
Lisa tidak menduga akan muncul lagi di perusahaan milik keluarga Candika ini. Soal ini bukan keinginannya. Semuanya hanya sebuah kebetulan. Namun jika dia menganggap hanya sebuah kebetulan, sepertinya sungguh mustahil. Lisa pikir mungkin ada campur tangan Aksa.
Tiba-tiba saja restoran tempat ia bekerja paruh waktu di telepon oleh orang dari perusahaan milik keluarga Candika. Mereka mengatakan, bahwa restoran ini akan menjadi penyedia makanan saat acara pesta ulang tahun perusahaan keluarga Candika. Tentu saja pemilik restoran senang.
IItu sebuah prestasi besar.
Sebagai tambahan, Lisa di masukkan dalam daftar kru yang akan ikut dalam proyek ini restoran. Ingin Lisa menolak, tapi karena nantinya takut di berhentikan dari pekerjaan, gadis ini setuju saja.
“hhh ...” Lisa menghela napas.
Saat itu terdengar suara agak riuh di pintu masuk. Kemudian muncul pria tua dengan duduk di atas kursi roda.
Kakek. Rupanya beliau makin sehat. Syukurlah. Lisa ikut senang melihat kakek Candika terlihat lebih sehat. Karena orang-orang di depan sana mulai bergerak pindah tempat, Lisa akhirnya bisa melihat saat seseorang muncul di samping kakek.
Aksa. Dia muncul dengan Yora di sampingnya. Tanpa disadari, sudut bibir Lisa terangkat. Akhirnya pria itu kembali dengan tunangan aslinya.
“Eh, siapa pria tampan di sana itu?” tanya Hani. Senior Lisa di tempat kerja.
“CEO tempat ini,” sahut Lisa.
“Oh ya? Dia tampan. Dan itu ... Siapa lagi dia? Meski tampak muda, dia juga tampan. Sepertinya dia seumuran denganmu Lisa,” seru Hani yang berumur agak tua dari Lisa girang.
Pemuda yang di tunjuk Hani juga tampan. Dan itu sempat membuat dada Lisa berdesir. Itu Arka.
Halo, Arka. Apa kabarmu?
Meski satu sekolah, sejak mereka putus, mereka jarang bertemu. Karena tidak mendengar suara apapun dari Lisa, Hani menoleh.
__ADS_1
“Kamu enggak tahu ya, dia siapa?” tanya Hani. Lisa hanya tersenyum tipis. Dia tidak menjawab.
Ternyata pesta ini tidak hanya untuk merayakan berdirinya perusahaan, tapi juga sebagai tempat untuk mengumumkan pertunangan Arka dan Liliana.
Tepuk tangan bergemuruh saat MC mengumumkan soal ikatan resmi Arka dan Liliana. Lisa menunduk saat semua tertawa bahagia mendengar kabar baik itu. Ada seonggok hati yang terasa sakit. Itu hati milik Lisa.
“Aku ke toilet dulu,” pamit Lisa.
“Oh, ya.” Hani mengangguk.
... ***...
Sekembalinya Lisa dari toilet dia menyadari bahwa orang-orang mulia mendekati meja buffet yang sudah di sediakan. Sepertinya sudah mencapai acara hiburan. Apa ia selama itu di toilet?
Melihat meja buffet di tempat lain yang menyediakan makanan internasional sangat ramai. Lisa sedikit merasa kecil. Meja buffet tempat dia kerja sepi, karena hanya menyediakan masakan lokal.
Sementara itu, Aksa yang sedang di temani Yora sedikit kesal. Ia tidak bisa bergerak bebas karena ada gadis ini dengannya. Jika dia memaksa untuk pergi sendiri, itu berbahaya karena ada kakek di aula.
Sambil menyesap minumannya, Aksa mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia sedang mencari seseorang yang sudah ia tunggu. Gadis yang ingin di temuinya dengan cara menempatkan restoran tempat gadis itu bekerja sebagai salah satu penyedia makanan dalam pesta ini.
“Bergabunglah dengan yang lain,” pinta Aksa ingin mengajukan gadis ini darinya.
“Aku?”
“Ya. Kamu bebas bergaul dengan siapa saja. Atau mungkin kamu bisa bersama Allen.” Aksa menemukan adiknya yang ternyata bersama Lili. Itu suatu rencana yang bagus.
“Oh, baiklah.” Yora setuju. “Aku akan bergabung dengan mereka.”
__ADS_1
Setelah berhasil ‘mengusir’ Yora, Aksa berjalan menjauh. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Mencari seseorang yang ia tunggu. Sepertinya mencari gadis itu lebih penting dari lainnya.
Bibir Aksa tersenyum penuh kemenangan tatkala ia melihat gadis itu di meja buffet. Dengan seragam tempat ia bekerja, gadis itu tersenyum pada tamu yang mendekati meja buffet yang ia jaga.
“Bisa aku juga dipilihkan menu andalan restoran ini?” tanya Aksa di belakang Lisa. Gadis itu membalikkan badan dan menghela napas setelah tahu bahwa itu Aksa.
“Semua makanan di sini adalah andalan restoran kami, Tuan,” sahut Lisa sopan. Dia harus bersikap baik karena bagaimana pun pria ini yang sudah membuat resto tempat ia bekerja mendapat orderan dan bersanding dengan resto mewah lainnya.
“Sepertinya Tuan terlalu resmi untukku. Aku tidak bisa mendekatimu dengan leluasa,” kata Aksa.
“Tidak perlu mendekat, karena itu tidak perlu. Kamu cukup makan dan nikmati hidangan yang di sediakan restoran kami,” kata Lisa.
“Kenapa tidak boleh mendekat?” tanya Aksa.
“Kenapa harus mendekat?” tanya Lisa balik. Dia menoleh dan menghadap Aksa.
“Karena harus,” kata Aksa membuat Lisa mendengus. Tergelak meremehkan alasan Aksa barusan. Pria ini melirik Lisa yang kini terlihat sibuk dengan merapikan letak makanan di meja. “Bisa ambilkan makanan untukku?”
“Kamu bisa mengambilnya sendiri,” ujar Lisa membalikkan badan lagi untuk menghadap ke Aksa seraya menggeram.
“Pelayanan bisa di anggap buruk kalau kamu tidak mengikuti permintaan pembeli,” ujar Aksa mengingatkan.
“Kamu mengancam ku?” selidik Lisa.
“Tidak mungkin. Aku hanya ingin di layani olehmu,” kata Aksa seraya menyerahkan piring pada Lisa. Meminta gadis ini menyiapkan makanan untuknya. Lisa menatap Aksa lurus-lurus. Lalu meraih piring di tangan Aksa dengan kesal.
...____...
__ADS_1