
Aksa sangat menanti-nanti jawaban Noah.
"Aku memang merasa dia sedikit berbeda dengan Yora yang aku kenal."
"Pemikiran kita sama, Noah." Aksa sudah memotong kalimat Noah karena gembira pria ini sejalan dengan pemikirannya.
"Aku belum mengakui bahwa Yora yang sekarang bukanlah Nayora Wijaya, Aksa." Noah memutus kesenangan Aksa.
"Setidaknya kita punya pemikiran yang sama," ujar Aksa.
"Dia memang tidak sama persis dengan yang aku kenal dulu. Dan itu kemungkinan karena kondisi koma yang sempat ia lalui waktu itu." Noah mulai ikut-ikutan Aksa berpikir. "Sepertinya kamu mengajakku berpikir lebih jauh Aksa. Kamu membuat otakku yang sudah lelah bekerja makin lelah," protes Noah menyadari diskusi ini memusingkan.
"Maaf soal itu. Aku perlu tahu lebih jauh soal Yora karena aku curiga, Noah."
"Curiga?"
"Aku curiga ada yang memanfaatkan perjodohan ini."
"Aku makin tidak paham, Aksa." Kening Noah mengerut. Tanda ia berpikir keras.
"Aku memang tidak mencintai Yora, kamu jangan salah paham soal itu. Tenang saja," kata Aksa membuat Noah mendengus geli. Aksa berusaha bicara dengan hati-hati saat membicarakan hubungannya dengan Yora. Ia takut dirinya tersakiti.
"Aku tahu. Bicara saja dengan nyaman," sahut Noah.
"Kemungkinan ada orang lain yang menyamar menjadi Yora demi menjadi tunanganku."
"Jangan bercanda. Bukannya Tante Anne sendiri yang bertemu secara langsung dengan keluargamu. Mana mungkin Yora yang sekarang itu palsu," kata Noah.
“Aku tahu itu, tapi perasaanku tidak bisa di abaikan. Ada banyak hal yang membuat dia mencurigakan, Noah.”
“Berhentilah mencurigai Yora. Jika kamu bisa mencintainya, aku yakin dia adalah orang lain. Karena kamu tidak akan mencintai seorang bocah,” tunjuk Noah pada sepupunya dengan yakin.
Aksa terdiam. Dia menggaruk dagunya pelan. Dia juga berpikir demikian. Namun ada yang mengganjal hatinya. Apalagi soal sorot mata gadis itu yang tidak lagi penuh dengan cinta. Padahal Aksa tahu gadis itu mencintainya dengan sepenuh hati.
Lalu yang aku temukan di sana itu siapa? Mungkinkah hanya mirip? Kemungkinan iya, tapi mengapa aku merasa mengenal gadis itu? Ini aneh.
***
Aksa tidak berhenti di sana saja, saat Noah tidak punya pikiran yang sejalan dengannya soal Yora palsu. Pria ini begitu ingin menunjukkan bahwa dirinya benar. Ada sesuatu yang di sembunyikan gadis yang menjadi tunangannya itu.
Dia ingin memulai penyelidikan. Namun bingung darimana. Dan apa yang perlu di selidiki terlebih dahulu. Ia mencoba bertemu dengan gadis yang menjadi tunangannya itu.
__ADS_1
Dari kantornya, Aksa mencoba menelepon Yora. Nomor yang ia dapatkan dari keluarganya. Dia ingin bertemu dengan gadis itu sekarang. Informasi dari keluarganya, Yora mengikuti program homeschooling. Ternyata justru keluarganyalah yang lebih banyak tahu soal tunangannya daripada dirinya sendiri.
"Emm maaf, aku masih belajar. Bisa nanti malam saja?" Suara Yora terdengar di seberang. Ia menolak bertemu sekarang. Terpaksa Aksa mengurungkan niat untuk bertemu. Dia memilih tidak memaksa.
Saat lewat warung yang kemarin, Aksa teringat lagi soal gadis yang mirip dengan Yora. Suasana ramai seperti biasa. Tidak ada sosok gadis itu di sana. Hanya seorang ibu dan perempuan waktu itu. Mungkin itu ibu yang di maksud pak Namo. Orangtua gadis itu.
Aksa meneruskan laju mobilnya menuju lokasi.
***
Selalu cafe ini. Saat Aksa ingin bertemu dengan Yora, selalu tempat ini yang jadi tempat pertemuan mereka. Aksa tidak pernah menemukan gadis itu, jika dirinya muncul tiba-tiba di rumah keluarga Wijaya. Nyonya Anne selalu mengatakan gadis ini sedang ada di cafe.
Aksa sebenarnya malas harus putar balik ke cafe yang terletak di sekitaran mall miliknya. Itu berarti seperti ia harus kembali ke lahan perumahan. Namun ia meneruskan mobilnya ke sana, saat Tiara ingin bertemu di sekitar mall.
