
"Jangan kamu pikir aku akan diam saja dengan semua hal yang aneh denganmu. Aku bukan pria bodoh," kata Aksa masih mengunci gerakan Lisa. Bibir Lisa diam. "Kamulah, orang yang selama ini menjadi tunanganku kan? Nayora Wijaya." Aksa menyebut nama itu dengan geraman tertahan.
"Sudah aku katakan, aku tidak mengenal orang yang kamu maksud," sangkal Lisa. Masih mencoba berkelit.
"Masih saja menyangkal. Ini." Aksa mencengkeram pakaian Lisa. Hingga tubuh gadis ini maju ke depan. "Baju ini masih sama yang di pakai kamu saat menemuiku di cafe Strawberry sebagai Yora.”
Lisa menundukkan kepala. Melihat ke arah baju yang di tarik oleh Aksa. Tidak salah. Itu memang punya Yora. Dia terburu-buru.
"Ada banyak baju yang sama di dunia ini. Bahkan merek terkenal pun, ada kembarannya. Karena ada versi palsu-nya. Benar begitu bukan?" Lisa terus saja berkelit.
Namun Aksa tidak menyangkal kemungkinan itu. Bibirnya bungkam. Hanya menggeram kesal. Bola mata Aksa mengamati gadis ini. Memindai segala hal yang dirasa bisa di jadikan bukti bahwa dia dan gadis bernama Yora yang baru saja ditemuinya, adalah orang yang sama.
Lisa yang tadinya menatap lurus, kini pun menundukkan pandangan. Menghindari pandangan Aksa.
Ia tidak mau terjebak.
"Ada satu yang bisa aku pastikan kamu adalah Yora yang aku temui di cafe tadi," kata Aksa.
Lisa mendongak. Tatapan Aksa yang yakin bahwa dugaannya benar, membuat detak jantung Lisa berubah cepat. Apalagi senyuman miring penuh intimidasi itu. Ia merasa tidak aman sekarang.
Tiba-tiba Aksa menangkap tangan Lisa. Mengangkat tangan itu dan menunjukkan jari manis gadis ini dengan paksa. Lisa sempat mengaduh karena terasa sakit.
"Ini. Cincin ini buktinya." Aksa menunjukkan cincin tunangan yang ia sematkan dulu. Cincin berwarna putih dengan harga fantastis. Lisa melebarkan mata. Ia lupa melepas cincin itu juga. "Cincin ini tidak akan ada dua di dunia. Karena di dalamnya ada nama Yora yang terukir di sana. Juga nomor cincin yang hanya di jual padaku," desis Aksa. Ia menekan jari-jari Lisa dengan dingin.
Lisa meringis merasakan tangannya di tekan. Sakit. Lisa berusaha lepas dari tangan Aksa, tapi tetap tidak bisa. Tenaga pria itu sungguh kuat. Apalagi mungkin amarah membuat tenaganya berlipat ganda.
"Lisa! Lisa!" panggil ibu yang mencarinya. Aksa menoleh ke asal suara. Lisa juga demikian. Ia juga memfokuskan pendengarannya.
Ibu! Jangan ke sini. Lebih baik ibu kembali.
"Lisa!"
Aku masih bersama pria ini. Ibu jangan ke sini!
Lisa tidak bisa berteriak. Bukan Aksa yang membungkam mulutnya. Hanya saja ia juga tidak ingin ketegangan soal dirinya dan pria ini di temukan ibunya. Lisa dilema.
Tiba-tiba tubuh Lisa terasa ringan. Gerakannya tidak lagi di kunci. Manik matanya mengerjap heran. Aksa melepaskannya.
__ADS_1
"Aku tidak harus bersikap kejam saat di depan ibumu yang sepertinya tidak tahu apa-apa," kata Aksa seraya melirik ke lorong dimana suara ibu berasal. Lisa meringis menahan sakit di jari-jarinya yang masih terasa. "Kita akan bertemu lagi nanti. Jangan kabur. Aku tahu semua tentangmu sekarang,”ujar Aksa memberi peringatan.
Lisa bungkam.
"Lisa ..." Akhirnya ibu bisa menemukannya. Lisa menyembunyikan rasa sakitnya dengan cepat.
"Ya, Bu." Senyum Lisa mengembang.
Aksa mengangguk sopan pada ibu. Ibu juga ikut mengangguk.
"Ibu mau pulang. Kamu jaga bapak di dalam. Bawa saja temanmu masuk. Waktu berkunjung masih ada, kan?" kata ibu. Lisa hanya mengangguk saja tanpa bicara.
"Ibu mau pulang sekarang?" tanya Aksa. Lisa terkesiap. "Saya bisa mengantarkan ibu pulang.” Ia menoleh pada Aksa dan ibunya.
"Mengantar?" tanya ibu. Lisa menggelengkan kepala tidak setuju. Aksa melirik. "Tidak Nak. Ibu naik angkot saja."
"Saya ada keperluan lain. Ke arah yang sama. Jadi ibu bisa ikut dengan saya," kata Aksa seraya menyentuh ponselnya. Ia sedikit memaksa. Lisa makin cemas.
