Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 154 Berjuang


__ADS_3

"Kekasih?" tanya Anggita terkejut. Bola matanya membulat sempurna. Ponsel cowok ini berbunyi. Itu menandakan ada pesan masuk. Bola mata Arka beralih pada layar ponsel di atas meja.


Hhh ... Aku harus kembali pada kenyataan.


Cowok ini menyelesaikan makannya dan meneguk air putih. Membiarkan mamanya yang masih tidak percaya apa yang di dengarnya barusan. Setelah itu, kaki Arka menjejak di tanah untuk membuat kursi makan itu mundur. Memberi ruang atau jarak agar ia bisa bangkit dari duduknya.


"Mau kemana Arka? Mama belum selesai bicara. Lalu kamu juga belum menjawab mama," kata Anggita ingin mencegah bocah ini pergi.


"Aku ada janji," sahut Arka santai.


"Tapi mama belum selesai bicara, Arka." Anggita masih mencoba mencegah.


"Apa yang mau mama bicarakan? Tidak ada hal penting," kata Arka.


"Katakan pada mama, apa benar gadis yang sekarang itu dekat dengan Aksa adalah kekasihmu dulu?" tanya Anggita begitu penasaran.


Arka diam menatap mamanya.


"Ya. Dia kekasihku."


Mendengar putranya menjawab dengan tegas, Anggita melebarkan mata dan menutup mulutnya yang sempat menganga.


"Kenapa enggak pernah bilang sama mama? Kalau itu benar, mama bisa membuatmu menikah dengannya. Dengan begitu kamu pasti akan di sayang oleh kakek Candika," kata mama dengan raut wajah kecewa.


Arka mendengus lucu. "Tidak Ma. Hak istimewa itu hanya akan di berikan pada cucu kandung keluarga ini. Bukan aku yang lahir dari benih orang luar yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan keluar Candika."


Anggita tertegun mendengar kalimat putranya.


Ponsel Arka bergetar lagi. Bola mata Anggita mengikuti ekor mata putranya yang melihat ke arah layar ponsel.


"Kisah cinta itu usai, Ma. Seperti kata mama, aku harus menikah dengan Liliana supaya mendapat tempat yang sejajar dengan keluarga ini." Cup. Arka mengecup pipi mamanya. "Aku pergi, Ma." Arka berjalan melenggang ke luar.


Jalani saja apa yang harus di jalani. Semoga kamu selalu bahagia, Lisa. Jadi ... doakan aku juga bahagia dengan melakukan mimpi orang lain, bukan mimpiku.


"Jangan ganggu gadis itu, kalau Mama tidak ingin membuat dua putra Mama marah besar!" pesan Arka tanpa menoleh. Lalu anak itu hilang di balik pintu dapur.


***

__ADS_1


Sementara itu di dalam mobil Aksa.


Ponselnya terus saja berdering. Awalnya Aksa mengabaikan. Ia fokus pada jalanan di depan. Lambat laun ia menyadari sesuatu. Aku harus kemana ini?


Ia bingung karena tidak benar-benar punya tujuan.


"Arggh, sial!" Aksa memukul kemudi dengan kesal. Ia tahu bahwa kakek membawa Lisa ke tempat pemancingan, tapi dia tidak tahu tepatnya dimana. Ada banyak tempat. Dan ia sama sekali tidak tahu harus memulai darimana.


Ponselnya berdering lagi. Itu sudah berkali-kali. Seakan-akan ingin minta didengarkan. Akhirnya berhasil membuat Aksa menoleh dan melihat di layar, siapa yang meneleponnya terus-terusan itu.


"Noah? Ada apa dia meneleponku sejak tadi?" Tangan Aksa langsung menekan tombol telepon balik. Setelah menunggu beberapa detik, Noah menerima teleponnya. "Apa yang kau lakukan? Kamu tahu aku sedang dalam keadaan genting, kan?!" sembur Aksa marah.


"Justru karena aku tahu itu, aku menghubungimu Aksa." Suara Noah di seberang terdengar tenang.


Mendengar itu, nada bicara Aksa pun menurun. Ia ingin tahu. "Ada apa?"


"Apa kamu tahu dimana kakek dan Lisa?"


"Soal itu ..."


"Aku yakin kamu hanya bermodal marah untuk mencari Lisa. Itu tidak akan berhasil," kata Noah mengingatkan.


Noah paham suara hening barusan. Aksa pasti sedang merutuk dirinya sendiri.


