Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 147 Nona cinderella


__ADS_3

Din! Din!


Sebuah mobil mewah membunyikan klakson dengan pongahnya di depan gerbang sekolah. Semua siswi perempuan menoleh dan menatap takjub ke arah pria dewasa yang ada di dalam mobil.


"Cih. Kenapa dia harus berlagak tampan?" gumam Lisa di halaman sekolah.


"Dia memang tampan," celetuk Sera. Lisa melirik. Sera menggerakkan alisnya menggoda Lisa. "Benar kan, nona Cinderella?" tanya Sera. Bibir Lisa menipis mendengar itu.


Aksa memang tampan, batin Lisa.


"Aku duluan ya," pamit Lisa.


"Iya, cepat kesana deh. Gaya banget pura-pura enggak suka di datangi pria itu. Padahal hatinya jedag jedug kegirangan," cibir Sera. Lisa hanya meringis saja. Kakinya melangkah mendekati mobil Aksa. Pria itu sudah berdiri di depan pintu.


"Sudah aku bilang enggak perlu keluar kalau mau jemput. Tetap di dalam saja," tegur Lisa.


"Kenapa? Seharusnya kamu senang kekasihmu ini mau menampakkan diri di depan semua orang," kata Aksa.


"Lihat saja semua siswi sedang melihatmu dengan mata berbinar mereka," tunjuk Lisa dengan bola matanya. Aksa melihat ke sekeliling. Itu benar. Dia juga tahu itu.


"Kalau begitu ... Pakai ini." Aksa mendekat dan memakaikan tudung jaket Lisa dan menutupi kepala gadis itu.


"Hei!" Lisa hendak menepis tangan Aksa yang memasaknya memakai tudung jaket. Namun Aksa menahannya.


"Stop," perintah Aksa memerintahkan Lisa diam. Akhirnya gadis ini diam. Mata mereka beradu. "Mereka semua juga sedang melihatmu. Mereka. Para bocah-bocah itu juga sedang melihatmu." Aksa menunjuk ke arah para siswa pria yang sempat di temukan Aksa tengah memandangi Lisa sejak dari dalam halaman sekolah.


Lisa mengerjapkan mata.


"Kamu pikir aku juga setuju kekasihku di lihat dengan bola mata berbinar bocah-bocah itu?" kata Aksa membuat Lisa mendongak seraya mengerjapkan mata. "Kenapa?" tanya Aksa.


Lisa menggelengkan kepala. Dia terlalu senang pria ini mengatakan hal itu. Hingga akhirnya terbengong-bengong.


"Ayo, masuk. Kita harus menjenguk nyonya Anne," kata Aksa menggiring Lisa ke pintu mobil. Membukanya dan mempersilakan gadis ini masuk. Lalu ia ikut masuk lewat pintu lain.


"Jadi operasi nyonya Anne lancar?" tanya Lisa.


"Ya. Noah seringkali muncul di sana menemani Yora. Kita berangkat sekarang," kata Aksa. Lisa mengangguk.


...***...

__ADS_1


Mobil Aksa tiba di lahan parkir bawah tanah rumah sakit. Lisa keluar dan di sambut Aksa yang datang mendekatinya. Mereka pun berjalan menuju pintu lift menuju lantai 15 dimana Nyonya Anne di rawat.


"Ada apa?" tanya Aksa. Lisa menoleh cepat ke samping. Aksa mengulurkan tangannya memainkan rambut Lisa yang saat ini tengah di ikat ekor kuda.


"Apanya?" tanya Lisa balik.


"Sejak tadi kamu gelisah," ujar Aksa. Lisa menatap pria ini dengan resah. Matanya melebar sekilas. Itu pertanda dia terkejut barusan. "Meski kamu menyembunyikannya, aku tahu."


Bola mata Lisa mengerjap. Lalu berdecih sambil menatap ke depan. Tepatnya ke arah tombol lift.


"Kenapa kamu tahu aku sedang gelisah," sungut Lisa.


"Sudah aku bilang aku ini mencintaimu, gadis kesayanganku," kata Aksa yang menarik tubuh Lisa dan menyandarkan di dinding lift. Lisa mendelik.


"Apa yang kamu lakukan?" tegur Lisa panik.


"Bukannya seharusnya kamu mengatakan semua hal yang ada di otak kecil ini padaku." Aksa menunjuk kening Lisa. Membuat gadis ini mengernyitkan keningnya. "Apalagi itu yang membuat bibir ini menekuk gelisah." Kali ini tangan Aksa ke arah bibir Lisa. "Bukannya kamu sudah berjanji untuk terbuka padaku?" pinta Aksa.