Ia melihat gadis itu duduk di dekat dinding kaca. Aska bisa melihat ia memakai pakaian seperti biasanya lagi. Sangat berbeda ketika di GOR waktu itu. Ponselnya bergetar. Ada pesan masuk.
"Aksa. Aku masih berada di butik ku. Kamu bisa tunggu sebentar?" Tiara yang mengirim pesan itu. Aksa melihat ke cafe Strawberry. Yora sedang menunggunya. Meskipun tidak suka, kali ini dirinyalah yang membuat gadis itu menunggunya.
"Ya. Aku bisa menunggumu," balas Aksa.
"Terima kasih, sayang."
Bel di pintu cafe berbunyi. Itu menandakan ada orang yang melewatinya. Karyawan cafe yang sudah di beritahu soal kedatangan Aksa membungkuk sebentar untuk menyapa.
"Nona Yora sudah menunggu di sana," seorang karyawan memberi tahu.
"Ya. Terima kasih."
Lisa yang tadinya main game di ponsel, segera log out tiba-tiba saat tahu Aksa muncul. Ia yakin Nero mengomel. Bisa di pastikan cowok itu bakal kalah dalam permainan karena anggota timnya log out dari game online.
Deg, deg, deg.
Karena pertemuan di warung yang begitu tidak terduga, dada Lisa berdebar kencang. Dia gelisah. Takut Aksa akan segera menemukannya.
Bibir Lisa tersenyum menyambut Aksa. Pria ini tidak menanggapi senyuman Lisa.
Sialan. Dia pikir aku senang harus tersenyum padanya? Huh.
Deg, deg, deg.
__ADS_1
Dadanya masih berdebar kencang karena cemas.
"Jangan senang. Aku hanya kasihan melihatmu menungguku di sini." Seperti biasa, kata-kata Aksa terdengar sangat jahat. Namun Lisa tidak peduli dengan itu. Itu untuk Yora, bukan dirinya.
"Mau minum apa?" tanya Lisa berusaha peduli. "Mereka bisa menyiapkan untukmu. Aku takut keliru jika menyiapkannya sebelum kamu minta."
"Tidak. Aku tidak perlu minum."
"Kalau begitu, mau makan?" tawar Lisa. Dia ingin terlihat baik di depan Aksa.
"Tidak."
"Kalau begitu ..."
"Aku tidak ingin minum atau makan, Yora," kata Aksa dingin. Lisa diam. Aksa menatapnya agak lama. Ini membuat Lisa gugup. Bola mata itu menyelidikinya sekarang. Lisa tahu karena mereka pernah bertemu di warung ibunya. "Apa kamu yakin kita tidak pernah bertemu sebelumnya, Yora?" tanya Aksa.
"B-bertemu? Emmm ... mungkin saat kamu mencariku ke cafe Strawberry ini waktu itu?" tebak Lisa asal. Dia tahu maksud Aksa adalah bertemu di warung ibu. Tepatnya di rumahnya sendiri.
"Bukan."
"Bukan? Emm ... dimana, ya? Oh, GOR. Saat aku dengan Allen?"
Aksa tidak menyahut seraya menatap tajam ke arahnya. Lisa menelan ludah samar. Ponsel Aksa berdering. Itu membuat Lisa lega karena lepas dari tatapan pria ini. Tiara menelepon ternyata.
"Halo," kata Aksa menerima telepon Tiara.
"Kamu dimana? Aku sudah datang di cafe, tapi aku lihat kamu tidak ada."
"Ya. Aku ada sedikit keperluan. Tunggu saja aku disana. Aku akan segera datang," kata Aksa kemudian menutup ponsel.
"Aku ada perlu." Lisa bersorak di dalam hati. Itu artinya Aksa akan pergi. Tidak masalah jika pertemuan mereka hanya sebentar. "Kamu tahu aku sangat sibuk." Aksa berdiri.
"Y-ya. Tidak apa-apa." Lisa tersenyum tipis. Dia senang.
***
Aksa mendongak melihat lampu lalu lintas yang masih merah. Tangannya memegang kemudi. Sementara tangan satunya memegang dagu. Meski sedang menuju tempat Tiara, di dalam benak Aksa masih soal gadis itu. Gadis yang mirip dengan Yora. Juga kecurigaannya soal Yora yang tahu beberapa hal yang semestinya orang tidak tahu.
Baru saja ia memikirkan gadis itu, sekarang ia menemukannya tepat di depan mata. Gadis itu sedang melewati trotoar di seberang kanan. Tidak jauh dari cafe Strawberry.
Ada yang menarik dari temuannya sekarang. Gadis itu memakai pakaian yang sama dengan Yora yang ia temui di cafe tadi. Sama persis. Namun terlihat seperti orang lain karena gerak-geriknya berbeda.
__ADS_1
________