Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 103


__ADS_3

Ting! Pintu lift terbuka. Lisa berjalan di samping Aksa untuk ikut ke ruangannya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri dengan cemas. Dia tidak tahu kenapa harus ikut pria ini. Meskipun begitu, ia tetap ikut pria ini.


 


Setelah membuka pintu, Aksa menyuruh Lisa masuk.


 


“Masuklah.”


 


Lisa masuk dengan cemas. Setengah berdoa agar tidak bertemu dengan siapapun. Ia melihat ke sekitar. Masih sama. Seperti beberapa hari yang lalu. Pun saat dirinya masih menjadi Yora. Semua sama. Yang berbeda adalah orang ini. Dia lebih sering bicara yang aneh dan tidak masuk akal.


 


“Kenapa tidak duduk?” tanya Aksa yang menemukan Lisa masih berdiri. Gadis ini pun duduk.


 


“Kenapa aku harus di sini?” tanya Lisa. “Ini aneh. Saat kamu punya tunangan Yora, tapi kamu sedang bersamaku di ruangan ini. Bahkan hanya berdua.”


 


“Ya.” Aksa menghampiri Lisa dan duduk di sampingnya. Lisa menatap pria ini heran.


 


“Apa? Ada perlu apa lagi?” tanya Lisa ingin segera pulang.


 


“Kamu belum menjawab pertanyaanku.” Mendengar itu kening Lisa mengerut. Dia merasa Aksa tidak sedang bertanya. “Selain karena Arka dan Yora, kenapa kamu menghindar dariku?” tanya Aksa seraya menyentuh kening Lisa yang mengerut. Lisa menggerakkan kepalanya berusaha menghindar.


 

__ADS_1


“Karena aku sudah tidak ada hubungannya lagi denganmu.” Lisa menggeser duduknya. “Aku yang punya wajah mirip dengan Yora, sebaiknya menghilang dari kehidupan kamu.”


 


“Kenapa?” tanya Aksa seraya mendekat. Padahal Lisa sudah berusaha menjaga jarak. Kini ia harus mundur lagi.


 


“Tidak perlu di jelaskan kamu pasti paham. Tidak mungkin ada dua Yora di sekitar kamu. Itu akan membuat gadis itu tidak nyaman. Apalagi soal penyamaran yang sudah aku lakukan.”


 


“Kalau begitu mudah. Kamu bukan Yora. Untuk apa kamu bersembunyi?”


 


“Nyonya Anne akan kerepotan kalau aku muncul begitu saja di sekitar kalian, Aksa. Dia akan merasa di khianati karena aku sengaja muncul di depan mu. Itu artinya aku membongkar penyamaran itu pada publik.” Lisa mendorong tubuh Aksa yang makin dekat dengannya.


 


“Jadi permasalahan kamu menghindari aku adalah Yora.” Aksa tampak berpikir. Dia menghadap ke depan. Tidak lagi mendekati Lisa.


 


 


Eh, aku salah bicara? Enggak. Bukankah memang seharusnya dia lebih peduli pada Yora karena gadis itu tunangannya? Lagipula itu memang sudah takdir dia sebagai cucu keluarga Candika. Di jodohkan.


 


“Sebenarnya kamu sadar tidak, apa yang sedang terjadi sekarang?” tanya Aksa aneh.


 


“Apa? Memangnya ada apa?” Lisa balik tanya karena tidak mengerti. Aksa menghela napas.

__ADS_1


 


“Mungkin ini beratnya jika berurusan dengan bocah,” keluh Aksa. Raut wajahnya seperti kelelahan menghadapi Lisa.


 


“Apa sih? Bocah, bocah! Memangnya aku terlihat seperti masih sekolah TK?!” sembur Lisa tidak terima. Raut wajah Aksa tadi begitu meremehkan. “Kamu memang sudah om-om tua. Jadi sebaiknya kamu juga enggak berurusan denganku,” sungut Lisa. “Biarkan aku pulang.” Tiba-tiba Lisa berdiri dan hendak pergi.


 


“Tidak.” Aksa langsung menarik lengan Lisa. Ini membuat gadis itu limbung dan jatuh ke sofa. Dengan sigap Aksa menarik tubuh itu mendekat padanya. Bola mata Lisa mendelik.


 


Ini terlalu dekat.


 


“Sepertinya kamu tidak mengerti meskipun aku sudah memberi kode dengan jelas padamu.” Bola mata Aksa tampak serius. Lisa berontak. Ingin menjauh dari pria ini. Namun Aksa dengan kuat menahan tubuh Lisa agar tidak pergi.


 


“Aku memang tidak mengerti. Jadi biarkan aku pergi," desis Lisa.


 


Tiba-tiba Aksa menarik tubuh Lisa dan mengecup bibir gadis itu. Sontak saja membuat gadis ini membeku. Dia tidak lagi berontak. Diam. Aksa yang melihat Lisa membeku menunduk. Mencoba melihat raut wajah gadis itu.


...____...



 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2