"Aku sudah mengirim lokasi dimana kakek dan Lisa berada sekarang. Jadi tolong lihat pesan pada ponselmu."


"Terima kasih Noah."


"Semoga sukses Aksa. Karena setelah ini, aku yang butuh dukungan mu."


"Sialan. Aku sempat terharu karena aku pikir kamu begitu tulus mendukungku, tenyata kamu membantuku hanya karena ingin aku melakukan hal yang sama saat kamu dan Yora mengalami hal seperti ini, tsk!" Aksa berdecih dan menggelengkan kepala.


"Hahahaha ..." Tawa renyah Noah terdengar.


"Oke, Terima kasih Noah." Aksa langsung membuka whatss untuk melihat lokasi yang sudah di kirim Noah. "Kolam pancingan. Hhh ... Kakek ada-ada saja.Tunggu aku Lisa. Aku akan menyelamatkanmu."


***

__ADS_1


Dengan kecepatan penuh dan rasa khawatir yang membumbung tinggi, Aksa berhasil sampai di lokasi lumayan cepat dari waktu pada umumnya. Dia belum pernah ke tempat seperti ini. Pengalaman ini pertama baginya.


Dengan bertanya pada petugas, Aksa di antar secara khusus oleh mereka. Mungkin setelah mendengar nama Candika, mereka langsung tahu ini pengunjung VIP.


"Terima kasih," kata Aksa setelah mereka tiba di tempat kakek. Meskipun belum benar-benar ketemu, Aksa memilih mencari sendiri. Setelah hampir setengah jam, Aksa baru bisa menemukan kakek dan gadisnya. Itu karena letak tempat pancing kakek memang 'menyendiri'. Bahkan ada tenda khusus. Ini mungkin memang sengaja di siapkan untuk kakek Candika.


Aksa melihat Lisa tampak menunduk tidak berdaya. Gadis itu lesu dan tidak bersemangat. "Pasti kakek memarahinya," geram Aksa. Ia segera mendekati mereka berdua yang duduk dengan kursi lipat kecil.


"Apa yang kakek lakukan pada Lisa?!" tanya Aksa tanpa pikir panjang. Ia marah.


"Aksa?" Lisa terkejut melihat kedatangan pria ini. Kakek mendongak menatap cucunya. Pak Aknam yang ada di sana juga ikut mendongak.


"Kamu datang ke tempat ini juga, Aksa," kata kakek. Aksa tidak peduli.


"Berdiri Lisa," pinta Aksa dengan rahangnya yang mengetat keras. Lisa bingung. "Berdiri Lisa. Ayo kita pulang. Kamu tidak harus menemani kakekku." Aksa mengulurkan tangannya.


"Pulang? Tidak." Lisa menolak.


"Kenapa kamu menolak? Jika kakek yang membuatmu terpaksa meninggalkan aku, seharusnya kamu mengatakannya padaku agar aku bisa membereskan semua ini."


"A-apa?" Kening Lisa mengerut.


"Aku datang menyelamatkan kamu dari kekejaman kakekku. Kita tidak bisa berpisah Sa. Kamu tahu aku sengaja meminta pada Yora untuk berhenti mencintaiku karena aku mencintaimu." Aksa emosional.


Blush! Wajah Lisa merah padam. Ia malu Aksa mengatakan hal romantis di depan kakek. Bibir Lisa komat-kamit memarahi Aksa tanpa ada suara sedikitpun. Karena ia malu ada kakek.


Kakek mendengus mendengar kalimat cucunya. Beliau lebih memilih fokus pada kail pancingnya.


"Ayo, Lisa. Kenapa kamu sulit sekali mengikuti ajakan ku. Aku ini datang karena ingin melindungi mu dari kakek," kata Aksa makin membuat Lisa menekuk bibir dan ingin marah. "Kamu di tekan oleh Kakek?"


"Apa-apaan itu?" dengus kakek tanpa menoleh pada kedua anak ini. Mencela cucunya yang begitu ingin melindungi kekasihnya.


Aksa menoleh pada kakek. "Aku tidak tahu kakek ke rumah Lisa hanya ingin menekan dia. Kalau memang kakek marah, seharusnya kakek marah padaku, bukan pada Lisa!" Karena kesal tidak kunjung mengikutinya, Aksa marah pada kakek.


"Hei!" teriak Lisa menggelegar. Ia marah.


...________...

__ADS_1



__ADS_2