
“Liliana enggak ada?” tanya Lisa panik. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Gadis ini tidak ingin membuat Liliana marah.
“Ada. Dia sedang ada di kelasnya karena hari ini membawa bekal,” jelas Arka tidak punya beban.
“Lalu kamu pergi ke kantin denganku padahal dia bawa bekal?” tanya Lisa terkejut. Arka mengangguk.
“Ya.”
“Tidak. Aku tidak jadi ke kantin." Lisa memilih tidak kesana. "Aku ...”
Kruk! Suara perut kelaparan Lisa terdengar sangat nyaring. Lisa meringis sambil menoleh ke arah Sera yang ada di sampingnya. Memunggungi Arka karena malu dengan suara perut keroncongan itu. Sera tersenyum geli.
“Sebaiknya kita segera ke kantin. Perut kamu pasti lapar. Bukannya kamu gampang lapar.” Arka tahu gadis ini suka makan.
“Oh, oke,” sahut Lisa cepat. Akhirnya Lisa memilih untuk tidak bertanya soal Lili. Dia harus fokus menuju ke kantin karena perutnya sudah keroncongan.
Trio sableng tidak ada di kantin. Jadi mereka hanya bertiga. Setelah menunggu pesanan bakso di buatkan, akhirnya bakso itu datang juga. Tidak lama kemudian trio sableng muncul dan Sera segera berdiri untuk memanggil mereka.
“Hei! Lisa dan Arka!” teriak Nero. Sera segera menghampiri dan menahan mereka untuk mendekat ke meja Lisa.
__ADS_1
“Sebaiknya kita kumpul di sini saja,” kata Sera menunjuk ke meja di dekat mereka.
“Aku mau ke Lisa,” kata Nero memaksa.
“Jangan sekarang. Lebih baik kita di sini.” Sera mencegah. Karena ceweknya bilang begitu, Sabo pun menahan Nero.
“Ayo duduk. Sera sudah bilang seperti itu jadi kita harus ikut.” Sabo mendudukkan Nero dengan paksa. Lisa yang melihat Sera menjauh jadi bingung. Dia tidak ingin hanya berduaan Arka. Lili akan salah paham.
“Kenapa mereka jadi ngumpul di sana,” keluh Lisa. Arka tidak bereaksi. Dia hanya menyapa dengan mengangkat tangan pada mereka. “Kenapa kamu enggak panggil mereka ke sini sih? Kalau Liliana lihat kita berdua saja, dia akan cemburu,” sembur Lisa.
“Hhh ... Kenapa kamu mirip Aksa? Padahal kalian bukan saudara sedarah,” keluh Lisa lagi.
“Sekarang semua di kaitkan dengan Aksa, ya?”
“Oh, bukan begitu,” seloroh Lisa cepat. Ia menggerakkan tangannya untuk membantah.
“Tidak apa-apa. Aku tahu kamu sudah memindah hatimu untuk dia. Sepertinya aku paham lebih dulu dari kamu yang tidak menyadari itu,” kata Arka yang langsung membuat gadis ini bungkam. Kalimat Arka tepat pada sasaran. Jadi tidak ada kalimat bantahan untuk itu.
__ADS_1
Lisa memakan bakso yang dipesannya dengan diam.
“Kalian belum resmi jadian?” tanya Arka. Lisa mendongak dengan wajah terkejut. Ia tidak menduga di beri pertanyaan soal ini. Wajahnya bingung. Ia gugup. “Tidak perlu canggung. Aku sudah berusaha menerima kenyataan itu.” Arka mengatakannya dengan wajah penuh pengertian. Melihat ini Lisa makin tertekan.
“Jangan membahas itu.” Lisa tidak nyaman.
“Bukannya kita berteman, Lis?” Arka berkata dengan senyuman manis. Semanis rasa cinta yang pernah ada di antara mereka. Lisa menunduk. Menghela napas kemudian.
Senyum kamu memang paling manis, batin Lisa.
“Terima kasih, Ka.”
“Apa?”
“Semuanya. Kamu memang baik.” Lisa tulus saat mengatakannya. Arka menatap gadis ini lurus.
“Sebenarnya aku enggak butuh jadi baik. Karena baik enggak bikin aku bisa jadi kekasih kamu,” kata Arka pelan dan mengejutkan. Lisa mendelik.
..._______...
__ADS_1