Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 35 Menjenguk kakek


__ADS_3


Meskipun terkesan tidak peduli, Aksa sungguh penasaran dengan gadis yang bersama adik tirinya. Bahkan sampai di rumah pun ia terus saja memikirkan gadis itu.


"Sial. Kenapa aku harus memikirkan gadis itu? Mungkin karena itu kekasih Arka, aku jadi ingin tahu siapa dia. Lebih baik aku memikirkan Tiara." Senyum Aksa mengembang. Namun sejurus kemudian malas memikirkan wanita karena ingat lagi soal ayahnya yang membawa wanita baru saat mamanya masih hidup. "Kenapa teringat itu lagi." Aksa menghela napas.


***


Ini pertama kalinya Lisa naik mobil bersama Aksa. Menurutnya ada perintah dari kakek, untuk mengunjungi beliau dengan Yora di rumah sakit. Jadi sore ini mereka berdua meluncur ke sana.


"Kakek sakit apa?" tanya Lisa mencoba mengulik informasi.


"Hanya kelelahan, tapi karena sudah berumur kakek harus di rawat secara intensif," jelas Aksa. Lisa manggut-manggut. Saat mobil membelok ke arah rumah sakit, ia terkejut. Karena rumah sakit itu adalah rumah sakit dimana bapak Lisa di rawat.


"Disini?" tanya Lisa terkejut. Aksa tidak menjawab. Lisa sudah gelisah karena takut bertemu ibu. Semoga ibu tidak menemukanku. Sungguh mujur, Lisa bisa berjalan bebas dari lobi hingga saat area VIP tanpa ketahuan orang-orang yang di kenalnya.


Melihat area VIP ini, Lisa merasa tidak asing. Ia teringat akan kakek tua yang membuat bapak sempat tertunda penanganannya. Juga soal wajahnya yang terlihat mirip dengan orang yang paling dicintainya.


Setelah terus masuk ke dalam are VIP, Lisa yakin bahwa dia memang pernah ke tempat ini.

__ADS_1


Apa kakek itu masih di rawat di sini, ya? tanya Lisa di dalam hati sambil celingukan. Mencari sosok kakek itu dan menyapanya. Namun nihil. Kakek tua itu tidak bisa di temukan.


Langkah Aksa berhenti saat tiba di ujung lorong. Ada penjaga di luar pintu. Tentu. Sebagai orang kaya, mereka harus selalu di jaga oleh pengawal.


Setelah berbicara pada orang di luar pintu, Aksa masuk di ikuti oleh Lisa.


"Aku datang, Kakek," sapa Aksa. Seorang kakek menoleh dan menyahuti sapaan Aksa.


"Ternyata kamu benar-benar datang sore ini. Kamu tidak sendirian, kan?" tanya beliau yang ingat dengan pesan yang sudah di ucapkan.


"Ya, aku bersama ... " Aksa heran karena gadis ini tidak berada di sampingnya. Ia menengok ke belakang. Dimana Lisa masih berdiri di dekat pintu dengan matanya membola. Ia terhenyak kaget. "Kenapa tidak mendekat, Yora?" tanya Aksa menahan geram. Ia tidak ingin tampak buruk di depan kakek.


"Yora ..." panggil Aksa berusaha sabar. Kakek yang melihat itu terheran-heran.


"Ada apa? Kemarilah," pinta kakek. Lisa menelan ludah lalu tersenyum.


"I-iya ..." Langkah Lisa terasa sangat berat. Ingin rasanya kembali ke pintu dan pergi. Manik mata kakek tua itu memperhatikan Lisa yang berjalan mendekat ke arahnya. Mengerjapkan mata beberapa kali, lalu tersenyum.


"Kamu gugup dan sedikit lupa dengan kakek karena koma, Yora?" tanya kakek lembut. Lisa menarik napas samar lalu tersenyum. Dia tahu kakek ini orang baik. Meski begitu, tentu ia deg-degan karena pernah bertemu dengan beliau saat menjadi dirinya sendiri, bukan Nayora.

__ADS_1


Aksa melirik.


"Iya ..." Lisa mengangguk. Kata sakti itu selalu menyelamatkannya.


"Tidak apa-apa. Kakek mengerti itu." Lisa pun berdiri di samping ranjang. "Bagaimana sikap Aksa padamu, Yora?" tanya kakek mengejutkan. Aksa melirik. Tentu ia sadar bahwa sikapnya sangat tidak peduli pada gadis ini. Dia sedikit gugup menanti kalimat apa yang akan meluncur dari bibirnya.


"Seperti biasa. Kadang baik, kadang juga tidak," kata Lisa membuat kakek dan Aksa sangat terkejut.


"Kamu tidak baik padanya, Aksa?" tanya kakek sudah menatap cucunya marah. Aksa tidak bisa membantah karena dia memang tidak terlalu baik padanya. Lisa melirik. Pria itu menahan marah karena laporannya.


"Namun tidak baiknya Aksa, itu bukan hal buruk kok Kakek," ujar Lisa yang langsung membuat keduanya mengerutkan kening heran.


"Tidak baik, tapi bukan buruk. Lalu apa itu? Kamu pintar membuat teka-teki rupanya." Kakek tidak marah, beliau malah tersenyum.


"Aksa itu sebenarnya perhatian, tapi hanya gengsi saja. Dia suka berpura-pura tidak peduli, Kek." Lisa mengatakannya dengan wajah manis.


"Begitukah?" Kakek melirik pada Aksa yang sebenarnya terheran-heran dengan kalimat gadis ini.


______

__ADS_1


TUNANGAN PALSU


__ADS_2