
Ternyata ada undangan makan malam dengan keluarga Candika. Namun bukan dengan nyonya Anne, Lisa di minta datang sendiri. Tentu itu sangat menegangkan. Ini adalah makan malam pertama kali Lisa di rumah keluarga Candika. Ia mencoba bersikap manis karena duduk dalam satu meja dengan keluarga kaya itu.
Ada rasa gugup merambati dirinya perlahan. Wajar jika dia merasakan itu. Tidak banyak gadis miskin sepertinya bisa masuk dalam lingkaran orang kaya ini.
"Selamat menjadi calon menantu keluarga Candika, Yora ..." ujar Adiwangsa Candika. Kepala keluarga disini. Ayah Aksa. Lisa tersenyum. Berusaha tampak manis.
"Ya. Selamat menjadi kakak perempuan pertama di keluarga ini." Si gadis kurang ajar Allen juga mengucapkan kalimat yang sama. Sepertinya di keluarga ini dia adalah bungsu. Lalu siapa lagi kakak selain Aksa di sini?
"Jika saja dia juga ikut makan malam ini, aku yakin dia juga senang akhirnya Aksa mendapatkan calon istri," ujar Anggita, ibu Aksa membuat pria itu menipiskan bibir. Sepertinya hubungan ibu dan anak ini kurang akur.
"Kemana saja anak itu? Apakah kamu sudah bicara padanya bahwa sekarang ada makan malam dengan keluarga Wijaya?" tanya Adiwangsa setengah menggeram. Entah siapa yang dia bicarakan.
Lisa merasa hawa tidak nyaman menyeruak. Namun dia tetap makan dengan baik.
"Aku sudah bicara padanya. Mungkin dia sibuk," sahut Anggita membela.
"Ada-ada saja. Memangnya seorang bocah sibuk apa?" gerutu Adiwangsa.
"Mama dan papa kok jadi bertengkar sih ... Kan ada Kak Yora sekarang ..." Allen rupanya mengerti sopan santun juga. Dia merasa risih melihat orangtuanya berdebat di depan calon kakak ipar.
__ADS_1
Lisa tersenyum. Bola matanya melirik ke arah Aksa yang menuntaskan makannya tanpa banyak bicara. Bahkan tidak peduli dengan situasi tidak menyenangkan di meja makan.
"Aku selesai makan. Kalian bisa lanjutkan bicara, biar aku dan Yora bicara berdua di taman," kata Aksa membuat Lisa terkejut. Dia sama sekali tidak ada keinginan untuk bicara berdua saja dengan pria itu. Bahkan sekarang ia sedang menikmati makan enak secara gratis.
Sial. Pria ini selalu saja membuat aku kelaparan, geram Lisa di dalam hati.
"Dia belum selesai makan, Aksa. Kenapa kamu terburu-buru?" tanya Adiwangsa.
Itu benar. Aku belum selesai makan enak, bung!
"Kita keluar Yora?" tawar Aksa bersikap manis. Ia tidak peduli dengan nasehat orangtuanya.
**
Lisa itu badannya kurus, tapi makannya banyak. Bukan banyak pada porsinya, tetapi pada frekuensi makannya. Dia bisa makan empat sampai lima kali dalam satu hari. Bahkan malam hari pun kalau pas mata masih terbuka, ia tetap makan nasi. Dalam catatan, nasi dan lauk di dapur masih ada ya ... Kalau tidak ada, apa yang mau di makan? Kan dia kudu hemat.
Lisa mengikuti Aksa menuju ke taman. Sesuai dengan apa yang di katakan pada orang tuanya.
Kenapa juga ke sini jika di sana lebih nyaman? Nyaman karena ada makanan sih ... kata Lisa di dalam hati.
__ADS_1
"Aku salut kamu bisa tenang dengan keramaian di meja makan tadi." Lisa yang sedang menunduk lesu langsung bangkit dan menegakkan tubuh saat Aksa bicara dengan tiba-tiba.
"Oh, ya? Berarti aku hebat," sahut Lisa malas. Aksa diam sambil melihat ke arah Lisa dengan kesal.
"Setelah sembuh dari koma, sepertinya kamu makin menyebalkan." Terang-terangan Aksa mengatakan kalau Lisa membuatnya kesal.
"Terima kasih atas pujiannya." Lisa menjawab sekena-nya saja. Ia masih malas dan kesal tidak bisa menghabiskan makan malam tadi.
"Kamu sengaja bersikap seperti ini karena merajuk padaku?" tanya Aksa menahan amarah.
"Kenapa? Tidak suka?" tanya Lisa akhirnya memilih duduk di bangku taman daripada terus menerus berdiri. "Aku ini tunanganmu. Tidak salah jika ada waktu aku merajuk."
"Tapi aku tidak tertarik padamu. Ikatan ini ada hanya karena kakek menyukaimu. Wajahmu yang sekilas mirip dengan nenek, hanya itu alasan kakek menyukaimu. Kamu tahu itu, Yora?"
"Jangan berdebat." Sebuah suara muncul di belakang mereka.
______
TUNANGAN PALSU
__ADS_1