Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 83 Makan malam


__ADS_3

“Maaf aku tidak datang mengantarmu kemarin, Lisa.” Arka yang sadar akan kesalahannya langsung meminta maaf begitu bertemu di sekolah. Seusai mengantar Liliana pulang ia langsung tidur. Baru pagi ini ia lihat bahwa ada banyak panggilan tidak terjawab dari Lisa. Ia baru sadar bahwa sudah ingkar janji.


 


“Aku ... Sempat menunggumu.” Lisa sedikit menunjukkan kekecewaannya.


 


“Maaf. Ada urusan dengan mama kemarin. Itu tidak bisa di ganggu,” bohong Arka.


 


“Mau gimana lagi ... Kamu memang tidak bisa menolak perintah mamamu.” Lisa tahu diri. Bibirnya pun tersenyum mengerti. “Oke. Aku masuk ke kelas dulu, ya ...” Lisa mengangkat tangan dan masuk ke kelas. Arka pun kembali ke kelas setelah menatap punggung gadis itu dari belakang.


 


**


 


Arka terkejut melihat Lisa di meja makan. Lisa menyunggingkan senyum tipis untuk menyapanya. Arka membalas senyuman itu dengan canggung. Sikap yang aneh. Mungkin karena mereka bertemu di depan keluarga besar untuk pertama kalinya.


 


Sedikit lucu karena yang berani membawa Lisa di depan keluarganya adalah Aksa, bukan Arka yang menjadi kekasihnya.


 


“Selamat malam,” ucap seorang gadis yang baru saja datang. Lisa menoleh dan mengerjap tidak mengenal sama sekali siapa gadis ini. Allen tersenyum pada gadis itu. Lisa menoleh pada Aksa untuk bertanya. Namun pria ini justru menjulurkan tangan untuk merapikan anak rambut yang jatuh di pelipis Lisa.


 


Arka melirik.


 


Bola mata Lisa mendelik. Aksa tersenyum geli melihat reaksi Lisa. Pria ini tidak mengatakan atau memberi kode apapun perihal gadis itu pada Lisa. Ini membuat Lisa geregetan dengan Aksa.


 


 


Lisa memilih tersenyum saat gadis itu selesai berpelukan dengan Anggita dan menoleh ke arahnya. Terlihat sekali bahwa mama mereka menyukainya. Siapa sebenarnya gadis itu?


 


Arka sendiri terpekur di kursinya. Cowok itu tidak mengeluarkan sepatah katapun. Raut wajahnya seperti tertekan. Ada hal yang membuatnya gelisah. Lisa cemas karena Arka berwajah kesal dan muram. Ingin bertanya ada apa, itu tidak mungkin.


 


“Terima kasih untuk Liliana dan Yora yang sudah datang. Kalian memang calon menantu terbaik mama.” Anggita mengatakannya dengan senyum paling bahagia yang pernah Lisa lihat. 


 


Calon menantu? Siapa?

__ADS_1


 


“Karena mama mengundang Liliana, jadi mama juga harus mengundang Yora. Liliana sudah tahu tunangan Aksa?” tanya Anggita.


 


“Belum.” Gadis itu tersenyum lagi pada Lisa. Hati Lisa berdebar-debar dengan tidak jelas. Cemas dan khawatir menyatu jadi satu.


 


“Halo. Aku Liliana, calon tunangan Arka,” kata Liliana dengan manis.


 


Tunangan Arka? Gadis ini?


 


Tanpa sadar Lisa langsung menoleh pada Arka. Meminta penjelasan. Apakah yang dikatakan gadis ini benar? Arka menggeleng samar. Menolak mengakui bahwa Liliana adalah tunangannya.


 


“Ya. Yora agak kurang enak badan.” Aksa menyentuh punggung Lisa untuk menyadarkannya. Sekaligus menjadi juru bicara gadis ini.


 


“Oh, ya? Wahh ... Mama salah nih, sudah memaksa mengundang Yora ...” Anggita terlihat bersalah.


 


 


“Kakak istirahat saja di kamar Allen,” kata Allen langsung ikut cemas.


 


“Aku tidak apa-apa, Allen,” ujar Lisa seraya tersenyum tipis.


 


“Ya. Nanti aku akan membawanya ke kamar kamu. Lebih baik sekarang kita makan saja,” usul Aksa karena sepertinya Lisa tidak meminta pergi dari meja makan. Meskipun ada Arka dan tunangannya.


 


**


 


“Makan yang banyak,” kata Aksa seraya memberi piring Lisa tambahan makanan. Karena ia melihat gadis ini makan sedikit. Itu aneh. Kebiasaan Lisa adalah sangat menyukai makan. Jadi saat gadis ini terlihat tidak berselera makan, Aksa langsung tahu ada yang mengganggu pikirannya.


 


“Kenapa di tambahin?” lirih Lisa seraya mendelik.


 

__ADS_1


“Yang aku tahu kamu itu makan banyak, jadi saat makan kamu sedikit, aku cemas,” ujar Aksa pelan. Walaupun pelan, Arka sempat melihat ke arah mereka. Lisa yang tidak sengaja melihat ke depan, mengerjapkan mata saat tatapan mereka bersirobok.


 


Aksa yang tahu Lisa mendadak gugup menoleh. Ia melihat Arka sedang menatap Lisa.


 


“Ada yang ingin kamu bicarakan, Arka?” tanya Aksa mengejutkan. Lisa langsung melirik Aksa dan menowel lengan pria ini dari belakang. Namun Aksa tidak peduli. Dia masih melihat ke Arka seraya menunggu jawaban cowok ini.


 


Arka menoleh ke Aksa. Sedikit terkejut karena di tegur seperti itu. Namun dia akhirnya tersenyum.


 


“Tidak. Aku hanya heran Kak Aksa terlihat perhatian sekali pada Kak Yora.” Ini sebuah sindiran Arka untuk Aksa.


 


“Tidak perlu heran, menurutku wajar jika aku perhatian pada tunanganku,” kata Aksa seraya tersenyum pada Lisa. Senyum paling manis yang pernah ia berikan.


 


Lisa tersenyum canggung. Ia tahu Aksa sedang memprovokasi adiknya.


 


Bahkan Liliana menoleh ke arah mereka. Dia yang awalnya tidak terlalu peduli dengan pertanyaan Aksa, kini mulai tertarik karena Arka bicara dengan nada berbeda.


 


“Kamu juga harusnya lebih perhatian pada Liliana. Bukan begitu, Mama?” tanya Aksa membuat Anggita tersenyum lebar. Lisa menoleh pada Arka yang menatap tajam ke arah ke arah Aksa.


 


Sialan ni, Laki. Seharusnya dia tutup mulut. Bukan ngompor-ngompori seperti itu, keluh Lisa kesal pada Aksa.


 


“Ya. Kamu memang harus beri contoh yang baik pada Arka.” Anggita justru mendukung Aksa. Ini membuat Arka mendengus kesal. Liliana tahu kalau cowok ini tidak suka, tapi ia tersenyum.


 


“Berarti harus mengucap terima kasih ya pada Aksa karena sudah mau memberi contoh," ujar Liliana. "Beruntung sekali Kak Yora dapat pria yang baik."


 


Pria baik? Aska itu pemangsa wanita tahu, ujar Lisa di dalam hati.


 


“Tidak. Bukan Yora yang beruntung, tetapi aku,” ralat Aksa yang membuat Lisa melirik heran. Nih orang mabuk mungkin.


_____

__ADS_1


 


__ADS_2