"Ibu naik ojek saja. Aku bisa pesankan." Lisa mengambil keputusan dengan cepat. Aksa melihat Lisa. Bola mata Lisa mengerjap dan melihat ke ibu lagi. Degup jantungnya masih tidak karuan karena intimidasi Aksa tadi.
"Baiklah kalau begitu. Saya tidak bisa memaksa." Aksa memilih mengalah. Ia melirik ke arah gadis itu. Sepertinya ia menghela napas lega barusan. Aksa mendengus.
Gadis ini tidak ingin aku mendekati orangtuanya. Ada hal besar yang ia sembunyikan dari mereka. Tentu saja. Menjadi orang lain bukanlah hal biasa. Itu kejahatan besar. Aku tidak akan melepaskanmu.
"Ibu pulang ya, Lisa," pamit ibu. Kepala Lisa mengangguk. Aksa melirik.
"Kita keluar barengan saja, Ibu." Aksa punya kesempatan lagi. Lisa ingin mencegah, tapi urung. Meskipun Aksa bersikap kejam padanya, ia yakin pria itu tidak akan bertindak kejam pada ibu. Dia masih punya sopan santun yang justru membuat tubuhnya merinding.
Lisa menatap punggung mereka berdua dengan was-was masih tersisa.
"Awww ... jariku sakit sekali. Aksa sialan. Dia tidak main-main menekan jariku. Untung saja tidak patah." Lisa kembali ke kamar bapak seraya memijit jari-jari dan tangannya.
***
Lisa tidak bisa tidur membayangkan apa yang akan di lakukan Aksa padanya nanti. Itu membuat pagi harinya, badannya tidak segar. Kepalanya pusing akibat memikirkan hal itu.
__ADS_1
Ia bertekad ingin menemui nyonya Anne untuk membicarakan hal ini. Namun saat pulang dari rumah sakit, Lisa terkapar di atas kasur. Giri yang nongol di pintu kamar, bertanya,
"Kenapa?"
"Kepalaku pusing. Bisa kamu tulis surat ijin untukku?"
"Tulisanku kelihatan kalau punya anak-anak. Nggak mempan ke guru. Nanti malah enggak di anggap surat ijin. Di anggap bohongan." Giri tahu benar soal itu.
"Aku pusing beneran, nih?" keluh Lisa sambil memegang kepalanya.
"Bukannya Bapak mulai sembuh. Jadi lebih tenang saat tidur malam. Kenapa kamu jadi yang sakit?"
"Kali aja gantian. Yang jaga yang sakit sekarang." Lisa memejamkan mata sambil ngomel.
"Minta tolong Bi Sarah ya ..." Giri kasih ide.
"Iya dah. Tolong kasih tahu," pinta Lisa. Tumben sekali Giri patuh hari ini. Biasanya dia juga ikut ngomel. Mungkin sadar saat keluh wajah Lisa yang pucat.
Samar-samar, ia mendengar Giri bicara dengan Bi Sarah. Dia yakin Giri sedang minta tolong bibinya menulis surat. Setelah yakin suratnya sukses, Lisa menarik selimutnya dan memejamkan mata.
***
Pagi hari di rumah keluarga Candika.
Jika Lisa pusing karena takut apa yang akan di lakukan Aksa padanya nanti, keadaan pria ini justru sebaliknya.
Pria ini merasa segar bugar. Otaknya yang sempat lelah memikirkan tentang keanehan-keanehan soal Yora, kini mulai berkurang. Aksa menemukan jawaban atas hal yang paling ingin diketahuinya. Yora yang menjadi tunangannya selama ini bukanlah Yora yang sebenarnya.
Kepala Aksa menoleh ke samping. Jendela kamar masih di tutup. Namun cahaya terang pagi terasa lewat serat-serat kain gorden kamarnya. Ia menyibak selimut dan membuka gorden.
Pagi hari ini sudah nampak cerah. Tiba-tiba ia tersenyum miring. Masih ingat di dalam ingatannya. Saat ia berhasil menemukan gadis itu. Gadis yang selama ini menipunya sebagai Nayora Wijaya. Dugaannya benar. Gadis itu bukanlah Yora. Melainkan Lisa.
Ya. Namanya Lisa. Aku akan mengingatnya.
Sesaat Aksa teringat sorot mata tajam itu. Ia merasa sudah pernah menemukan sorot mata itu jauh sebelum gadis itu menjadi Yora.
"Tidak mungkin. Baru kali ini aku bertemu dengannya. Tidak mungkin sorot mata itu aku kenal." Aksa menggelengkan kepala. "Sebaiknya aku segera ke kamar mandi dan menceritakan semuanya pada Noah."
__ADS_1
Aksa bergegas menuju ke kamar mandi dan segera berangkat ke kantor. Ia ingin berbagi penemuannya dengan sepupunya. Sekaligus bertanya soal pendapatnya. Apa yang harus di lakukannya pada gadis bernama Lisa itu.
________