
Keyakinan Lisa bahwa itu bukan Arka dan dia hanya salah melihat, musnah. Saat cowok itu menghampirinya dia yakin itu memang cowok itu.
Dia memang Arka.
"Kau muncul Arka," sambut Aksa saat melihat adik tirinya mendekat. Namun Arka tidak langsung menjawab sapaan Aksa. Bola matanya terus saja melihat ke arah gadis di samping Aksa.
Jantung Lisa bersabar kencang karena was-was. Ia tidak menduga anak muda yang ia lihat tadi ternyata Arka. Namun ia berusaha keras untuk tetap terlihat tenang dan tidak kenal. Arka mendekat ke arah Lisa. Ini membuat Aksa heran dan tanpa sadar menutupi langkah Arka untuk mendekat.
"Kamu kenal dengan tunangan ku?" tanya Aksa mencegah langkah Arka. Lisa terkejut. Begitu juga Arka. Pemuda itu bagai bangun dari mimpi. Ia langsung tersadar. Lalu melihat ke arah Lisa sana Aksa bergantian.
"Dia tunangan mu?" tanya Arka.
"Ya. Apa kau mengenalnya?" tanya Aksa mengulang pertanyaan yang tadi ia lontarkan. Arka menatap gadis di depannya. Bola mata Lisa mengerjap. Lisa berusaha keras untuk bersikap tidak mengenal Arka.
"Ya." Arka langsung mengiyakan. Lisa cemas. Tangannya menyentuh belakang leher sebentar.
"Kalian kenal?" tanya Aksa kemudian.
"Tidak. Dia ... adikmu?" tanya Lisa berusaha menguasai keadaan.
"Iya. Dia Arka adikku." Aksa memperkenalkan Arka. Lisa mengangguk pelan menerima perkenalan ini. Ia harus bisa menghindar. "Aku yakin kamu salah lihat Arka." Aksa yakin Yora baru mengenal Arka. Karena anak ini jarang berkumpul dengan keluarga besar Candika.
Arka terdiam. Mungkin dia masih berpikir lebih keras lagi tentang gadis di depannya. Lisa gelisah. Dia berharap Arka tidak akan membongkar siapa dirinya. Namun ada rasa bersalah juga. Sekarang, ia sedang bertemu kekasihnya saat dirinya menjadi tunangan pria lain. Itu aneh.
**
Di sekolah, Lisa menghindari Arka sebisa mungkin. Keberadaan Arka bisa membuatnya frustasi karena harus menjawab semua pertanyaan yang pasti akan dilontarkannya.
__ADS_1
"Berhenti di situ!" teriak seseorang. Lisa merasa firasat buruk. Pasti ini Arka, tanpa menghiraukan teriakan tadi, Lisa tetap melangkah. Arka mengejar. Sret! Tanpa menunggu waktu lama, tangan Arka berhasil meraih lengan itu. Lisa terkejut kalau dia akhirnya tertangkap oleh Arka.
"Kenapa menghindari ku?" sembur Arka dengan wajah serius.
"Tidak. Seperti biasanya. Tidak ada yang aneh dengan itu." Lisa ini hebat. Dalam situasi terjepit pun masih saja bisa jawab.
"Apa yang sedang kau lakukan di perusahaan papaku?"
"Bagaimana mungkin aku ada di perusahaan papamu. Bukannya tidak ada yang tahu rumahmu dimana. Begitu juga aku. Apalagi perusahaan," bantah Lisa.
Arka diam. Matanya tetap mengawasi Lisa. Memindai dengan seksama. Lisa mencari obyek lain agar tidak bersirobok dengan mata Arka. Ke samping. Ke kanan dan kiri.
"Aku tahu gadis itu kamu."
"Aku tidak paham apa yang sedang kamu bicarakan?" Lisa masih bisa berkelit. Dan harus bisa. Dia tidak boleh menyerah.
"Arka, aku sangat tidak paham apa yang sedang kamu bicarakan. Siapa Yora? Aku baru dengar nama itu. Jangan-jangan itu nama mantan pacarmu." Lisa berusaha melawak.
Teett! Lisa mengambil napas panjang karena senang. Bel masuk berbunyi. Lisa terselamatkan.
"Bel masuk berbunyi ... Aku ke kelas dulu ya ...," pamit Lisa bersyukur. Lalu berlari kecil segera kabur dari sana.
Sesampainya di depan kelas, napas Lisa jadi tidak beraturan. Tersengal-sengal karena sedikit berlari agar tidak tertangkap oleh Arka.
"Sial ...," umpat Lisa pelan. Kemudian kaki gadis ini berjalan menuju bangkunya.
"Kenapa? kayak di kejar setan," tanya Sera.
"Benar. Dia setan tampan," sahut Lisa mengambil botol air minum milik Sera.
__ADS_1
"Hei! Itu barusan buat minum si ayang!" teriak Anggi.
"Ha? Bekas nyonyornya siapa nih?" Lisa terkejut seraya menjauhkan botol milik Sera dengan wajah merengut. Dia baru tahu Sera punya ayang.
"Ih, kamu ini!" Sera memukul lengan Lisa hingga membuat gadis itu meringis.
"Jadian sama siapa?" kejar Lisa ingin tahu. "Nero, Aris atau Sabo?" tebak Lisa asal.
"Hah, kok tahu?" tanya Sera terkejut. Lisa lebih terkejut lagi karena tebakan asalnya benar.
"Benar? Sama siapa?" Lisa mendelik. Lalu ia buru-buru duduk saat guru pembimbing mata pelajaran datang. "Cepat katakan ..." desak Lisa tidak sabar seraya berbisik.
"Sabo."
***
Arka tidak patah arang untuk menginterogasi Lisa. Ia menunggu di gerbang. Setelah bel berbunyi, dia langsung melesat ke gerbang. Karena jika ia menuju kelas Lisa, takutnya berselisih di jalan.
"Hei, Arka sudah menunggumu di gerbang." Sera tersenyum seraya menunjuk ke arah cowok tinggi itu.
"Lisa!" panggil Arka. Lisa menahan napas dan melebarkan mata. Gadis ini langsung balik kanan. Sera heran saat Lisa tergesa-gesa kembali masuk ke lorong sekolah. Sera hanya mampu melihat saja saat Arka melewati dirinya.
"Ada apa mereka?" tanya Sabo dan Aris yang muncul.
"Aku tidak tahu." Sera menggelengkan kepala. "Tiba-tiba saja Lisa balik ke belakang saat Arka memanggil. Bukannya kamu yang lebih tahu ada apa dengan mereka?" tanya Sera balik. Sabo menggeleng.
"Aku enggak tahu. Kamu tahu, Ris?" tanya Sabo. Cowok ini juga menggeleng.
"Masa baru jadian saja mereka sudah bertengkar hebat." Sera mengeluh. Semua terlihat menyayangkan jika memang pertengkaran sedang terjadi dengan mereka berdua.
__ADS_1