya Lisa terkejut.


 


“Ya. Om-om,” kata perempuan ini pamer, membuat Lisa tergelak. Dia paham apa yang di maksud itu. Karena ia juga seringkali menyebut Aksa, dengan sebutan 'om' saat iseng. “Seru juga lho menikah dengan pria yang lebih tua,” lanjut perempuan muda itu bersemangat.


 


Menikah?


 


Pandangan itu tidak ada sama sekali karena dia hanya pasangan bohongan. Namun demi kesopanan terhadap tamu Aksa, Lisa berusaha mendengarkan. Lagipula istri tamu Aksa ini sungguh ramah dan asyik. Mengobrolnya juga makin nyambung. Lisa merasa nyaman.


 


“Benarkah?” Lisa menunjukkan keantusiassannya. Meskipun itu bukan tentangnya, tidak salah jika ia mencoba mendengarkan. Bisa jadi itu sebuah pelajaran yang akan di pakainya nanti.


 


 


 


**


 


 


 


Di luar, dua pria itu masih membicarakan hal menarik. Karena permintaan Aksa, Biema terus saja bicara soal Paris. Dia seperti melakukan kegiatan favoritnya. Bercerita tentang perempuan yang dicintainya, membuat pria ini sangat bahagia.


 


“Jadi sekarang dia hamil?” tanya Aksa takjub.


 


“Kalian ngomongin aku ya?” tanya Paris saat muncul di belakang mereka. Biema menengok ke belakang dan tersenyum. Lisa berjalan sejajar dengannya.


 


“Ya. Biema sangat antusias bercerita soal istrinya,” kata Aksa.


 

__ADS_1


“Benarkah sayang?” tanya Paris sambil mengusap lembut garis wajah suaminya seraya tersenyum gemas. Biema membalas itu dengan senyuman hangat.


 


Lisa tersenyum melihat itu. Dia berjalan memutar karena kursinya paling jauh. Lalu duduk.


 


Sementara Aksa memperhatikan interaksi dua pasangan itu dengan seksama. Rona takjub meliputi wajah pria ini. Mungkin di dalam otaknya terbesit pertanyaan, apakah memang semenarik itu, menikah dengan bocah?


 


“Aksa bertanya soal pertemuan kita dulu,” kata Biema pada istrinya. Masih bergelayut di pundak suaminya, perempuan ini duduk seraya tertawa.


 


“Soal kita yang di jodohkan? Hahaha ....” Paris tertawa seraya kembali menyentuh pipi suaminya. Dia juga menoleh sambil memamerkan tawanya pada kedua orang ini. Aksa dan Lisa yang memandangi mereka.


 


Biema ikut tersenyum.


 


“Ya. Dia bertanya kenapa aku menikahi bocah seperti kamu, sayang ...” Biema melihat Aksa. Seperti mengadukan pria ini pada istrinya karena bertanya seperti itu.


 


 


“Soal itu ... Bukannya kamu juga sama dengan suamiku?” tanya Paris. Aksa mengerjap.


 


“Sama?” tanya Aksa tidak merasa. Biema melihat ke arah istrinya untuk bertanya apa maksudnya.


 


“Dia,” ujar Paris ke Lisa yang terkejut karena di tunjuk olehnya. “Bukannya Lisa juga masih sekolah? Jadi dia masuk kategori bocah dong, mirip denganku.” Paris menunjuk ke arah dirinya sendiri.


 


Aksa menengok ke gadis yang duduk di sebelahnya.


 


Gadis ini jadi gugup saat semua mata tertuju padanya. Lisa merasa jadi pusat perhatian sekarang.


 


“Ah, dia ya ...” kata Aksa seperti baru tersadar. Itu benar. Dia memang bocah.


 

__ADS_1


“Hmmm ... Kamu pasti punya selera yang sama dengan suamiku,” ujar Paris.


 


“Sepertinya begitu,” sambung Biema. Aksa hanya mengkerdip-kerdipkan bola matanya menanggapi. “Karena kita sama-sama di jodohkan. Jadi aku doakan kalian berdua seperti aku dan istriku.”


 


Aksa tergelak pelan. Lalu melirik ke Lisa lagi.


 


Tidak mungkin. Kita ini hanya bersandiwara. Lisa melukis senyum di bibirnya.


 


“Oh, ya. Selamat, atas kehamilan Kak Paris,” kata Lisa ikut bicara. Sejak tadi dia diam karena mereka kalah sama pasangan asyik ini.


 


“Ah, terima kasih Lisa ... Jadi berasa tua nih.” Paris terkekeh. “Eh, kalian buruan menikah saja. Terus cepat hamil. Jadi aku bisa punya teman hamil,” ajak Paris membuat Lisa yang tengah membasahi kerongkongannya tersedak.


 


“Uhuk! Uhuk!”


 


“Eh, Lisa!” Paris panik.  Biema yang berniat mau memberi tahu Aksa untuk menenangkannya, urung. Karena dengan sigap, Aksa langsung menepuk-nepuk punggung Lisa pelan.


 


“Kenapa minum enggak hati-hati?” tegur Aksa. Lisa meringis. Wajah gadis ini memerah. Dengan punggung tangannya, Lisa mengusap air yang mengenai wajahnya.


 


“Sudah baikan?” tanya Paris khawatir. Lisa tidak menjawab karena masih sibuk mengusap air di wajahnya.


 


“Sudah baikan?” Aksa mengulang pertanyaan Paris agar Lisa bisa menjawab pertanyaan perempuan itu. Kali ini Lisa mendengar apa yang di tanyakan Aksa. Kepalanya mengangguk. "Istri Biema bertanya?” Tangan Biema sudah berhenti mengelus punggung Lisa.


 


“Ah, iya Kak.” Lisa langsung menyahut.


 


“Syukurlah.”


_____


 

__ADS_1


__ADS_2