Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 66 Aku bukan bocah biasa


__ADS_3


Mungkin Lisa hanya anak SMA, tapi dia juga punya cara pikir yang lugas. Di dalam pikirannya bukan hanya main dan sekolah. Dia bukan gadis yang tidak tahu soal dunia.


 


Karena meski masih sekolah, dia juga getol mencari uang untuk dirinya sendiri dengan menjadi pekerja paruh waktu di minimarket. Dari sana dia paham bahwa dunia ini tidak sebaik itu untuknya. Ada banyak orang yang berbeda cara pikir dan hidup. Menjadi muda tidak menjadikannya lugu soal kehidupan.


 


Karena itu dia punya pikiran yang lebih luwes daripada kebanyakan anak muda pada umumnya. Termasuk soal menghadapi Tiara tadi. Wanita yang di anggap lebih dewasa darinya. Dia tidak bisa diam saja saat di serang terus menerus. Apalagi dia hanya berperan sebagai Yora.


 


Lisa itu seperti itu.


 


Tanpa sadar Aksa menyadari perbedaan sebutan bocah yang ia sematkan untuk Lisa. Gadis ini masih bocah karena masih SMA, tapi dia punya pola pikir berbeda dari gadis naif seperti Yora karena seringnya di manja.


 


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aksa saat mereka sudah menjauh dari salon kecantikan. Aksa ingat bahwa mereka dalam satu ruangan saat perawatan tadi.


 


"Kenapa? Soal Tiara? Aku enggak apa-apalah ...," sahut Lisa. "Kamu bisa tanyakan itu jika sekarang aku adalah Yora, tapi maaf, aku bukan Yora."


 


Aksa tergelak.


"Ya. Kamu memang bukan Yora." Aksa setuju itu.


 


Lisa menjentikkan jarinya.


 


"Apa yang kalian bicarakan di dalam tadi?" tanya Aksa.


 


"Tidak banyak. Hanya seputar dirimu dan dirinya." Lisa malas membahas.


 


“Tentang aku dan dia? Apa itu?” kejar Aksa. Dia ingin tahu.


 

__ADS_1


“Kok kepo, sih?”


 


“Aku harus tahu karena bisa saja dia bicara macam-macam.”


 


“Enggak kok. Dia hanya cerita biasa aja,” kata Lisa masih dengan keengganannya. Aksa melirik ke arahnya tajam. "Oh, ya. Dia bilang dia spesial untukmu. Aku terharu," ledek Lisa.


 


"Jadi dia mengatakan itu ..." Aksa tetap mengemudi dengan menghadap ke depan.


 


"Menurutku itu bohong. Karena apa, karena dia bukanlah satu-satunya perempuan yang di sukai kamu,” tunjuk Lisa. “Kamu itu kan menyukai banyak perempuan,” tuding Lisa.


 


“Aku hanya mengagumi maha karya indah,” kata Aksa membuat Lisa mencebik.


 


"Kita mau kemana nih?" tanya Lisa yang merasa jarang melewati jalan ini.


 


 


"Puncak? Jauh sekali. Kenapa musti jauh-jauh ke sana sih?" keluh Lisa seraya bangkit dari duduk malasnya dan melihat ke jalanan yang di lewati.


 


"Aku ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan orang ini. Jadi aku ingin jamuan makan ini terasa istimewa. Makan dengan view pegunungan yang indah, sangat menyenangkan hati bukan?" Aksa mengungkapkan semua idenya. Padahal itu tidak perlu.


 


"Memang bagus, tapi buatku makan dimana saja tidak masalah. Asal tidak kotor saja. Apalagi kalau lapar. Semua pemandangan itu jadi tidak berguna. Yang penting makan," kata Lisa polos.


 


Mungkin jika membicarakan soal makanan, Lisa tampak polos. Di otaknya hanya berpikir soal makan dan makan.


 


"Jika begini, kamu terlihat sangat bocah," ujar Aksa seraya mendorong kening Lisa pelan.


 


"Hei! Aku ini memang hanya bocah. Hanya saja otakku akan berkerja keras untuk berpikir, saat ada suatu hal yang tidak biasa. Seperti melawan Tiara tadi." Lisa menyentuh dagunya. Dia puas akan itu.

__ADS_1


 


"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Aksa membelokkan mobil ke tepi. Lisa terkejut.


 


"Kenapa sih?" keluh Lisa. Jantungnya berdebar kencang karena terhenyak kaget.


 


"Apa yang dia lakukan?" tanya Aksa lagi.


 


"Tidak. Dia tidak melakukan apa-apa." Lisa menggelengkan kepalanya heran.


 


"Benar?"


 


"Iya. Lagipula aku tidak akan diam saja saat dia melakukan apa-apa," kata Lisa yakin.


 


"Tapi kamu masih bocah." Lagi-lagi Aksa mengatakan sebutan itu.


 


"Memang kenapa kalau aku bocah? Aku juga bisa menghadapi orang dewasa seperti dia." Lisa membela diri.


 


"Sudahlah. Sebaiknya aku berhenti berdebat denganmu. Bocah tetaplah bocah," ejek Aksa. Lalu menyalakan mesin mobil.


 


“Huh. Menyebalkan.”


 


Bibir Aksa tersenyum samar setelah itu.


_____


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2