
Karena jarak lokasi Aksa yang lebih dekat dengan mall, pria itu sudah menunggunya saat Noah tiba. Dari dinding kaca kafe, Noah bisa melihatnya Aksa duduk santai dengan cangkir di tangannya. Ia memilih minuman dulu dan berjalan menghampiri sepupunya.
"Aku sempat berpikir untuk tidak datang karena ingin pulang," iseng Noah saat kakinya sudah dekat dengan kursi tempat Aksa duduk. Pria itu menoleh.
"Aku yakin kamu tidak akan melakukannya. Kamu pria baik," kata Aksa santai. Noah mendengus.
"Jarang sekali kamu memuji orang. Berarti kamu memang sangat membutuhkanku." Noah tersenyum mengejek. Aksa tidak menanggapi. Jadi Noah tidak melanjutkan ledekannya. "Ada apa? Kamu seperti mau bicara hal yang serius. Jika soal wanita, aku pasti tidak bisa membantumu. Karena aku yakin kamu lebih mengerti dan ahli soal menghadapi wanita. Aku menyerah."
"Bukan soal itu."
"Jadi soal apa? Perusahaan?" tanya Noah. Aksa menggeleng. Ini sangat aneh. Aksa seperti berbelit-belit. Rasanya ia ragu mau bicara atau tidak. Noah akhirnya memilih diam. Membiarkan Aksa menetapkan hatinya terlebih dahulu. Ia memberi waktu.
Pesanannya datang. Ia menyeruput minuman itu dan menatap layar ponselnya. Tidak ada yang menghubunginya sama sekali. Bibirnya tersenyum miris. Apa yang di nantinya sebenarnya sangat mustahil, tapi ia masih ingin sedikit berharap.
"Apa sebenarnya Yora itu kembar?" tanya Aksa membuat Noah tersedak. Tidak sakit, tapi lumayan bikin ribet karena harus mencari tisu untuk mengelap dagunya.
"Apa ini? Kamu memanggilku untuk bertanya soal Yora lagi?" tanya Noah seraya membersihkan dagunya dengan tisu. "Kembar? Kamu mulai mengkhayal dan mengarang?" tanya Noah penuh dengan cercaan.
"Aku bertanya, Noah. Tidak perlu berlebihan seperti itu. Jawab saja kalau kamu tahu dan diam kalau tidak bisa menjawab," desis Aksa karena Noah ingin mencemoohnya.
"Pertanyaan mu, lucu." Noah mencari-cari tempat sampah. Ia menemukan itu di sudut. Ternyata pria ini termasuk yang suka kebersihan. Karena ia rela berjalan ke sudut hanya demi membuang tisu bekas mengelap barusan.
Aksa menghela napas. Dia juga merasa lucu dengan pertanyaan barusan. Meskipun sebenarnya ada juga kemungkinan seperti itu. Karena ia belum tahu betul siap Yora.
Dia tidak mengenal sama sekali soal Nayora. Ia baru tahu Putri dari keluarga Wijaya yang masih duduk di bangku SMA saat di bawa oleh kakeknya.
Saat itulah dia tahu gadis ini punya rasa cinta begitu besar padanya, yang justru membuatnya tidak tenang. Gayung bersambut saat kakek menjodohkannya hanya karena wajah gadis itu mirip dengan neneknya yang meninggal.
Aksa mendengus jika ingat alasan konyol itu. Mendengus sebal.
"Kenapa berpikir kalau Nayora itu kembar?" tanya Noah yang kembali dari misi menyelamatkan bumi dari sampah, dengan membuang sampah pada tempatnya.
"Jadi Nayora itu tidak punya saudara kembar? Kamu belum menjawab pertanyaanku, Noah," tuding Aksa.
__ADS_1
"Tidak. Dia anak tunggal keluarga Wijaya."
"Benarkah?" tanya Aksa ragu.
"Benar. Karena aku sangat mengenal gadis itu daripada kamu, Aksa." Noah meyakinkan itu. Tatapan Noah serius saat mengatakannya. Juga ada hawa lain di balik kalimat sepupunya. Aksa sampai diam sekejap mendengar Noah bicara barusan.
Bola matanya mengerjap seraya menatap Noah yang mengaduk minumannya dengan sendok kecil di tangannya. Memicing sejenak lalu tersenyum.
"Bertanya padamu memang sangatlah tepat." Aksa menepuk bahu sepupunya. Dia puas.
"Lagipula, kenapa tiba-tiba berpikir bahwa Yora punya saudara kembar? Kamu sedang bermimpi?" tanya Noah menoleh ke arahnya.
"Tidak. Aku tidak pernah memimpikan gadis itu. Tidak pernah sama sekali. Bahkan kalau bisa aku tidak bertemu dengannya di dalam mimpi sekalipun. Aku tidak mau." Aksa mengatakannya dengan santai.
