Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 69


__ADS_3


Mobil Aksa berjalan menuju arah pulang. Dan itu pasti rumah Lisa. Karena terlalu asyik berbincang, langit sudah menggelap menjelang petang. Karena lelah, Lisa tertidur di kursi samping. Aksa menutupi tubuh gadis ini dengan jas miliknya.


 


Masih teringat soal pembicaraan dengan CEO perusahaan tekstil itu. Juga interaksi menyenangkan pria itu dan istrinya. Kepalanya bergerak menengok ke samping. Menatap Lisa yang terlelap beberapa detik.


 


"Bocah," gumam Aksa. "Lucu. Kata bocah membuatku tersenyum. Sial. Aku jadi kepikiran soal bocah." Aksa menggelengkan kepala dengan pemikirannya sendiri.


 


**


 


Mobil tiba di depan rumah Lisa. Aksa tidak langsung turun karena di sampingnya, gadis ini masih tertidur. Dia hendak membangunkan, tapi tidak tega. Wajah polosnya terlihat berbeda saat mulutnya yang mungil bicara blak-blakan.


 


"Kenapa dia bisa begitu pulas tidurnya? Apa dia tidak berpikir aku ini berbahaya?" gumam Aksa sambil melihat Lisa.


 


Melihat mobil berhenti di depan warung, Giri yang ada di teras berhenti menyalakan motornya dan memperhatikan.


 


"Mobil itu lagi ...," gumam Giri. Dia mendekat karena merasa mengenal mobil itu. Kepalanya melongok ke kaca depan mobil. Aksa yang sejak tadi memperhatikan Lisa, terkejut.


 


Giri menaikkan alis melihat ada kakaknya di sana. Apalagi sedang tertidur. Dia langsung mendekat ke pintu tempat Lisa tertidur. Bola mata Aksa mengikuti cowok itu melangkah.


 


Tok! Tok!

__ADS_1


 


Giri mengetuk kaca mobil bermaksud membangunkan Lisa, tapi gadis itu tidak segera bangun.


 


Tok! Tok!


 


Giri masih berusaha mengetuk kaca mobil. Aksa memilih turun.


 


"Hei,” panggil Aksa. Giri hanya memindah bola matanya saja untuk melihat Aksa. Cowok itu seperti enggan menyambutnya. Pria ini pun paham. Sialan. Dia kembali memanggil Giri seraya mendekat dengan sopan. "Permisi."


 


Kali ini Giri menoleh dengan sempurna.


 


 


"Om siapa?" tanya Giri yang kini peduli pada pria tinggi di depannya. Secara, Giri memang lebih muda dari Lisa, makanya di mata Giri pria ini tampak lebih mirip om-om di matanya.


 


"Teman Lisa,” jawab Aksa pendek.


 


Giri terdiam. Setahu dia kakaknya itu tidak punya teman laki-laki setua ini. Saat Giri masih menerka siapa pria ini, Lisa bangun. Tangannya mengucek mata. Kemudian mencoba membuka mata perlahan.


 


Dia terkejut saat melihat Giri ada di samping mobil. Apalagi saat bola matanya menemukan Aksa berada disana juga. Dia segera keluar seraya menarik sesuatu yang menutupi tubuhnya tadi. Membawanya keluar dengan menentengnya.


 

__ADS_1


Giri dan Aksa menoleh serempak ke Lisa, saat gadis ini membuka pintu.


 


"Giri, aku ada perlu denganmu," kata Lisa langsung melingkarkan tangannya di leher Giri.


 


"Apa sih? Aku masih belum tahu om ini siapa ...," gerutu Giri seraya melepas tangan kakaknya dari lehernya.


 


"Dia orang penting. Lebih baik kamu segera masuk ke dalam karena dia akan segera pulang." Lisa mendorong tubuh Giri untuk masuk ke dalam rumah dengan satu tangannya. Giri masih menolak.


 


"Penting?" Bola mata Giri memindai Aksa dari atas ke bawah. Aksa menggeram di dalam hati melihat bocah yang lebih bocah dari Lisa, memindainya. Namun ia mencoba bersikap tenang.


 


"Udaahhh ... Masuk saja sana," geram Lisa.


 


"Hot spot full 24 jam. Uang jajan," desis Giri memalak kakaknya. Aksa yang mendengar bisik-bisik itu berusaha menguping dan memperhatikan.


 


"Baiklah. Cepat pergilah ...." Lisa tidak sabar adiknya menjauh dari Aksa.


 


"Oke. Deal." Giri bahagia. Dia langsung melesat masuk ke dalam rumah tanpa peduli lagi pada Aksa.


 


"Ternyata dia yang namanya Giri ..." ujar Aksa sambil memperhatikan Aksa yang bergegas masuk. Lisa menipiskan bibir. "Dia adikmu?" Lisa menggaruk tengkuknya. Tidak ada jawaban berarti benar. Aksa tidak perlu jawaban lagi.


 

__ADS_1


"Ya. Dia adik Lisa," jawab Arka yang muncul di sana.


__ADS_2