"Ini bukan hal penting."


"Apapun jika itu soal kamu, itu penting buatku." Mereka saling berpandangan.


"Kenapa tidak sekarang saja?"


"Aku tidak bisa tenang jika bicara dengan kamu dalam posisi ini, Aksa," desis Lisa.


"Kamu takut aku mencium mu di sini?" tanya Aksa tidak peduli pada kalimatnya yang terasa menggelegar di telinga Lisa.


"Hentikan Aksa. Kamu pikir kamu enggak malu jika pihak keamanan melihat kita dalam posisi begini dalam monitor cctv?" terang Lisa geram.


"Oh, mereka?" tanya Aksa sambil mendongak ke arah kamera cctv di pojok lift dengan tenang.


"Kenapa kamu santai sekali, hah?" tanya Lisa makin geram.


"Karena aku tahu mereka akan mematikan layar monitor cctv saat aku berduaan dengan gadisku," kata Aksa kembali menatap Lisa.


"Kenapa mereka melakukan itu?" tanya Lisa merasa heran.


"Karena rumah sakit ini milik keluargaku," jawab Aksa tersenyum puas dan menang. Lisa melebarkan mata. Akhirnya gadis ini pasrah. Lisa menutup matanya. Namun yang ia rasakan bibirnya tidak tersentuh.

__ADS_1


Mata gadis ini terbuka perlahan. Rupanya Aksa hanya mengecup keningnya. Lalu melepaskan kungkungan lengannya.


"Aku pikir ... kamu akan mencium bibirku," dengus Lisa.


"Aku mendengar nada kecewa di sana. Apa sebaiknya aku mencium bibirmu seperti keinginanmu?" tanya Aksa justru tersulut untuk melakukannya. Lisa melebarkan matanya karena sudah keliru bicara.


Ting! Pintu lift terbuka.


"Pintu terbuka. Ayo cepat keluar," kata Lisa mendorong tubuh Aksa keluar. Dengan begini, Aksa mengurungkan niat untuk mencuri bibir ranum gadis itu.


"Apa Nyonya Anne yang membuatmu gelisah?" tanya Aksa di dalam perjalan menuju kamar perawatan eksklusif mantan calon mertuanya itu.


"Kamu sudah tahu rupanya."


"Tentu saja. Selain aku bekerja di perusahaan ini, aku juga punya pekerjaan lain; yaitu mengawasi dan memperhatikan gadisku," kata Aksa sambil menatap Lisa.


"Kamu memata-matai ku?" tegur Lisa. Aksa hanya tersenyum. Itu artinya iya. Lisa menghela napas kasar.


"Ada apa dengan nyonya Anne? Bukannya semua selesai? Kamu dan aku. Yora dan Noah. Bahkan kakek sudah mengatakan langsung pada nyonya Anne bahwa aku tidak ingin menikah dengan putrinya," kata Aksa langsung pada intinya.


"Aku ... merasa tidak enak dengan beliau."


"Soal apa? Aku?" tebak Aksa percaya diri.


"Ya, soal kamu," sahut Lisa dengan tatapan tajam ke arah pria dengan kepercayaan diri yang tinggi ini. "Meski kamu bilang semua sudah selesai, tentu saja yang paling tidak nyaman adalah aku," tunjuk Lisa pada dirinya sendiri. Aksa diam. "Aku terlihat seperti pengkhianat yang tengah menikmati hasil mendapatkan barang rampasan."


"Kamu pikir aku barang rampasan?" sungut Aksa. Lisa menipiskan bibir dan mengedikkan bahu tidak peduli. Aksa menghela napas. "Padahal nyonya Anne ingin memiliki kamu sebagai suami Yora, tapi ternyata aku ..."


"Ternyata kamu berhasil menggeser posisi Yora sebagai tunangan asli dalam merebut hatiku. Cerita itu memang benar. Bukankah begitu kenyataannya?" Aksa menyerobot lanjutan kalimat Lisa dengan senyum manis.


Lisa tahu itu.


"Aku tidak bisa tersenyum ramah pada beliau. Karena sekarang aku sudah menyakiti hatinya," kata Lisa.


"Apapun itu, bukan berarti kamu harus merasa bersalah. Aku yang punya peran penting dalam membuat impian Nyonya Anne dan Yora hancur. Namun hati tidak bisa di paksakan bukan?" Aksa melingkarkan lengannya pada tubuh gadis ini. "Aku yakin Nyonya Anne akan mengerti."


...______...


__ADS_1


__ADS_2