Noah menatapnya tajam. Kalimatnya ini seakan mengejeknya. Dia yang sangat mendamba gadis itu saja ingin berada pada posisi Aksa sekarang. Namun pria yang suka gonta-ganti wanita ini, bahkan ada tambahan tidur dengan mereka, sangat tidak bersyukur sudah di jodohkan dengan Nayora. Noah seakan ingin marah dan menghajarnya.
"Kalimatku salah? Kamu sepertinya ingin menghajarku habis-habisan, Noah." Aksa menemukan sorot mata tajam Noah.
"Aku pikir aku salah saat menebak kamu marah karena perkataan ku soal Yora." Aksa memberi jeda pada kalimatnya. Noah mengkedip-kedipkan mata. Seakan ia baru tersadar apa yang ia lakukan. "Tenyata benar. Kamu memang marah saat aku bicara soal Yora,” tebak Aksa.
Noah mulai minum. Pria ini sedang panik sekarang. Aksa tersenyum melihat kegugupan sepupunya.
"Kau menyukai Nayora Wijaya, Noah?" tanya Aksa seraya mencondongkan tubuhnya ke Noah. Sengaja mengintimidasi. Ingin Noah kelabakan dengan pertanyaannya.
Pria ini semakin cepat minumnya. Kalimat dan pertanyaan Aksa begitu sensitif baginya. Aksa tergelak puas. Tidak perlu bertanya lagi. Dia yakin dugaannya benar. Noah cukup polos soal perasaannya.
Aksa kembali duduk sambil bersandar pada badan kursi. Minum sambil tergelak sangat puas. Ia merasa mendapatkan jackpot karena mendapatkan sebuah rahasia.
"Jangan menertawakan ku, Aksa," ujar Noah menunjukkan bahwa itu bukan hal yang patut di tertawakan.
"Kenapa? Kamu malu? Tersudutkan dengan pertanyaanku?" cecar Aksa masih dengan senyuman di bibirnya. Noah mendengus kesal Aksa gencar meledeknya. Aksa menepuk punggung Noah. "Kenapa tidak mengaku dari awal saja, Noah. Aku jadi tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu saat bicara soal gadis itu. Aku tidak akan sembarang bicara." Aksa tertawa lagi.
__ADS_1
"Memangnya pengakuanku mengubah keadaan bahwa yang di jodohkan kakek itu aku?"
"Emm ... soal itu sulit dijawab." Aksa menghapus senyumannya. Jika bicara soal keputusan kakek, ini sangat sulit. "Kamu tahu dinding kakek sulit dirobohkan. Jika sudah memutuskan, kakek akan melakukannya."
"Dan tidak ada yang berani menentang," imbuh Noah.
"Ya. Kamu paham itu." Aksa menjentikkan jarinya.
Mereka berdua minum bersamaan. Merasa kalah jika berurusan dengan pemimpin tertinggi di keluarga Candika.
"Sejak kapan kamu mencintai Yora?" tanya Aksa penasaran.
"Saat aku dan keluarga masih tinggal di dekat rumah keluarga Wijaya," jelas Noah.
"Oh, rumah itu." Aksa manggut-manggut. "Aku tidak menduga kamu menyukai bocah seperti Yora," kata Aksa membuat Noah menggeram.
Bicara Aksa mulai lagi seperti semula. Menganggap Yora sepele hanya karena masih duduk di bangku SMA.
"Nayora bukan bocah, Aksa," desis Noah.
"Oke, oke. Sori." Aksa terus terlupa soal itu. Noah menghela napas. Ternyata Noah mudah terpancing. “Aku makin yakin kamu belum pernah mencium seorang wanita, Noah,” cemooh Aksa. Noah diam yang artinya iya. Aksa tertawa puas.
"Lalu soal pemikiranmu soal Yora adalah gadis kembar bagaimana? Sepertinya itu sangat mengganggumu." Noah tentu masih ingat tujuan awal pria ini ingin bertemu dengannya.
"Aku masih boleh bicara soal Yora?" tanya Aksa yang merasa perlu meminta ijin pada sepupunya ini.
"Tentu. Selama kamu tidak menjelek-jelekkan dia," kata Noah seakan Yora sudah menjadi miliknya. Aksa tersenyum.
"Oke." Aksa menghela napas dulu. Noah siap mendengarkan. "Apa kamu yakin Yora itu adalah Nayora yang kamu kenal?" Mendengar pertanyaan ini kening Noah mengerut.
"Apa yang kamu bicarakan?" Noah tidak paham.
"Aku tahu ini memang sangat aneh untuk di bicarakan, tapi aku ingin tanya. Apa kamu tidak pernah berpikir bahwa Yora yang sekarang sangat berbeda dengan gadis yang kamu kenal dulu?" tanya Aksa berharap Noah punya pendapat yang sama dengannya.
______
__ADS_1